Connect with us

CULTURAL

Melampaui yang ‘Ekstrim’ di Pasar ‘Beriman’

Published

on

20 Januari 2019


Oleh: Denni Pinontoan


Orang-orang lebih tertarik dengan yang ‘ekstrim’ di pasar ini, tapi melewatkan denyut dan makna kehidupan dengan etos yang khas di dalamnya

 

kelung.com – Kota Tomohon, Sabtu, 19 Januari 2019 pagi. Di suatu tempat yang sibuk.

“Bli jo. Doplu ribu satu tampa.”
“Lia jo, tanta. Nda tako gatal. Masih fresko.”
“Bole kurang kwa. Langganan lei,”
“Iyo, langganan yang salalu balanggar.”

Lalu, di lapak yang lain.
“Mo ambe yang mana. Rusuk? Lapis?”
“Kaki berapa?”
“Timbang jo?”
“Tambah akang neh.”

Di bagian lain di ruang yang luas itu orang ramai berkumpul.
“Mari jo. Pilih jo. Baru samua.”
“Tigaplima, so pas itu.”
“Dopuluh jo kwa.”

Lalu, ke sisi yang lain.
“Saplima rica…Saplima rica…”
“Odoh, so turung dang?”
“Makang di tampa, om”
“Odoh, ngana ini bakusedu eh.”

Itu suara-suara para pedagang dan pembeli di sebuah pasar tradisional teramai di Tanah Minahasa. Pasar Beriman Tomohon. Suara-suara yang selalu didengar ketika berbelanja di pasar ini.

Iya, namanya pasar Beriman, pasar ‘ekstrim’ Tomohon, Sulawesi Utara. ‘Ekstrim’ bukan nama resmi pasar ini, ia hanya sebagai julukan. Nama resminya adalah ‘Pasar Beriman’. Pasar ini mungkin boleh dibilang pasar tradisional terbesar di Sulawesi Utara.

Dari mana nama ‘ekstrim’ ini? Rupanya ia terkait dengan apa yang dipromosikan sebagai unggulan dan yang khas di pasar ini, yaitu daging-daging hewan hutan, seperti ular patola (piton), babi hutan, kucing hutan, tikus dan kelelewar. Daging hewan-hewan yang lain adalah kegemaran orang Minahasa pada umumnya, yaitu babi dan anjing (RW). Tidak terlalu jelas sejak kapan julukan itu dipakai bergantian dengan nama ‘beriman’.

Tapi, dapat diduga, julukan ‘ekstrim’ ini muncul bersamaan dengan trend kuliner ‘ekstrim’. Sebuah trend baru di era orang makin terpisah dari akar kulturnya. Daging-daging hewan ternak dan buruan yang dijual di pasar ini adalah bahan mentah untuk kuliner khas Minahasa. Bagi mereka yang hanya datang dan pergi dari ruang Minahasa, lebih gampang menyebut semua yang khas itu dengan istilah bikinan,  ‘ekstrim’. Maka jadilah ‘pasar Beriman’ adalah juga ‘pasar ekstrim’. Namun justru, karena ia ‘ekstrim’ maka pemerintah setempat telah menetapkan pasar itu sebagai salah satu objek wisata. Rombongan turis dari Tiongkok dan Eropa hampir setiap hari ramai berkunjung ke sana.

Lebel ‘ekstrim’, tanpa disadari telah membuat orang-orang yang datang: sebagai turis, pecinta hewan, atau siapa saja yang membawa moral tertentu, melewatkan isi dan makna dari sebuah ruang bernama Pasar Beriman. Setelah mengambil gambar, menilai, merasa jijik, iba dan ngeri, mereka lalu pulang membawa cerita yang telah dibingkai dengan moral tertentu. Cerita-cerita yang tercabut dari ruang asalnya.

Pada hal sebagai lebel, nama ‘ekstrim’ telah menutupi isi dan makna ruang kehidupan bersama itu.

Jualan dan para penjual di Pasar Beriman Tomohon. (Foto: Eka Egeten)

***

Nama ‘Beriman’ untuk nama pasar sama dengan nama terminal di sampingnya. Tidak terlalu jelas arti nama itu. Sangat mungkin ia tidak dalam pengertian kata dasar ‘iman’ yang ditambah awalan ‘ber’ untuk menunjuk pada ‘sikap orang-orang beragama’. Sejak pertengahan tahun 80-an sampai tahun 90-an, di Sulawesi Utara, saya kira begitu juga dengan daerah lain se-Indonesia, muncul trend akronim-akronim sebagai julukan untuk daerah. Kota Manado misalnya disebut kota ‘Bersehati’ (Bersih, Rapih, Sehat, Indah). Makanya, di Kota ini ada nama ‘pasar Bersehati’.

