CULTURAL
Refleksi Pemuda Adat Tomohon

9 Januari 2026
“Di saat dunia terus bergerak maju, mereka memilih berhenti sejenak menoleh ke belakang, merawat yang hampir hilang, lalu melangkah ke depan dengan pijakan yang lebih kuat.”
Penulis: Etzar Tulung
SAAT dunia bergerak semakin cepat, ketika takaran keberhasilan sering kali diukur dari seberapa jauh seseorang melangkah meninggalkan kampung halaman, sekelompok anak muda di Tomohon memilih arah “berlawanan”. Mereka tidak pergi untuk melupakan, tetapi datang untuk mengingat. Tidak menjauh dari akar, melainkan mendekatkan diri pada jejak-jejak leluhur yang hampir terlupakan.
Hal inilah yang dilakukan pemuda adat Tomohon dalam kegiatan refleksi akhir tahun yang digagas oleh Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Pengurus Daerah Tomohon.
Refleksi ini bukan sekadar agenda rutin penutup tahun. Ia menjadi ruang jeda tempat menengok ke belakang, menimbang langkah yang telah diambil, sekaligus menatap ke depan dengan kesadaran yang lebih utuh. Sebuah proses yang bagi pemuda adat bukan hanya administratif, melainkan spiritual dan kultural.
“Kegiatan ini rutin kami lakukan setiap penghujung tahun. Kami merefleksikan apa yang sudah dilakukan selama satu tahun ini, sekaligus merencanakan agenda ke depan,” kata Belarmino Lapong, Selasa, 30 Desember 2025.
Namun, refleksi yang dimaksud Lapong bukanlah rapat evaluasi dalam ruang tertutup. Agenda itu dilakukan dengan berjalan menyusuri situs-situs budaya, mendengar cerita dari para tetua adat, mengikuti ritual dan menempatkan tubuh secara langsung di ruang-ruang yang menjadi pusat spiritual tou Minahasa.
Menegaskan Keberpihakan
Bagi BPAN Tomohon, refleksi akhir tahun ini juga menjadi pernyataan sikap. Sebuah penegasan bahwa organisasi ini berdiri tegak bersama gerakan Masyarakat Adat. Bukan sebagai penonton, apalagi sekadar simbol.
“Kegiatan ini adalah bentuk mempertegas keberpihakan BPAN dalam gerakan masyarakat adat di Tomohon,” lanjut Ketua BPAN Tomohon itu.
Keberpihakan itu diwujudkan secara konkret melalui napak tilas dan ritual adat di sejumlah situs penting dalam peradaban Minahasa, khususnya di wilayah adat Tombulu. Melalui praktik sumigi (menyapa, memberi hormat kepada leluhur) dan upacara adat. Para pemuda diajak menelusuri kembali jejak luhur leluhur mereka. Jejak yang selama ini kerap terpinggirkan oleh narasi pembangunan modern.
Di setiap agenda napak tilas, BPAN Tomohon memastikan keterlibatan komunitas, Masyarakat Adat setempat. Bagi mereka, situs bukanlah objek mati, melainkan ruang hidup yang dijaga, dirawat dan dimaknai bersama oleh komunitas.
“Mendengar para tonaas dan tetua adat bercerita sangatlah penting. Itu menjadi wadah pewarisan cerita dan nilai keminahasaan,” ungkapnya.
Cerita-cerita itu mengalir tanpa teks tertulis, diwariskan dari mulut ke mulut, dari ingatan ke ingatan. Di sanalah pemuda adat belajar bahwa identitas bukan sesuatu yang dicari jauh, melainkan dihidupi setiap hari melalui relasi dengan tanah, sejarah dan komunitas.
Refleksi akhir tahun ini juga menjadi ruang temu lintas organisasi dan komunitas pemuda adat di Tomohon. BPAN bergandengan tangan dengan beberapa organisasi untuk terlibat bersama, di antaranya Komunitas Penulis Mapatik dan Makatana Minahasa Walak Mu’ung.
Keterlibatan mereka memperkaya ruang refleksi. Diskusi tidak hanya soal adat sebagai ritual, tetapi juga sebagai narasi, tulisan dan kerja intelektual dalam kebudayaan.
Di sinilah pemuda adat belajar bahwa perjuangan hari ini membutuhkan banyak medium. Seperti lisan, tulisan, aksi lapangan, hingga konsolidasi organisasi.
Refleksi ini menjadi wadah berkumpulnya pemuda adat Tomohon dari berbagai latar, dengan satu kesadaran bersama bahwa adat bukan masa lalu, tetapi fondasi masa depan.

