ESTORIE
Ohiwa Isamu, Tukang Kapal dari Jepang yang menjadi “Raja Cakalang” di Bitung

11 Januari 2026
“Bitung pada akhir 1920-an masih berupa desa pesisir yang sunyi. Desa yang jarang penduduknya. Lautnya luas, pelabuhannya alami, tetapi masa depannya belum terbaca. Kecuali oleh segelintir nelayan Jepang dan seorang tukang kapal dari Aichi bernama Ohiwa Isamu.”
Penulis: Denni Pinontoan
JEPANG tidak datang ke Hindia Belanda pertama-tama dengan senjata. Ia datang lebih dulu dengan jala, timbangan, dan buku dagang. Sejak akhir abad ke-19, selepas Restorasi Meiji, negeri kepulauan di Asia Timur itu bergerak keluar dari keterbatasannya sendiri. Industrialisasi memerlukan bahan mentah, pasar baru, dan jalur laut yang aman. Hindia Belanda yang kaya, luas, dan berada di simpul pelayaran Asia menjadi sasaran yang nyaris tak terelakkan.
Dalam laporan rahasia kolonial Belanda tahun 1938, De Japansche belangen in Nederlandsch-Indië, kehadiran Jepang disebut sebagai sesuatu yang tidak mencolok namun sistematis. Orang-orang Jepang hadir sebagai pedagang, nelayan, teknisi, dan pengusaha kecil. Mereka bukan pejabat negara, bukan tentara.
“Mereka bergerak melalui perusahaan-perusahaan swasta dan kongsi, sehingga kehadirannya tampak sipil dan non-politis,” tulis laporan itu.
Namun di balik itu, tumbuh jaringan yang rapi. Jepang menanamkan kepentingannya di sektor perikanan, kopra, pelayaran, dan perdagangan umum. Perusahaan-perusahaan Jepang sering memanfaatkan celah hukum kolonial: mendaftarkan usaha atas nama penduduk lokal, Arab atau Tionghoa.
“Suatu kecanggihan ekonomi yang patut diperhatikan,” tulis laporan tersebut dengan nada waspada.
Ekonomi ala Jepang di Hindia Belanda berkaitan dengan dua hal: pelabuhan dan nelayan. Bagi Jepang, Hindia Belanda bukan semata sebagai tanah jajahan orang lain, melainkan sebagai ruang laut dan darat yang dapat disusupi perlahan. Dalam ketenangan pesisir dan rutinitas perdagangan, fondasi kehadiran jangka panjang sedang diletakkan.
G.S.S.J. Ratu Langi dalam Indonesia in den Pacifik (1937) menyebut Jepang sebagai aktor Asia pertama yang berhasil memasuki arena ekonomi global dengan kesadaran geopolitik modern. Kebangkitan Jepang, menurutnya, bukanlah peristiwa kebetulan, melainkan hasil dari strategi ekonomi dan perdagangan yang terencana.
“Jepang telah membangun industrinya sedemikian rupa sehingga ia tidak lagi hanya menjadi pasar bagi Barat, melainkan pesaing yang tangguh,” tulis Ratu Langi.
Bagi Ratu Langi, perdagangan adalah fondasi utama kekuatan Jepang. Militer datang kemudian. Ekonomi membuka pintu, politik mengikuti dari belakang. Karena itu, kehadiran nelayan Jepang di pesisir-pesisir Hindia Belanda tidak dapat dipahami sebagai migrasi ekonomi biasa. Ia adalah bagian dari proyek besar Jepang memasuki Pasifik.
Ratu Langi juga melihat bahwa ekspansi perdagangan Jepang ke Asia Tenggara dan Pasifik terkait erat dengan agenda politik Asia.
“Barang-barang Jepang menembus pasar Asia dengan cepat, karena disesuaikan dengan kebutuhan dan daya beli rakyat Asia sendiri,” tulisnya.