Kota Bitung disebut dengan kota “Selaras” (Serasi, Lancar, Rapi, Aman dan Sejahtera). Nah, Kabupaten Minahasa, di mana pada masa itu Tomohon masih bagian dari wilayah pemerintahannya, julukannya “ Beriman” (Bersih, Rapi, Indah, Mapalus, Aman).

Awal 2000-an, terminal Tomohon yang dulunya di pusat kota, dipindahkan ke lokasi yang lebih luas untuk menampung mobil-mobil angkutan yang banyak. Tahun 2003, pasar yang dulunya berdekatan dengan terminal, juga dipindahkan. Tempatnya berdekatan dengan terminal yang baru. Sejak itu, baik terminal maupun pasarnya sama-sama disebut ‘Beriman’. Nama trayek angkot menandakan itu, misalnya jurusan Kakaskasen-Terminal Beriman. Orang-orang dari berbagai tempat di Kota Tomohon kalau menumpang angkot jurusan pada nama trayeknya tertulis ‘Terminal Beriman’, itu berarti sekaligus dapat langsung ke ‘Pasar Beriman’, pasar ekstrim itu.

Di Pasar Beriman ini para pedagangnya datang dari beragam tempat di Sulawesi Utara dan sekitarnya, beragam agama dan suku. Pembelinya, juga bermacam-macam orang.

Pasar ini tentu bukan yang pertama di Tomohon. Di lokasi lain, pasar di Tomohon sudah dibangun sejak pertengahan abad 19. Pieter Bleeker dalam buku laporan perjalanannya tahun 1855 berjudul, Reis door de Minahassa en den Molukschen Archipel (Batavia, Lange, 1856), menuliskan, pasar di Minahasa terutama di Manado. Pasar yang lainnya terdapat di Amurang, Tomohon, Sonder, Tondano, Kakas, Kema, dan Belang.

“Anda melihat barang-barang yang sama seperti di pasar-pasar utama di Jawa: buah-buahan, kapur, tembakau, sirih, garam, pernak-pernik, ikan, dll,” tulis Bleeker.

Watuseke dalam Sedjarah Minahasa, terbit tahun 1968 menuliskan, sampai tahun 1852 hanya ada tiga pasar yang utama, yaitu Manado, Kema dan Tondano. Jual beli pasar di Manado tahun-tahun tersebut sudah menggunakan uang. Di Tondano orang-orang masih menggunakan sistem dagang tukar atau ruilhandel. Kemudian dibangun pasar di Tomohon dan di tempat lain. Pada tahun 1901 telah terdapat 47 pasar di Minahasa.

Hingga tahun 1960-an, pasar di Tomohon dibuka sebanyak tiga kali seminggu: Selasa, Kamis dan Sabtu. Kini, pasar Beriman Tomohon dibuka setiap hari. Namun yang paling ramai adalah hari Sabtu.

Di pasar ini, para pedagang Minahasa yang kebanyakan Kristen biasanya menjual sayur-mayur, daging-daging hewan dan kebutuhan pokok lainnya. Para pedagang Tionghoa kebanyakan menempati toko-toko yang menjual bahan-bahan bangunan atau sejenisnya. Para pedagang Gorontalo atau Bugis yang muslim menjual pakaian atau kebutuhan rumah tanggal lainnya. Para pedagang ini menempati los-los atau lapak-lapak yang terbagi-bagi sesuai dengan bahan yang dijual, masing-masing di dalam bangunan-bangunan terbuka. Para pedagang Minahasa-Kristen, Gorontalo/Bugis-Muslim dan Tionghoa setiap hari berelasi secara sosial dan ekonomis di pasar yang luasnya kira-kira 1,5 hektar ini.

Pada sebuah tempat, di mana yang ada seolah hanya tentang ‘bagaimana untuk hidup’, perbedaan menjadi sangat cair. Para pedagang muslim setiap hari menyaksikan ‘tukang potong’ daging hewan memikul babi berdarah-darah untuk di bawah ke lapak daging hewan. Para pedagang atau pembeli Kristen tawar-menawar dengan para pedagang perempuan muslim berjilbab. Orang-orang keluar masuk di toko bangunan milik keluarga Tionghoa yang memasang dupa.

Setiap hari pasar ini ribut dengan teriakan para pedagang menjajakan bahan dagangannya. Para pembeli tidak pertama-tama bertanya tentang apa agama atau suku para pedagang ketika berbelanja. Pertanyaan yang selalu ada, dalam bahasa Melayu Manado adalah, “Brapa depe harga…” (Berapa harganya…). Lalu disusul dengan kalimat,“Boleh kwa kase kurang?” (Bolehkah harganya dikurangi?) Bahkan, sangat sering pembeli dengan spontan berujar, “Tambah akang dang…” (Mohon ditambah). Tentu berbelanja di pasar tradisional berbeda dengan di mall atau supermarket. Hubungan di sini masih sangat manusiawi: tawar menawar masih terjadi dalam bahasa khas orang-orang pasar.

