GURATAN
Literasi dalam Gerak Kebudayaan Sulut 2026

4 Desember 2025
“Melalui literasi yang hidup, kebudayaan tidak hanya dikenang, tetapi diaktifkan kembali sebagai kekuatan sosial, spiritual, dan kreativitas yang menuntun Sulawesi Utara melangkah ke masa depan tanpa kehilangan jejak asalnya.”
Catatan Eric Dajoh
Seniman, Budayawan, Staf Khusus Gubernur Sulut bidang Seni dan Budaya
LITERASI dalam Gerak Kebudayaan Sulawesi Utara 2026 dimaknai sebagai proses menghidupkan kembali pengetahuan, nilai, dan ekspresi budaya lokal agar tetap bermakna di tengah perubahan zaman. Literasi tidak hanya dipahami sebagai kemampuan baca-tulis, tetapi sebagai kemampuan memahami, menafsir, merawat, dan mentransformasikan kebudayaan—baik yang hidup dalam tradisi lisan, ritus adat, seni pertunjukan, bahasa daerah, maupun praktik sosial masyarakat.
Gerak kebudayaan menuntut literasi yang aktif dan partisipatif: membaca sejarah dan ingatan kolektif, menulis ulang pengalaman lokal ke dalam medium kontemporer, serta memproduksi narasi budaya yang adil dan berakar.
Di Sulawesi Utara, literasi menjadi jembatan antara warisan Minahasa, Sangihe, Talaud, Bolaang Mongondow, dan komunitas pesisir dengan generasi muda, ruang digital, dan kebijakan publik. Tema ini menegaskan bahwa literasi adalah daya hidup kebudayaan—alat untuk melawan lupa, merawat keberagaman, dan membangun masa depan kebudayaan Sulut yang kritis, inklusif, dan berkelanjutan.

Eric Dajoh bersama sejumlah penulis Komunitas Penulis Mapatik saat melaunching buku “Tumorondek” di Kedai Kelung, Tomohon, 3 Januari 2026.
Literasi dalam Gerak Kebudayaan Sulawesi Utara 2026 berpijak pada kesadaran bahwa kebudayaan bukanlah benda mati, melainkan proses hidup yang terus bergerak, dibentuk oleh ingatan, pengalaman, dan keberanian manusia untuk merawat makna. Literasi, dalam konteks ini, tidak dibatasi pada teks dan buku semata, tetapi mencakup kemampuan membaca tanda-tanda zaman, mendengar suara leluhur, dan menafsir ulang nilai-nilai lokal dalam realitas hari ini.
Sulawesi Utara menyimpan kekayaan pengetahuan yang hidup dalam tradisi lisan, ritual adat, bahasa daerah, seni pertunjukan, musik, arsitektur, serta praktik sosial masyarakat Minahasa, Bolaang Mongondow, Sangihe, Talaud, dan komunitas pesisir. Namun, di tengah arus modernisasi dan percepatan digital, banyak pengetahuan lokal terancam terputus dari generasi penerus—bukan karena ia kehilangan makna, tetapi karena kehilangan ruang literasi.
Kurasi kebudayaan tahun 2026 ini memandang literasi sebagai tindakan kultural: membaca ulang sejarah dari sudut pandang lokal, menulis kembali ingatan kolektif yang lama terpinggirkan, serta menerjemahkan tradisi ke dalam medium baru tanpa mencabut akarnya. Setiap karya, pertunjukan, arsip, dan praktik budaya yang dihadirkan diposisikan sebagai teks hidup—yang dapat dibaca, diperdebatkan, dan dirayakan bersama.
Gerak kebudayaan tidak berhenti pada pelestarian, tetapi bergerak menuju transformasi yang sadar dan bertanggung jawab. Literasi menjadi alat untuk membangun dialog lintas generasi, lintas etnis, dan lintas disiplin, sekaligus membuka ruang partisipasi bagi masyarakat sebagai subjek kebudayaan, bukan sekadar penonton. Dalam ruang ini, anak muda, seniman, tokoh adat, akademisi, dan komunitas lokal bertemu sebagai pembaca dan penulis kebudayaan Sulawesi Utara masa kini.
Narasi kuratorial ini mengajak publik untuk melihat kebudayaan Sulut sebagai pengetahuan yang bergerak—terbuka pada tafsir baru, namun setia pada nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kebersamaan. Melalui literasi yang hidup, kebudayaan tidak hanya dikenang, tetapi diaktifkan kembali sebagai kekuatan sosial, spiritual, dan kreativitas yang menuntun Sulawesi Utara melangkah ke masa depan tanpa kehilangan jejak asalnya. | Latirka Toar |
*Catatan Eric Dajoh pada diskusi “Literasi dalam Gerak Kebudayaan Sulut 2026” dan launching buku “Tumorondek” yang digelar Komunitas Penulis Mapatik di Kedai Kelung, Tomohon, 3 Januari 2026.