Ia mengkritik kolonialisme Barat yang bertumpu pada monopoli dan paksaan, seraya menegaskan bahwa kekuatan ekonomi Jepang tumbuh melalui disiplin nasional dan organisasi modern. Namun, kekaguman itu tetap disertai kewaspadaan terhadap potensi imperialisme baru.
Jepang di Bitung
Di antara pulau-pulau besar Hindia Belanda, Sulawesi Utara menempati posisi yang istimewa. Ia menghadap langsung ke Pasifik, dekat dengan Filipina dan Maluku, serta berada di jalur pelayaran yang menghubungkan Asia Timur dengan Nusantara bagian timur. Bagi Jepang, Minahasa dan pesisirnya bukan pinggiran, melainkan pintu.
“Bitung disebut secara eksplisit sebagai titik penting,” tulis laporan De Japansche belangen in Nederlandsch-Indië (1938).
Pelabuhan kecil di timur laut Minahasa itu belum ramai dan belum monumental, tetapi memiliki kedalaman alami, teluk yang terlindung, serta kedekatan dengan Manado. Ia adalah tempat yang sunyi namun strategis.
Sejak dekade 1920–1930-an, orang Jepang tersebar di Manado, Bitung, Tomohon, hingga Sangihe dan Talaud. Mereka adalah nelayan, pedagang, teknisi, fotografer, dan tukang yang tergabung pada beberapa kongsi. Konsentrasi terbesar berada di Manado dan Bitung.
“Di Bitung terdapat 122 nelayan Jepang,” tulis laporan kolonial itu.
Selain untuk menangkap ikan, kehadiran mereka juga terkait dengan kopra yang dikumpulkan, diproses, dan dikirim ke Manado, Makassar, bahkan ke Jepang. Kapal-kapal Jepang, baik berbendera Jepang maupun Hindia Belanda, menjadi pemandangan rutin. Pemerintah kolonial mencatat dengan hati-hati, “Tidak ditemukan bukti spionase langsung, namun penempatan penduduk Jepang di lokasi-lokasi pesisir yang sepi namun strategis patut dicermati.”
Apa yang dicurigai Belanda itu sesungguhnya merupakan praktik ekonomi modern. B. Markus dalam De Japansche Visscherij in het Oosten van Di Archipel (1930) memandang ekspansi perikanan Jepang sebagai fenomena yang terorganisasi, berbasis teknologi, modal, dan jaringan perdagangan lintas wilayah. Orang Jepang, tulisnya, “tidak sekadar menangkap ikan, tetapi membangun suatu sistem industri perikanan.”
Dalam sistem itu, perikanan cakalang menjadi tulang punggung. Markus secara khusus menempatkan Bitung sebagai simpul utama. Ia menyebut Bitung sebagai tempat pendaratan dan pengolahan ikan yang paling berarti bagi nelayan Jepang di Minahasa. Lokasi strategis, perairan kaya ikan pelagis, dan pelabuhan alam menjadikan Bitung ideal sebagai basis operasi.
Nelayan Jepang di Bitung bekerja dalam kelompok-kelompok terorganisasi di bawah pimpinan kepala kongsi. “Usaha-usaha ini tidak berdiri sendiri, tetapi saling terhubung dalam satu kesatuan perdagangan,” tulis Markus.
Hasil tangkapan utama berupa cakalang dikeringkan atau diasapi sebelum dipasarkan. Cakalang yang dikeringkan menjadi komoditas dagang yang bernilai tinggi dan dapat dipasarkan hingga ke luar Hindia Belanda.
Namun Markus juga mencatat dampak ganda. Di satu sisi, Jepang memperlihatkan kemungkinan modernisasi perikanan. Di sisi lain, nelayan pribumi sering kali hanya terlibat sebagai tenaga kerja, tanpa modal dan akses pasar yang setara. Ketimpangan pun tumbuh di pesisir yang tampak tenang.
Bitung dengan demikian tidak lagi sekadar desa nelayan. Ia kini sedang berkembang menjadi simpul ekonomi, panggung awal pergeseran kekuatan di Pasifik, dan laboratorium tempat ekonomi, politik, dan laut saling berkelindan.
Ohiwa Isamu, “Raja Cakalang” di Bitung
Bitung pada akhir 1920-an masih berupa desa pesisir yang sunyi. “Desa yang jarang penduduknya,” tulis seorang insinyur perikanan Prefektur Kagoshima yang singgah di sana sekitar 1930. Lautnya luas, pelabuhannya alami, tetapi masa depannya belum terbaca. Kecuali oleh segelintir nelayan Jepang dan seorang tukang kapal dari Aichi bernama Ohiwa Isamu.
Isamu Ohiwa lahir pada 1902 di Toyohama, Prefektur Aichi. Ia dibesarkan dalam keluarga Nakagawa, pemilik galangan kapal di Shinkoyasu, Yokohama. Dari kayu, besi, dan mesin kapal, ia belajar membaca laut sebagai ruang kerja sekaligus peluang.
“Ia mengasah keterampilannya sebagai tukang kapal sebelum berangkat dengan sebuah mimpi,” tulis Nagasaki Setsuo dalam Majalah Informasi Sulawesi.
Mimpi itu membawanya ke Palau sekitar 1929, wilayah mandat Jepang di Mikronesia. Dari sana, melalui jalur laut Kobe–Yokohama–Palau–Manado, Ohiwa tiba di Sulawesi Utara.
“Sulawesi Utara terhubung ke Jepang melalui Palau,” tulis Setsuo, menggambarkan benang laut yang menuntun langkah-langkah perantauan Ohiwa.
Di Bitung, Ohiwa melihat potensi cakalang. Ia adalah seorang nelayan, pembuat kapal, dan pengusaha perikanan. Pada pertengahan 1930-an, ia telah menjadi kepala Kongsi Bitung (Kongsie Bitoeng) dan mendirikan Oiwa Gyogyō. Perusahaan ini mengelola penangkapan, pengeringan ikan, perdagangan hasil laut, pabrik katsuobushi, gudang es, galangan kapal, dan dok.
“Ia menjadikan Bitung basis ekonomi Jepang terpenting di Sulawesi Utara,” tulis laporan kolonial.
Ohiwa merekrut tenaga lokal, melatih nelayan Minahasa, dan mentransfer teknologi. Dari sinilah Bitung perlahan berubah.
“Perekrutan penduduk lokal ini pada akhirnya menghasilkan ‘Bitung, kota bonito’,” tulis Setsuo.
Namun relasi itu tidak sepenuhnya setara. Seperti dicatat Markus, penduduk setempat sering kali hanya menjadi pekerja, bukan pelaku utama perdagangan.
Pada 11 Februari 1941, sebuah foto memperlihatkan Ohiwa duduk di barisan depan halaman Konsulat Jepang di Manado pada perayaan Kigensetsu. Ia tampak sebagai pengusaha mapan dan tokoh komunitas Jepang. Surat kabar De Sumatra Post menjuluki Isamu Ohiwa (juga dieja Oiwa) sebagai “Raja Cakalang”.
Dia disebut sebagai pria Jepang yang mendominasi pasar cakalang di seluruh Minahasa. Ia memiliki armada penangkap ikan yang terdiri dari tujuh perahu motor, yang khusus dilengkapi untuk menangkap cakalang. Hasil tangkapannya dalam satu hari sama besarnya dengan hasil tangkapan seluruh armada penangkap ikan Minahasa jika digabungkan!
“Dapat dipastikan bahwa semua cakalang yang disiapkan untuk dikonsumsi di Bitung yang diasap berasal dari pabrik Bapak Oiwa. Lima hingga sepuluh ribu cakalang tiba di sana setiap hari dan langsung dikirim ke pembeli,” tulis De Sumatra Post edisi 14 Oktober 1939.
Tetapi perang akan segera mengubah semuanya. Menjelang awal 1940-an, tanda-tanda perubahan memang mulai terasa di pesisir Minahasa. Dunia yang selama satu dekade bergerak pelan melalui perdagangan, perikanan, dan kongsi-kongsi sipil mulai dikepung kecemasan perang. Di Bitung dan Manado, orang-orang Jepang yang sebelumnya dikenal sebagai nelayan, pedagang, teknisi, fotografer, dan tukang, kini hidup dalam bayang-bayang konflik global yang semakin mendekat.
Pada September 1941, Ohiwa mengambil keputusan yang berat. Ia membawa putra sulungnya, Tomi Oiwa berlayar ke Jepang. Tomi lahir di Manado tahun 1931 dari seorang ibu yang berasal dari daerah setempat. Tomi baru berusia sepuluh tahun. Secara resmi, perjalanan itu disebut sebagai upaya memberi pendidikan Jepang kepada anaknya. Namun, sebagaimana dikenang kemudian, itu jelas merupakan evakuasi darurat. Bahaya perang sudah terasa di udara tropis Minahasa.
Keluarga Ohiwa meninggalkan Manado dengan kapal penumpang-kargo besar melalui Palau, lalu tiba di Kobe. Mereka tidak sendirian. Beberapa pengungsi Jepang dari Sulawesi Utara berada di kapal yang sama. Tatsumi Aoyama, staf administrasi Perusahaan Perikanan Oiwa, yang kelak merawat Tomi di rumahnya di Distrik Setagaya, Tokyo, juga ikut dalam pelayaran itu. Tanpa mereka sadari, kapal tersebut menjadi kapal pengungsi terakhir yang berangkat dari Manado sebelum perang.
Sementara Tomi dan ayahnya menyeberang ke Jepang, ibu Tomi dan adik-adiknya tetap tinggal di Manado. Di hari-hari menjelang pecahnya perang, beberapa karyawan Perusahaan Perikanan Oiwa juga dievakuasi ke Palau menggunakan kapal penangkap ikan cakalang. Adik bungsu Ohiwa, Daihachiro Nakagawa, termasuk di antara mereka. Namun tidak semua pergi. Sebagian karyawan tetap bertahan di Bitung, menjaga operasi seadanya, seolah berharap badai akan berlalu.
Harapan itu sirna pada 8 Desember 1941. Perang Pasifik meletus. Segera setelah itu, semua warga Jepang di Sulawesi Utara, termasuk mereka yang terkait dengan Perusahaan Perikanan Oiwa, ditangkap oleh otoritas Belanda dan diangkut ke Australia sebagai tawanan perang. Pabrik katsuobushi milik Ohiwa dibakar atas perintah pemerintah kolonial. Api melahap bangunan kayu, tumpukan ikan kering, dan satu dekade kerja keras. Beberapa pelaku pembakaran bahkan kelak ditangkap oleh polisi Angkatan Laut Jepang, termasuk awak lokal kapal cakalang. Sebuah ironi dari perang yang memecah kesetiaan dan nasib.
Namun sejarah belum selesai bergerak. Sebulan kemudian, arah angin kembali berubah. Pada 11 Januari 1942, hampir sebulan setelah perang pecah, Pasukan Pendaratan Khusus Angkatan Laut Kekaisaran Jepang melancarkan serangan udara dengan penerjunan pasukan payung di lapangan terbang Belanda di Langowan, dekat Danau Tondano. Pada saat yang sama, marinir Jepang mendarat di Pantai Kema dan Teluk Manado. Dalam hitungan hari, Sulawesi Utara jatuh ke tangan Jepang.
Sejak saat itu, Jepang di Minahasa bukan lagi kongsi-kongsi yang menghimpun nelayan, pedagang, teknisi, fotografer, dan tukang. Jepang kini hadir sebagai kekuatan militer.
Sambil menunggu situasi perang mereda, para karyawan dan kapal nelayan yang sebelumnya dievakuasi ke Palau kembali ke Bitung. Pabrik katsuobushi dibangun kembali dan operasi dilanjutkan. Tatsumi Aoyama juga kembali ke Bitung, meninggalkan Tomi yang masih duduk di bangku sekolah dasar bersama keluarganya di Setagaya, Tokyo. Pelabuhan Bitung, dengan kualitas air minum yang sangat baik, segera dihargai sebagai pangkalan logistik penting bagi militer Jepang.
Dengan investasi dari perusahaan milik negara Nanyo Trading Co., Ltd., industri perikanan cakalang Bitung justru menjadi lebih aktif daripada sebelumnya. Nanyo Trading Co. mengakuisisi Oiwa Fisheries dan membentuk East India Fisheries Company. Dalam struktur baru itu, Ohiwa menjabat sebagai direktur eksekutif—pada dasarnya kepala eksekutif perusahaan—yang bekerja dalam koordinasi erat dengan kepentingan militer. Pada awal musim semi 1945, ketika perang mendekati puncaknya, Ohiwa bahkan memperoleh kapal penangkap ikan berpendingin langsung dari Jepang daratan.
Di tengah intensitas perang, Ohiwa masih sempat melakukan perjalanan pribadi terakhirnya. Pada Mei 1945, ia mengunjungi Tomi di Desa Wada, Prefektur Nagano, tempat anak-anak sekolah dievakuasi dari kota-kota besar. Setelah kunjungan singkat, ayah dan anak itu berjalan bersama menuju stasiun kereta api. Saat itu Tomi belum menyadari bahwa itu adalah perpisahan terakhir. Namun ketika mengenang kembali, ia ingat bahwa gerak-gerik ayahnya seolah mengantisipasi akhir yang tak terucap.
Sepuluh hari kemudian, Ohiwa berangkat kembali ke Bitung dengan Kanagawa Maru, sebuah kapal penangkap ikan berpendingin. Kapal itu tak pernah mencapai tujuannya. Pada 20 Mei 1945, Kanagawa Maru ditenggelamkan oleh pesawat militer Amerika Serikat di lepas pantai Semenanjung Korea. Seorang awak berhasil diselamatkan oleh warga pesisir, tetapi meninggal tak lama kemudian akibat luka parah. Isamu Ohiwa wafat pada usia 43 tahun.
“Mimpinya pupus dalam Perang Pasifik,” tulis Nagasaki Setsuo dengan lirih.
Namun benih yang ditanam Isamu tidak ikut tenggelam. Setelah kekalahan Jepang pada Agustus 1945, industri penangkapan cakalang Jepang memang musnah. Tetapi berkat upaya penduduk setempat dan para pemangku kepentingan, industri ini dihidupkan kembali sebagai fondasi ekonomi kota Bitung. Pelabuhan Bitung, yang semula hanya pelabuhan luar Manado, dikembangkan lebih lanjut, termasuk dengan dukungan Bantuan Pembangunan Resmi (ODA) Jepang.
Desa pesisir yang dulu terpencil itu kini menjelma menjadi pelabuhan utama Indonesia timur. Cakalang menjadi simbol kota. Nelayan Jepang awal periode Showa-lah yang memulai revitalisasi Bitung berbasis cakalang, dengan Isamu Oiwa sebagai figur sentralnya.
Ohiwa Isamu tak pernah menyaksikan Bitung seperti hari ini. Tetapi di setiap dermaga, di setiap kapal cakalang yang berangkat ke laut, jejaknya masih terasa. Sejarah, seperti laut, menyimpan banyak lapisan. Pertemuan orang-orang dari berbagai bangsa, memang kadang-kadang bertabrakan, tapi lebih banyak berjalan bersama. Dan di salah satu lapisan itu, nama Isamu Ohiwa terus berlayar antara Jepang, cakalang dan Bitung.***
==================
Keterangan Foto: Foto tanggal 11 Februari 1941 (Kigensetsu), di halaman depan Konsulat Jepang. Duduk di barisan depan adalah orang dewasa, keempat dari kiri adalah Isamu Oiwa, dan di sebelah kanannya adalah Konsul Jepang di Manado. (Foto hasil restorasi AI dari asli yang dipublikasikan di Majalah Informasi Sulawesi.)