Menyentuh Situs, Menyapa Komunitas
Setiap situs dikunjungi bukan hanya sebagai lokasi, tetapi sebagai ruang dialog dan pembelajaran. Napak tilas pertama, rombongan pemuda adat disambut Komunitas Toumu’ung Wuaya menuju ke situs waruga Ngantung Palar. Mereka membersihkan rerumputan liar dan mengangkat sampah plastik. Ini sebagai penghormatan kepada leluhur di tempat itu.
Selanjutnya, di situs Nimawanua Woloan. Napak tilas dilakukan bersama Komunitas Siow Pasiowan Woloan. Situs ini menyimpan kisah tentang pemukiman tua, struktur sosial dan perjalanan masyarakat Minahasa di masa lampau.
Sementara itu, di situs Tula’u, pemuda adat bertemu dengan Komunitas Sarongsong Wuaya. Di sana, ritual dan cerita bertemu, mengikat kembali hubungan generasi muda dengan ruang spiritual leluhur mereka.
Melalui keterlibatan langsung komunitas adat, napak tilas ini tidak menjadi kegiatan simbolik. Ia menjadi proses kolektif yang menghidupkan kembali makna situs sebagai pusat spiritual dan kebudayaan Masyarakat Adat tou Minahasa.
Di tengah gempuran stigma dan tekanan modernisasi, keberadaan komunitas Masyarakat Adat sering kali dipertanyakan. Namun refleksi ini justru menunjukkan sebaliknya. Bahwa Minahasa hari ini belum sepenuhnya tercerabut dari akarnya.
“Kegiatan bersama organisasi dan komunitas Masyarakat Adat ini menegaskan kembali bahwa gerakan Masyarakat Adat di Tomohon masih tetap ada dan terus lestari,” tegas Belarmino.
Bagi BPAN Tomohon, situs budaya bukan sekadar peninggalan sejarah. Ia adalah pusat spiritual yang harus tetap eksis dan dilindungi. Perlindungan itu tidak hanya soal fisik, tetapi juga tentang menjaga makna, cerita dan praktik adat yang hidup di sekitarnya.
Kembali ke Akar
Pandangan senada disampaikan Filo Karundeng. Baginya, refleksi akhir tahun ini adalah momen penting bagi organisasi dan pemuda adat secara keseluruhan.
“Buat saya, kegiatan refleksi akhir tahun ini adalah momen yang penting bagi organisasi. Pemuda adat di Tomohon kembali ke akar, situs budaya, ritual dan nilai yang selama ini membentuk kita,” ujar Filo.
Ia menekankan bahwa proses napak tilas dan ritual adat yang dipimpin oleh Wali’an Taroreh dan Tombokan menjadi pengingat bahwa adat bukan sesuatu yang beku.
“Adat itu hidup dan terus berjalan bersama generasinya,” lanjutnya.
Kehadiran Masyarakat Adat dari Sarongsong, Woloan dan Kakaskasen, menurut Filo, menunjukkan bahwa kerja pemuda adat tidak pernah berdiri sendiri.
“Ini menunjukkan bahwa kerja pemuda adat selalu terhubung dengan komunitas dan ruang hidupnya,” katanya.

Menatap Jamnas BPAN
Refleksi akhir tahun ini juga memiliki arti strategis. Ke depan, BPAN Tomohon tengah mempersiapkan diri menuju Jambore Nasional (Jamnas) BPAN 2026. Momentum refleksi menjadi bekal awal untuk menyatukan langkah dan memperkuat solidaritas.
“Pemuda adat harus datang ke ruang nasional dengan identitas yang kuat dan arah yang jelas,” ujar Filo.
Identitas itu, bagi mereka tidak dibentuk secara instan. Ia ditempa melalui proses panjang berjalan di tanah leluhur, mendengar cerita tetua, merawat situs, dan membangun konsolidasi dari tingkat lokal.
Pemuda adat harus tetap terus belajar bahwa masa depan tidak harus meninggalkan masa lalu. Justru dari sanalah arah ditentukan. Dan di Tomohon, di kaki Minahasa, langkah-langkah itu terus diayunkan. Perlahan, tetapi pasti.
Pesan Orang Tua, Konsisten Bergerak
Setelah beberapa jam melakukan napak tilas di sejumlah situs, akhirnya rombongan pemuda adat tiba di Galeri Sinarongsongan Wene’ dan pemimpin Komunitas Budaya Sarongsong Wuaya, Vian Wuwung yang akrab disapa Tonaas Vian.
Mereka sepakat untuk mengakhiri perjalanan itu dengan duduk diskusi. Bagi sebagian orang, pilihan itu tampak sederhana disebut akhir sebuah perjalanan. Namun di balik kesederhanaannya, justru tersimpan makna besar tentang keberanian melawan arus zaman.
Secara sadar, dari sekian banyak tokoh yang ada di Tomohon, mereka lebih memilih datang ke rumah tersebut. Kalimat itu tidak sekadar pernyataan, tetapi pengakuan akan sebuah kepercayaan bahwa rumah, ruang dan orang-orang yang menjaga tradisi adalah pusat perlawanan kultural di tengah modernitas.
Bagi generasi yang lebih tua, kehadiran anak-anak muda ini menumbuhkan perasaan yang bercampur antara bangga dan cemas. Bangga karena masih ada generasi penerus yang peduli, cemas karena jumlah mereka tidak banyak.
“Saya secara pribadi merasa bangga dan senang, bahwa sampai hari ini masih banyak anak muda yang fokus menjaga dan melestarikan budaya tou Minahasa,” ujar Vian.
Kebanggaan itu lahir dari kesadaran bahwa budaya bukanlah sesuatu yang otomatis bertahan. Ia hidup karena dirawat dan bertahan karena diperjuangkan. Karena di era modern seperti sekarang ini, perjuangan itu menjadi semakin berat.
Tak bisa dipungkiri, zaman telah berubah. Anak muda kini tumbuh dalam dunia digital, di mana teknologi membuka peluang tanpa batas. Pergi ke kota besar, bahkan ke luar negeri, menjadi impian banyak orang. Kampung sering kali dipandang sebagai tempat yang tertinggal, bukan ruang masa depan.
“Mungkin bagi sebagian anak muda, budaya sudah tidak penting. Tapi teman-teman yang ada saat ini sangat berbeda,” ungkapnya.

Datang untuk Mengingat, Pulang untuk Merawat
Kunjungan para pemuda adat ke rumah pelaku budaya bukan sekadar silaturahmi. Ia adalah proses belajar yang sunyi tentang nilai sejarah. Tentang cara hidup orang Minahasa yang berakar pada hubungan dengan alam dan leluhur.
Wuwung berucap, sangat mengapresiasi para pemuda adat yang telah datang ke Watu Tula’u Tou Sarongsong, sebuah situs yang bukan hanya menyimpan batu dan tanah, tetapi memori kolektif sebuah komunitas. Di tempat itu, sejarah tidak tertulis di buku, melainkan hidup dalam cerita, ritual, serta ingatan turun-temurun.
“Secara pribadi, saya ingin menyampaikan terima kasih bagi teman-teman yang sudah datang berkunjung,” lanjutnya.
Ungkapan terima kasih itu sederhana, tetapi mengandung pengakuan bahwa kehadiran anak muda adalah bentuk penghormatan tertinggi bagi budaya.
Ia berharap, ke depan, semakin banyak anak muda yang menyadari bahwa menjaga budaya bukan berarti menolak kemajuan. Justru sebaliknya, budaya memberi pijakan agar kemajuan tidak kehilangan arah.
Di Tomohon, gerakan pemuda adat bukanlah fenomena sesaat. Ia tumbuh perlahan, melalui perjalanan panjang, dari diskusi kecil dan kerja-kerja sunyi yang jarang mendapat sorotan.
“Harapan secara khusus untuk di Tomohon, gerakan pemuda adat akan tetap terus berjalan,” ujar Vian.
Harapan itu bukan tanpa dasar. Selama ini, sudah banyak kegiatan yang dilakukan secara konsisten oleh anak-anak muda.
Salah satu yang paling menonjol adalah agenda napak tilas ini. Dalam kegiatan tersebut, para pemuda berjalan menyusuri situs-situs budaya, membersihkannya dari semak dan sampah, serta menghidupkan kembali ritual adat yang lama tak dilakukan.
Mereka melakukan upacara adat, menyapa leluhur. Membangun kembali hubungan spiritual dengan tanah yang mereka pijak. Bagi sebagian orang modern, kegiatan semacam ini mungkin dianggap tidak relevan. Namun bagi mereka yang terlibat, inilah cara menjaga keseimbangan hidup.
“Mereka juga ikut ambil bagian dalam perbaikan situs yang rusak,” tambahnya.
Tanpa anggaran besar, tanpa fasilitas mewah, kerja itu dilakukan dengan gotong royong dan kesadaran.
Dalam banyak komunitas adat, peran orang tua sering kali dominan. Namun di Tomohon, sebuah pola baru mulai terlihat. Orang tua lebih banyak memberi arahan dan dorongan, sementara anak muda menjadi penggerak utama.