 

***

Itulah interaksi, negosiasi dan dialog ala orang-orang  pasar. Mereka, para pedagang atau pembeli adalah orang-orang yang berbeda agama dan suku. Di ruang terbuka, ruang publik seperti pasar ini, relasi begitu cair. Mereka orang-orang biasa. Tidak belajar tinggi-tinggi sampai di perguruan tinggi. Tapi seolah mereka tahu, bahwa di ruang publik macam pasar, yang mesti terjadi adalah relasi sosial, ekonomi dan kemanusiaan. Iman ada di hati, agama ditinggalkan di rumah saja.

Memang, sebagai ruang publik, pasar tidak selalu bebas dari salah paham atau pertengkaran antara sesama pedagang, atau antar pedagang dengan pembeli. Desember tahun 2011 di pasar itu terjadi pembunuhan. Seorang pedagang daging hewan asal Kel. Kamasi, Kota Tomohon beragama Kristen tewas ditikam oleh seorang pedagang lainnya asal Gorontalo yang muslim. Selama hampir satu minggu situasi pasar itu mencekam.

Polisi berjaga dan warga waspada. Beredar isu, bahwa para pedagang Kristen yang lain dan teman-teman korban akan melakukan penyerangan balas dendam kepada para pedagang muslim lain yang disebut ‘pendatang’. Mendengar isu itu, tokoh-tokoh masyarakat, agama dan pemuda serta pemerintah mengeluarkan himbaun untuk tidak melakukan pembalasan dan mendesak pihak kepolisian segera menangkap pelaku. Pelaku ditangkap dan balas dendam tidak terjadi. Tidak berapa lama kemudian situasi pasar itu kembali menjadi kondusif. Hari ini, seolah orang-orang sudah lupa dengan peristiwa itu.

Tahun 2014, Jokowi yang sedang bersiap untuk maju sebagai Calon Presiden datang ke Manado dan seperti biasanya melakukan ‘blusukan’. Ia juga ke pasar ‘Beriman’ Tomohon. Sebuah kejadian lucu dan menggemaskan terjadi. Ketika berdialog dengan pedagang, Jokowi terkejut dengan sebuah suguhan. Seorang pedagang, dengan maksud ‘bakusedu’ (berkelakar) menawarkan si capres hewan tikus yang sudah dibakar bulunya.

“Ini apa?” tanya Jokowi.

“Tikus bakar, Pak,” jawab penjual bernama Lena itu.

Mendengar hal itu, Jokowi yang mengenakan kemeja putih lengan panjang langsung mengangkat bahu dan berseru “Hiiii…”

Jokowi lalu menanyakan harganya:

“Tikusnya Rp 20 ribu, Pak,” kata Ibu Lena.

“Ini enak dimakan?” tanya Jokowi yang terlihat masih penasaran.

“Enak, Pak. Mau beli,” tawar Ibu Lena.

Begitu Andi Muttya Keteng, wartawan Liputan6.com merekam situasi itu dalam laporannya.

Seekstrim-ekstrimnya pasar Beriman Tomohon sehingga dicaci oleh banyak netizen, bagaimanapun ia tetap saja ruang hidup bagi banyak orang dan dicari oleh para pelancong. Sebuah tempat, di mana kehidupan sesungguhnya dijalani: tanpa prasangka, tanpa kebencian. Di pasar Beriman inilah iman orang-orang beragama didialogkan dengan harapan kehidupan.

Ini pasar yang luar biasa. Ia melampaui lebih dari sekadar ruang eksklusif dari standar moral tertentu. Pada hal ini, nama ‘ekstrim’ menjadi bermakna lain.

Jauh-jauh kata ‘ekstrim’ melancong ke sini. Dari abad 15, pada kata Perancis, ‘extreme’ menunjuk pada hal dengan kadar derajat terbesar. Ke belakang, dalam kata Latin, ‘extremus’ berari, ‘terluar’, ‘terjauh’, atau ‘derajat tertinggi’. Arti yang diberi kemudian ia berkembang bermakna ‘melampaui’, yaitu “titik tertinggi dari suatu hal.” Sebuah ‘ujung dari kehidupan’.

Pada makna itu, pasar Beriman adalah ruang untuk mencapai nilai tertinggi dalam kehidupan. Sebuah komunitas yang melampaui batas-batas bingkai, stigma dan lebel. Sebuah ruang di mana kehidupan diusahkan dengan etos tertentu. (*)


Editor: Gratia Karundeng

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *