KISAH
Inovasi Inspiratif Wale 11 dan Wa’sa Lab: Melihat Arsitektur Masa Lalu untuk Masa Depan

2 Desember 2025
“Arsitek kan menata atau membangun ruang hidup. Nah, untuk itu harus ada pemikiran masa depan. Itulah posisi mereka Wa’sa Lab, memikirkan, mengantisipasi masa depan. Jadi, tidak hanya asal bangun rumah, bangun gedung atau apa, tanpa memperhitungkan kelangsungan hidup itu. Dari tempat yang akan dibangun, siapa yang akan tinggal di situ, lalu mereka yang akan tinggal akan selama apa.”
Penulis: Hendro Karundeng
MASA seperti sekarang, siapa yang tidak memahami tentang pentingnya arsitektur? Suatu pengetahuan yang diperoleh turun-temurun, bahkan jauh dari sebelum suatu bangsa terbentuk. Ilmu dalam aspek bangunan yang terus berkembang dan berevolusi hingga sekarang. Suatu komunitas yang berkembang hingga membentuk suatu wilayah, bahkan bangsa, tak akan lepas dari arsitektur.
Peran arsitek yang terus dibutuhkan di mana saja, kini membawa suatu gerakan prosperity yang bertujuan dalam pengembangan suatu infrastruktur wilayah tertentu. Tak hanya itu, para seniman bangunan ini kian bergelut dengan dunia digital, berupaya raih kolaborasi karya dalam bentuk skala yang lebih besar bagi masyarakat.
Hal ini sangat bisa dirasakan di Sulawesi Utara, di mana mahasiswa arsitektur di Bumi Nyiur Melambai berkumpul, curahkan ilmu pengetahuan mereka dalam upaya pembangunan terbaik. Sebuah gerakan bersama lahir, termotivasi dari perjumpaan pada Forum Komunikasi Temu Karya Ilmiah Mahasiswa Arsitektur Indonesia (FKTK IMAI), di mana mereka tergabung dalam Badan Pekerja Rayon 11 (BPR11) Mahasiswa Arsitektur Sulawesi Utara.

BPR 11 Jadi Wale 11
Semangat gerakan yang sempat vakum kurang lebih 3 tahun ini, kembali diinisiasi beberapa arsitek serta akademisi Sulut dengan menggelar Sekolah Wale di tahun 2012. Sebuah kegiatan yang bertujuan menyatukan perspektif mahasiswa di Sulut dalam kerja arsitektur, berlandaskan budaya serta infrastruktur lokal Minahasa.
Ruang bersama ini dihadiri kurang lebih 30 mahasiswa arsitek yang datang dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado dan Institut Teknologi Minaesa (ITM) Tomohon. Dengan kesadaran dan resonansi pola pikir yang sama, berkumpul di Sonder, Kabupaten Minahasa, rumah salah satu akademisi Unsrat, Fredy Wowor.
Lima pemikir ex-BPR 11, Heince Maahury, Theo Manabung, Farid al Asyih Arih, Gery Purukan, Melisa Mamangkey bersama Freddy Wowor, sempat diskusi tentang semangat gerakan yang kini mulai meredup di Sulut. Mereka kemudian merealisasikan visi dan kembali menghidupkan mereka dalam Sekolah Wale.
“Jadi, dulu itu BPR 11 sempat vakum. Terus diisi generasi baru, yaitu generasi saya. Nah, sekitar tahun 2012 beberapa mahasiswa arsitektur membuat satu model sekolah non formal yang dinamakan Sekolah Wale, yang bertujuan sebagai wadah untuk kami berbagi tentang pentingnya arsitektur dalam aspek budaya dan lokalitas,” ujar Heince Maahury, yang kini mengajar di Fakultas Teknik (Fatek) Universitas Negeri Manado (Unima).
Menurutnya, nama Wale 11 mulai muncul di pertemuan itu. Nama yang diambil dari kata Wale yang artinya rumah, serta 11 dari implementasi BPR 11. Satu-satunya BPR dalam forum FK TKI MAI yang menggunakan refleksi lokal sebagai sebutan mereka.
“Dari situ nama Wale11 akhirnya terbawa, terus dinamakan wale karena merupakan rumah besar bagi mahasiswa arsitektur dari beberapa kampus di Sulut,” ujarmya.

Spirit Wale 11
Selepas tahun 2012, BPR 11 yang kini dikenal sebagai Wale 11 terus aktif dalam kegiatan keahlian arsitek di Sulut, bahkan di tingkat nasional. Selain mengikuti kegiatan forum komunikasi nasional yang digelar FK TKI MAI tiap tahunnya, mereka juga terus melakukan advokasi tentang arsitektur lokal dan terus mengambil andil dalam kegiatan kebudayaan.
“Wale 11 mengambil konsentrasi pada penelusuran arsitektur lokal dan turut dalam berbagai kegiatan kebudayaan, mengadakan pameran arsitektur dan instalasi, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, Sekolah Wale dan diskusi-diskusi keilmuan arsitektur maupun yang lintas keilmuan,” jelas Maahury.
Uniknya, Wale 11 tak hanya berfokus terhadap pembangunan, mereka juga turut melaksanakan tradisi dalam konteks Minahasa, baik ritus maupun situs. Maahury menjelaskan, Wale 11 punya pandangan penting terhadap 3 aspek lokal Minahasa, yaitu wanua (kampung), wale (rumah), serta waruga (makam tua Minahasa).
“Kami selalu taruh perhatian terhadap wanua, wale, waruga. Yang kami anggap sangat penting dalam dunia arsitektur, terlebih secara lokalitas. Banyak arsitek sekarang yang mungkin lupa akan hal itu dan kami selalu berusaha untuk mengembalikan tradisi tersebut,” papar Maahury.
Suatu semangat yang mungkin jarang kita temui di forum-forum arsitektur sekarang, suatu prinsip akan kesadaran dalam kembali pulang membangun tanah nenek moyang, spirit Wale 11.
“Dorongan membentuk Wale11 sebagai sebuah identitas baru dari BPR 11 yang punya spirit lokal, juga merupakan wadah bertemu, memikirkan arsitektur dari kacamata kebudayaan di Sulawesi Utara.” tegas Maahury.
Tak hanya itu, mereka juga turut ambil peran dalam dunia literasi dan digital. Buku berjudul ‘Beratapkan Langit Beralaskan Tanah’ dirilis tahun 2014, merupakan catatan-catatan Wale 11. Sebuah karya digital berbentuk film dokumenter tentang arsitektur lokal juga dikerjakan bersama hingga tuntas.
Wale 11 kini jadi wadah bagi mahasiswa arsitek di berbagai universitas di Sulut, di antaranya Unima, Unsrat, ITM, Universitas Nusantara, Universitas Prisma, Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), dan Universitas Sariputra Indonesia Tomohon (Unsrit).

Wa’sa Laboratorium
Seiring berjalannya waktu, Wale 11 kian berkembang dan mulai mendatangkan potensi-potensi baru dalam semangat gerakan mereka. Perjalanan selama 13 tahun kini menjadi titik temu banyak arsitek muda di seluruh Sulut. Forum yang terus berevolusi ini kini memunculkan ruang khusus dalam berbagi gagasan, tanggapi isu-isu terkini, permasalahan dalam dunia arsitektur dalam bentuk laboratorium ide.
“Sebenarnya kalau dihitung perjalanan BPR sudah mulai dari 2010, jadi kalau mau dihitung sampai sekarang sudah 15 tahun. Nah, di tahun ini, evolusi dari Wale11 itu ada pada komunitas baru yang dinamakan Wa’sa Lab. Jadi, mahasiswa yang beberapa tahun lalu di Wale11 kemudian membuat komunitas baru,” ujar Maahury.
Hiskia Tumiwa, salah satu inisiator Wa’sa Lab, seorang arsitek muda asal Amurang, Minahasa Selatan, yang merupakan anggota Wale 11, menjelaskan alasan hadirnya wadah baru ini.
“Dorongan mendirikan Wa’sa Lab, karena energinya sudah berbeda. Wa’sa Lab diisi oleh akademisi, praktisi, arsitek professional, budayawan, seniman dan lain-lain. Visinya menjadi sebuah laboratorium pemikiran, ide dan gagasan, khususnya dalam keilmuan arsitektur yang mendialogkan fenomena serta isu permasalahan lokal maupun global terkait ruang dan kehidupan,” ujar Tumiwa.
Wa’sa Lab sendiri jadi wadah inovatif baru untuk para alumni Wale 11 serta arsitek-arsitek muda di Bumi Nyiur Melambai. Hal ini disampaikan Fredy Wowor, akademisi serta penasehat Wale 11 dan Wa’sa Lab. Menurutnya, Wa’sa Lab merupakan wadah dalam mengantisipasi pembangunan di masa mendatang, dengan kajian dan landasan pembelajaran dari masa lampau.
“Arsitektur itu kan ruang, bagaimana menata ruang itu memperhitungkan masa depan. Sama seperti kita manusia, dengan berpikir ia akan menentukan sikapnya selanjutnya. Begitu juga filosofi dari Wa’sa Lab. Itu jadi tempat mereka membayangkan masa depan terbaik di ruang tertentu,” jelas Wowor.
Landasan infrastruktur yang terus jadi memori bagi masyarakat, terus jadi perhatian Wa’sa Lab. Bahkan menurut Wowor, lingkungan serta ruang tersebut terus jadi landasan dalam arsitektur.
“Arsitek kan menata atau membangun ruang hidup. Nah, untuk itu harus ada pemikiran masa depan. Itulah posisi mereka Wa’sa Lab, memikirkan, mengantisipasi masa depan. Jadi, tidak hanya asal bangun rumah, bangun gedung atau apa, tanpa memperhitungkan kelangsungan hidup itu. Dari tempat yang akan dibangun, siapa yang akan tinggal di situ, lalu mereka yang akan tinggal akan selama apa,“ sambungnya.
Wa’sa Lab kini menunjukkan eksistensi dan konsistensi mereka dengan mengambil andil dalam kegiatan kebudayaan Minahasa serta budaya lokal Sulut, dengan mendorong inovasi serta ide-ide baru dalam dunia arsitek.