“Kalau mengharapkan orang tua, kebanyakan kami tinggal memberi petunjuk. Tapi anak muda yang aktif bergerak,” katanya.
Wuwung menyebut kondisi ini sebagai sesuatu yang sangat baik. Anak muda membawa energi, kreativitas dan keberanian untuk mencoba hal baru. Mereka memanfaatkan media sosial untuk mendokumentasikan kegiatan, mengajak teman sebaya dan memperluas jaringan. Budaya yang dulu hanya hidup di ruang ritual, kini juga hadir di ruang digital tanpa kehilangan makna.
Secara pribadi, ia mengapresiasi gerakan pemuda adat di Tomohon. Apresiasi itu bukan basa-basi, tetapi pengakuan bahwa masa depan budaya ada di tangan mereka yang masih muda.
Antara Harapan dan Realita Kehidupan
Meski semangat terus menyala, realitas di lapangan tidak selalu mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah soal dukungan, terutama dari pemerintah.
“Saya berharap akan ada dukungan pemerintah dalam upaya melestarikan tradisi dan budaya di Tomohon,” ujarnya.
Wuwung menegaskan, bantuan pemerintah sangat penting. Dana, fasilitas dan terutama kebijakan yang berpihak dapat memperkuat gerakan yang sudah ada. Namun ia juga mengingatkan, ketergantungan bukanlah solusi.
“Kalau ada bantuan pemerintah, itu sangat bagus. Tapi torang harus jemput bola, jangan menunggu,” kata Vian tegas.
Masalah klasik sering muncul. Semangat ada, tetapi modal kurang. Banyak kegiatan bergantung pada swadaya. Anak-anak muda rukup (patungan), meminjam alat, bahkan memberikan waktu dan tenaga tanpa imbalan.
Jika di Tomohon secara umum gerakan pemuda adat masih terlihat hidup, kondisi khusus di wanua Sarongsong justru menggambarkan tantangan yang lebih berat.
“Kalau di kampung Sarongsong, saat ini anak muda yang suka terlibat dalam gerakan kebudayaan sudah sangat sedikit,” ungkapnya prihatin.
Banyak anak muda memilih pergi ke luar daerah. Mereka yang tersisa sering kali sibuk dengan urusan masing-masing. Budaya perlahan menjadi urusan segelintir orang tua.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dalam konteks tou Sarongsong, tidak banyak yang benar-benar serius bergerak di bidang budaya, terutama dari kalangan muda. Padahal tanpa regenerasi, tradisi akan berhenti pada satu generasi.
“Sehingga diperlukan juga ada yang menginisiasi untuk bergerak,” katanya.
Menurut Tonaas Vian, inisiator menjadi kunci penting agar seseorang atau sekelompok orang mau memulai, meski jumlahnya sedikit.

Peran Orang Tua Menjaga Api Tetap Menyala
Bagi mereka yang sudah lebih tua, menyerah bukanlah pilihan. Meski tenaga tak lagi sekuat dulu, semangat untuk menjaga tradisi tetap ada.
“Kalau kami yang sudah orang tua, sebagai pelaku budaya, terus mendorong dan memberi dukungan bagi anak muda,” ujarnya.
Dukungan itu hadir dalam berbagai bentuk. Seperti cerita, nasihat, doa dan keteladanan. Orang tua menjadi penjaga nilai, sementara anak muda menjadi pelaksana di lapangan.
Namun dari semua itu, ada satu pesan yang paling ditekankan adalah tetap konsistensi.
“Satu yang paling penting adalah konsistensi,” kuncinya.
Tradisi budaya tidak bisa dijaga dengan kegiatan sesekali. Ia membutuhkan kesetiaan jangka panjang. Bahkan butuh orang-orang yang mau hadir, meski tidak selalu mendapat apresiasi.
Napak tilas tahun 2025 pemuda adat di Tomohon adalah potret kecil dari perjuangan besar menjaga identitas di tengah perubahan. Mereka mungkin tidak banyak, tetapi langkah mereka berarti.
Di saat dunia terus bergerak maju, mereka memilih berhenti sejenak menoleh ke belakang, merawat yang hampir hilang, lalu melangkah ke depan dengan pijakan yang lebih kuat.
Sebab bagi mereka, masa depan tidak harus dibangun dengan melupakan masa lalu. Justru sebaliknya, masa depan yang kuat lahir dari ingatan yang terjaga. Selama masih ada anak-anak muda yang mau datang belajar dan bergerak, nyala api leluhur itu akan tetap hidup di Tomohon dan tanah Minahasa.












