Connect with us

OPINI

Cuma Satu Kata: Perubahan!

Published

on

10 November 2025


Penulis: Rikson Karundeng


Perubahan: Sebuah Kata Kunci 

Kata Fredy Wowor, kondisi tou Minahasa kini seperti zombi- makhluk yang kelihatan hidup namun sesungguhnya “telah mati”. Tou Minahasa seolah hidup, namun tak lagi dihidupkan oleh cara berpikir Tou Minahasa yang sesungguhnya. Apa yang membuat sehingga kondisi tou Minahasa menjadi tragis seperti itu? Rangkaian perjalanan sejarah yang panjang mengurai kisah tragis tentang bagaimana jati dirinya direnggut. Tragedi itu bermula ketika kolonialisme dan imperialisme Barat merasuki Tanah Malesung, mengonstruksi penduduknya dengan cara berpikir mereka (kanonisasi selera, teks dan nilai-nilai) dan akhirnya memberikan standar moral tentang apa yang baik dan apa yang tidak baik. Menurut Edward Said (2010), orientalisme seperti ini pada hakekatnya merupakan bentuk “legitimasi” atas superioritas kebudayaan Barat terhadap inferioritas kebudayaan Timur.

Pasca era kolonial, tou Minahasa memasuki babak baru dalam era “neo kolonial” dalam sebuah negeri yang bernama Indonesia. Di era ini, selama puluhan tahun tou Minahasa dibius oleh suatu budaya pemerintahan yang otoriter dan sangat dominan dengan mengajarkan suatu budaya yang bersumber pada kebudayaan yang feodalis, baik yang bersifat primitif maupun yang neofeodal, yang punya watak dasar elitis dan paternalistik.

Dalam iklim budaya semacam ini; baik hukum, sistem politik, ekonomi, pendidikan, budaya lokal dan agamapun, mengalami pembusukan, karena secara terang-terangan terkooptasi oleh sifat rezim yang elitis tersebut. Buktinya, politik di Indonesia menjadi represif, ekonomi menjadi eksploitatif, hukum menjadi manipulatif, ilmu (intelektual) menjadi arogan (sombong), adat lokal dipinggirkan (Supit, 2004). Kondisi tou Minahasa kini bahkan semakin parah ketika harus berhadapan dengan makin berkuasanya kapitalisme global dengan penguasaan informasi global  yang kemudian di satu sisi menggiring prilaku sosial tou Minahasa ke arah materialistis kapitalisme dengan spirit hedonisme yang kental.

Kondisi “sakit” tou Minahasa yang semakin memprihatinkan ini, sepertinya membutuhkan penanganan yang serius. Tou Minahasa didesak oleh kebutuhan urgen, obat untuk menyembuhkan tubuh yang telah diserang oleh berbagai virus ganas yang mematikan. PERUBAHAN akhirnya harus menjadi kata kunci. Sebab kondisi ini memang butuh keberanian untuk berubah. Tapi perubahan seperti apa yang dibutuhkan tou Minahasa?

 

Nilai-Nilai Lokalitas Sebagai Dasar Sebuah Gerakan Perubahan

Sebuah anonim Tiongkok kuno berkata, “Budaya jati diri suatu bangsa, ibarat akar utama pohon besar yang memberi hidup kepada seluruh pohon itu; Sekuat atau sebesar apapun pohon itu, bila akar utamanya membusuk, pohon itu akan mati dan tumbang. Demikian juga suatu bangsa, sekalipun bangsa itu sangat modern dan kaya, bila bangsa itu tidak menjaga warisan budaya jati dirinya, maka bangsa itu akan kolaps dan lenyap”. Falsafah ini memberikan gambaran, betapa pentingnya mempertahankan jati diri suatu bangsa, jika bangsa itu ingin tetap hidup. Sam Ratulangi pernah berujar, “Setiap bangsa yang ingin mempertahankan jati dirinya, harus menghargai warisan suci tradisi dan budaya dari para leluhurnya; Kita harus memelihara dan mempertahankan tradisi budaya Minahasa dengan segenap kemampuan dan semangat, karena semangat itu sendiri tidak lain mengandung tradisi dan budaya bangsa Minahasa (Harian Fikiran, 13 Mei 1930).

Kesadaran tentang pentingnya jati diri tou Minahasa ternyata telah ada dalam benak tou Minahasa seperti Om Sam. Karena itu, menurutnya nilai-nilai keminahasaan yang merupakan warisan suci para leluhur, harus dipertahankan bahkan diperjuangkan. Lantas, adakah hubungan antara nilai-nilai lokalitas, tantangan globalisasi dan masa depan suatu bangsa?

The Lexus and The Olive Tree (Friedman, 1999) menjelaskan tentang kekuatan di akhir abad ke-20 yang mengglobalisasi dunia, beserta akibatnya bagi ekonomi, politik, geopolitik, lingkungan maupun kebudayaan. Globalisasi jelas merupakan sebuah ancaman, terutama bagi keberadaan nilai-nilai lokalitas suatu bangsa. Namun dalam pengamatan dan penelitian lebih lanjut dari seorang Thomas L. Friedman, yang kemudian ditungkannya dalam sebuah karya luar biasa berjudul The World Is Flat (2006), ia melihat bagaimana gerak globalisasi ternyata bisa menjadi sebuah ancaman berbahaya bagi kebudayaan local, sekaligus sebuah peluang atau harapan. Menurutnya, fase pendataran dari globalisasi memberi peluang bagi semua yang lokal untuk menjadi global. Nilai-nilai lokalitas justru kemudian bisa menjadi sebuah benteng pertahanan atau kekuatan yang bisa melawan amukan globalisasi. 

Tesis Friedman ini kemudian diperkuat oleh sejumlah ahli seperti Johan Norberg. Norberg dalam bukunya Membela Kapitalisme Global (2009), membenarkan bahwa dewasa ini banyak orang memandang globalisasi sebagai ancaman, namun ia mengubah pandangan itu setelah mempelajari fakta-fakta dramatis yang membuktikan betapa dahsyatnya peluang yang ditawarkan globalisasi bagi dunia. Menurutnya, negara-negara maju saat ini adalah negara-negara yang mempu membuka diri terhadapa globalisasi dan sebaliknya, rata-rata negara terkebelakang adalah negara-negara yang menutup diri terhadap globalisasi. Satu hal menarik, fakta membuktikan bahwa dasar berpijak dari manusia di negara-negara maju itu adalah nilai-nilai lokalitas. Artinya, mereka terbuka terhadap globalisasi, namun mampu mempertahankan jati dirinya atau menjadikan nilai-nilai budaya lokal sebagai kekuatan untuk menghadapi globalisasi. Bangsa Jepang misalnya, “Mereka kini ‘berpakaian jas’, namun semangat yang menjiwainya adalah semangat Bushido”. 

Selain bangsa Jepang, sejumlah bangsa lainnya terbukti mencapai kemajuan pesat dalam berbagai bidang beberapa tahun belakangan ini dengan satu rahasia kunci, “Terus menggali, mempertahankan, menjiwai nilai-nilai lokalitas dan mengimplementasikannya dalan setiap gerak dan tindak”. Dua buku yang hadir dalam waktu yang sama: CHINDIA, How China and India Are Revolutionizing Global (Engardio, ed., 2007), India, Bangkitnya Raksasa Baru Asia (2007) dan sebuah karya Robyn Meredith di tahun 2008 yang berjudul The Elephant and The Dragon, memaparkan panjang lebar tentang fenomena kebangkitan India dan Cina yang luar biasa serta pengaruhnya terhadap masyarakat dunia. Tesis-tesis mereka memgambarkan bagaimana India dan Cina berhasil meroket dan meninggalkan bangsa-bangsa lain di dunia. Kini mereka tampil sebagai pesaing yang menggetarkan lutut negara-negara maju lainnya. Bahkan, kedua negara ini dinilai akan mampu menjadi “pemain utama dunia” di era globalisasi. Apa rahasia sukses India dan Cina? Karya-karya di atas membuktikan bahwa bangsa-bangsa di dua negara ini mampu membuka diri terhadap globalisasi, namun tetap mempertahankan tudung budaya warisan leluhurnya.

 

Benteng Kokoh Nilai-Nilai Keminahasaan

Sebelum meninggal dunia, leluhur Minahasa, Toar-Lumimumuut memberikan wejangan yang menjadi aturan hidup orang Malesung. Aturan hidup itu dinamai “Tiwa’ Toar-Lumimuut”. Tiwa’ Toar-Lumimuut tersebut adalah: Sitou peleng masuat (manusia semua sama/sederajat), maleos-leosan (saling berlaku baik), masigi-sigian (saling menghormati), masawa-sawangan (saling membantu), matombo-tombolan (saling menopang), maupu-upusan (saling menyayangi/mengasihi), maesa-esaan (saling menyatu/bersatu). Keturunannya kemudian bersumpah untuk menjalankan amanah tersebut. Di dalam setiap upacara adat Rumages (Rumages dari asal kata reges atau angin, atau kata rages yang bermakna persembahan yang diberikan dengan ketulusan hati dan keutuhan sebagai ungkapan syukur kepada Sang Khalik), keturunannya selalu mengikrarkan kembali Tiwa’ Toar-Lumimuut sambil mengelilingi makam leluhur pertama mereka. Batu bersimbol yang menandai kubur Toar-Lumimuut ini kemudian dikenal dengan “Watu Tiwa’ Toar-Lumimuut” (Waleta Minahasa, Edisi 4 tahun 2010). Dalam perjalanan sejarah, amanat leluhur ini meresap dalam jiwa tou Minahasa, bahkan dalam beberapa momen penting seperti “Peristiwa Watu Pinawetengan” pasca “Peristiwa Mahwetik”, komitmen ini kembali dipertegas.

Nilai-nilai keminahasaan ini kemudian terwujud dalam berbagai praktik hidup tou Minahasa seperti ma-rukup, mapalus, dll., (Siwu, 2000), termasuk dalam sebuah lembaga yang dahulu dikenal dengan “Dewan Wali Pakasaan” (Palar, 2009). Hidup “deng cara ba pikir orang Minahasa”, terbukti mampu menciptakan kesejahtraan bagi tou Minahasa. Sejak zaman Malesung hingga akhir tahun 1900-an, Minahasa merupakan daerah penghasil beras terbesar. Inilah salah satu alasan sejumlah negara adikuasa di zaman itu seperti Portugis, Spanyol dan Belanda, saling berebutan untuk menguasai tanah ini. Namun sistem pemerintahan tou Minahasa dengan “demokrasi” khasnya yang terwujud lewat Dewan Wali Pakasaan, mampu menghalau upaya hegemoni bangsa-bangsa asing itu, termasuk upaya keras para perompak Mangindano dan sejumlah kerajaan sekitar yang terus bernafsu ingin bercokol di Tanah Malesung. Sejarah membuktikan, ketika nilai-nilai keminahasaan yang menjadi benteng pertahanan sekaligus spirit perlawanan tou Minahasa berhasil ditembus, itulah awal sejarah kelam tou dan tanah adat Minahasa.

 

Setitik Asa Bagi Gema Minahasa 

Kalau melihat usianya yang “baru kaluar mayang”, barangkali terlalu dini jika mengatakan Gerakan Mahasiswa Minahasa (Gema Minahasa) sebagai gerakan perlawanan untuk sebuah perubahan. Secara historis, gerakan ini lahir dari sebuah kegelisahan sejumlah tou muda Minahasa yang melihat realitas Minahasa dalam gerak kompetisi bangsa-bangsa seantero dunia di sirkuit globalisasi, Minahasa dalam Indonesia dan terutama tou Minahasa di atas tanah Minahasa kini. Realitas ini kemudian mencelikkan sejumlah tou muda Minahasa (mahasiswa) bahwa Minahasa kini butuh “cuma satu kata: PERUBAHAN!” dan mereka harus menjadi bagian bahkan pelopor dari proses perubahan itu. 

Kondisi organisasi-organisasi mahasiswa baik intra maupun ekstra kampus yang menurut mereka juga dalam kondisi memprihatinkan, merangsang tou muda Minahasa untuk menghadirkan Gema Minahasa sebagai kritik bagi organ-organ ini. Dengan sebuah harapan besar, untuk menjadi mahasiswa Minahasa yang idealis, kritis, kreatif dengan didasari oleh nilai-nilai keminahasaan, Gema Minahasa hadir. “Didasari oleh nilai-nilai keminahasaan” barangkali sebuah hal menarik. Sebab Gema Minahasa adalah gerakan intelektual mahasiswa satu-satunya di Sulut (mungkin di Indonesia) yang berani dan dengan penuh kesadaran menjadikan nilai-nilai lokalitas, dalam hal ini Minahasa sebagai dasar gerakan. 

Berangkat dari sejumlah realitas yang telah dipaparkan di atas, barangkali tidak salah jika kita menaruh harap dan mengatakan bahwa Gema Minahasa adalah sebuah harapan bagi sebuah perubahan untuk tou dan tanah adat Minahasa. Ya, mudah-mudahan jo bagitu!

 

(Bukan) Catatan Akhir

Nilai-nilai lokalitas ternyata bisa menjadi kekuatan besar bagi sebuah bangsa dalam menghadapi tantangan globalisasi. Nilai-nilai lokalitas adalah nilai-nilai warisan leluhur yang sering kita sebut kearifan lokal (local wisdom). Kabar gembira, bahwa Minahasa ternyata memiliki segudang nilai kebajikan yang masih dapat ditelusuri dari berbagai simbol dan ingatan yang tersebar secara lisan maupun tulisan.

Melalui sebuah diskusi dengan seorang tuari di Mawale Movement, Denni Pinontoan, ia berujar bahwa “Local genius sebagai cultural identity, identitas/kepribadian budaya bangsa bisa menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri. Kecerdasan leluhur kitalah yang membuat nilai-nilai baru dari luar bisa diinterpreasi dan dikembangkan bersama nilai-nilai setempat. Memang, nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur tidak melulu dari kebudayaan setempat, tapi juga bisa dari hasil sebuah proses dialog dengan nilai-nilai dari luar. Dan itulah kecerdasan mereka.”

Menurut Pinontoan, kearifan lokal dihasilkan dari sebuah perenungan manusia. Ketika dia hadir bersama komunitas, bersama alam dan interaksi dengan dunia luar, maka nalar dan rasapun mengolah segala yang dia tangkap untuk menjadi sistem nilai. Sistem nilai itulah yang kemudian diterjemahkan dalam wujud material: teknologi, perilaku, kerja, karya seni, dan lain-lain. Semuanya itu adalah untuk merespons dan menghadapi tantangan-tantangan hidup. Itulah proses berkebudayaan manusia. Para leluhur kita juga melakukan itu. Dan kita kini, diwajibkan untuk melanjutkan itu dalam suasana dan waktu yang berbeda tentu. Penggalian, interpretasi, dan revitalisasi terhadap warisan nilai-nilai itu adalah penting untuk menghadapi serbuan nilai kebudayaan lain yang tidak semua benar dalam konteks Minahasa (Pinontoan, Makalah yang disampaikan dalam diskusi budaya “Membongkar Sentralisme dan Imprealisme Kebudayaan” di hotel Tou Dano Tondano, Jumat, 7 Mei 2010 dalam rangka peluncuran majalah Waleta Minahasa).

Tou Minahasa punya modal, untuk bukan hanya saja bisa bertahan berhadapan dengan imperialisme kebudayaan global, melainkan memiliki kekuatan untuk maju. Kearifan lokal Minahasa yang banyak dan masih perlu digali, adalah kekayaan peradaban ini untuk dimaknai dalam konteks sekarang. Nilai-nilai budaya Minahasa yang sebenarnya memiliki kekuatan luar bisa untuk melawan hegemoni kebudayaan global dan juga terutama untuk membangun kekuatan intelektual, moral dan spiritual. Dari segudang kearifan lokal itu, masyarakat bisa bertransformasi untuk menjadi otonom, karena berpengetahuan, bermoral dan berspiritual. Dari kearifan lokal ini tou Minahasa bisa merancang aksi, membangun gerakan, menghasilkan karya, memajukan sistem ekonomi yang hunamis, mempraktikkan politik yang demokratis yang manusiawi demi hidup yang lestari. Juga dengan sistem nilai tersebut, tou Minahasa benar-benar kembali menjadi manusia yang beridentitas Minahasa dalam memajukan tanah ini dan dalam pergaulan dengan masyarakat global. 

Perubahan adalah sesuatu yang hakiki dalam proses kehidupan ini. Kita tidak bisa menghindarinya. Tapi, perubahan yang didorong oleh nilai-nilai kebudayaan sendiri, atau dialektika seimbang dengan nilai-nilai dari luar, bukan saja benar dan baik, tapi kuat serta terarah. Sebab, ke mana kita pergi, apa capaiannya dan apa yang harus kita lakukan, tentu yang lebih tahu adalah kita, tou Minahasa yang memiliki peradaban. Kita bukan baru akan berproses. Kita sedang berproses, dan di tengah jalan, penetrasi kebudayaan asing yang hadir menggoda telah memperlambat proses atau memaksa kita menyimpang dari jalan yang sedang dilalui. Maka, kita perlu berteriak “I Yayat U Santi!”, “Angkatlah pedangmu, dan acungkanlah ke arah musuh!” Musuh kita tak selamanya berbentuk fisik atau material. Wacana yang samar produksi para imperialis sedang mengancam kita. Mari kita lawan itu dengan kearifan lokal, nilai-nilai luhur dari peradaban ini. 

 

*Tulisan ini dibaca dalam ruang orasi pada kegiatan Festival Seni Budaya yang digelar Gerakan Mahasiswa (Gema) Minahasa di kampus Universitas Kristen Indonesia Tomohon pada 20-21 Mei 2021.

** Foto pada tulisan merupakan logo festival 2021 itu, buah dari diskusi Kalfein Wuisan dkk., kemudian dituangkan dalam goresan gambar digital oleh Heince Maahuri.