ECONEWS
Tangis Marawuwung: Hutan Memberi dan Air Menghidupi, Perusahaan Tambang Membunuh

3 Januari 2026
“Lingkungan semakin tercemar. Banyak hal yang dirugikan dari dampak ini. Saatnya berjuang untuk kepenting banyak orang, bukan individu. Ruang hidup kita sudah dirampas, sumber hidup kita sudah dicemari.”
Penulis: Omega Pantow
MARAWUWUNG merupakan kawasan hutan yang terbentang panjang dari Desa Kokoleh Dua, Kokoleh Satu dan Paslaten di Kecamatan Likupang Selatan, Kabupaten Minahasa Utara. Hutan yang kaya akan akan hasil alam, hasil buminya menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di wilayah ini.
Masyarakat mengolah tanahnya dengan menanam berbagai jenis tumbuhan, mulai dari kelapa, cengkih, pala dan berbagai tanaman lain yang menjadi kekuatan untuk menopang ekonomi. Selain itu, mereka menggarap lahan dan menanam tumbuhan yang menjadi kebutuhan pokok seperti padi, sayur-sayuran, umbi-umbian dan kacang-kacangan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Kelebihannya dijual di pasar sebagai bagian dari mata pencarian untuk kebutuhan hidup lainnya.
Berbagai jenis kayu ada di kawasan hutan Marawuwung, seperti kayu nantu, cempaka, kenanga, ada juga kayu endemik yaitu kayu kolintang. Bukan hanya itu, kawasan hutan Marawuwung menjadi tempat berburu marsyarakat. Mereka mecari babi hutan dan jenis binatang hutan lainnya.
Kuala (sungai) Marawuwung menjadi sumber mata air untuk para petani atau masyarakat yang ada di kebun. Air digunakan untuk semua aktivitas, baik untuk memasak, mencuci pakaian dan peralatan dapur, mandi. Sungai ini menyimpan berbagai jenis hewan, termasuk ikan. Karena itu, kuala Marawuwung jadi tempat penting bagi warga untuk berburu. Hasil buruan dimasak, dan dinikmati sebagai lauk yang menyehatkan.
Sejak dahulu, orang-orang yang datang beraktivitas apapun di kebun tidak pernah membawa air dari rumah. Biasanya mereka langsung ambil dan minum dari kuala Marawuwung.

Dari Hutan ke Masa Depan
Kepulan asap dari dapur-dapur penduduk di pagi hari, menyambut hangat matahari. Menandakan bahwa orang sudah bersiap untuk memulai harinya. Memasak air dan menyiapkan makanan untuk keluarga, termasuk bekal yang akan dibawa saat bekerja. Setiap pagi para petani sudah keluar rumah dan masuk hutan dengan sejuta harapan.
Menanam di ladang seperti menanam harapan. Dari hasil alam, masyarakat bisa membuka usaha, membangun rumah dan yang paling utama para orang tua dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai ke jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Banyak orang sukses di bidangnya masing-masing dari hasil alam di hutan Marawuwung. Hutan ini benar-benar memberi peluang, bukan hanya untuk hidup tetapi untuk bermimpi lebih tinggi.

Kondis air Sungai Marawuwung kini.
Mata Air Menjadi Air Mata
Hari ini, segala harapan, mimpi yang tinggi kini mulai terguncang dan hanya menjadi bayangan masa lalu. Hutan yang penuh dengan pepohonan hijau, air yang bersih tidak ada lagi. Sekarang, sejauh mata memandang, semua tampak tandus. Tidak ada lagi pohon-pohon, yang terlihat hanyalah lahan gundul dari deforestasi. Buak kecut dari eksploitasi perusahaan tambang PT Meares Soputan Mining (MSM) dan PT Tambang Tondano Nusajaya (TTN) yang terus meluas.
Tidak ada lagi kehidupan di kuala Marawuwung. Biota yang hidup di aliran sungai ini tidak lagi punya ruang untuk hidup. Air kuala sudah tidak bisa digunakan oleh manusia, karena sudah tercemar akibat perombakan dan pengolahan tambang yang dilakukan oleh perusahaan. Orang-orang yang pergi ke kebun sekarang harus membawa air minum dari rumah.
Dulu, sebelum tambang PT MSM/TTN beroperasi, orang-orang yang ada di kawasan Marawuwung menikmati kerjanya di ladang dengan ditemani bunyi air sungai, suara burung-burung yang merdu. Ketika malam tiba, bunyi suara katak ramai terdengar dari kuala Marawuwung. Kini, para petani ditemani dengan bunyi alat-alat berat dan mesin-mesin pengolahan perusahaan tambang, serta suara ledakan bom (blasting).
Kondisi itu membuat masyarakat takut untuk beraktivitas di Marawuwung. Mereka yang dulunya masuk hutan tidak perlu izin dari siapapun. Sekarang masuk hutan yang adalah kepunyaannya, tanahnya, milik masyarakat sendiri, mereka harus minta izin ke pos jaga perusahaan dengan menunjukan kartu identitas.
Bebarbagai dampak dirasakan oleh masyarakat, baik langsung maupun tidak langsung di sepanjang aliran kuala Marawuwung. Dari hulu sampai ke hilir. Desa-desa lain seperti Likupang Satu dan Likupang Kampung Ambong, ikut merasakan dampak langsung perubahan wajah Marawuwung yang sangat merugikan warga.
“Sebelum saya berkebun di sini, air sungai Marawuwung ini bersih, jernih. Tidak seperti sekarang kelihatan putih, tapi putih susu. Jika hujan, yang lewat bukan lagi air yang mengalir tapi pece (lumpur),” kata opa Ben Nelwan, saat diwawancarai pada 14 Oktober 2025, di kebun miliknya yang berada di wilayah Marawuwung.
Ia mengisahkan bagaimana nasib tragis yang harus dialami didirnya sebagai seorang petani akibat air sungai Marawuwung yang telah tercemar.
“Satu contoh, saya tanam nilam kemarin bulan September. Karena tidak tahu persis air di sungai kabur karena cuaca hujan atau apa, jadi saya ambil air menggunakan mesin untuk menyiram nilam. Akhirnya nilam yang saya siram pakai air Sungai, rusak semua. Kemudian yang bagus ini saya siram pakai air dari got, bukan dari sungai lagi. Jadi petani sekarang kesulitan, termasuk petani yang ada di pinggiran Sungai,” keluhnya.
Situasi yang dialami warga kini, diperjelas Nelwan. Kesulitan yang ada sekarang ini akibat tercemarnya kuala Marawuwung yaitu mereka sudah tidak bisa mandi, mencuci, apalagi menggunakan air sungai untuk memasak. Kalau untuk mencuci dan mandi, sekarang masyarakat memakai air got yang dibuat sumur kecil. Sementara untuk memasak terpaksa harus membawa air dari kampung. Hal ini sangat berpengaruh bagi kondisi ekonomi masyarakat.
“Tahun-tahun sebelumnya ekonomi dapat dikatakan masih bagus dan mencukupi. Pekerja masih leluasa untuk bekerja, sapi masih bisa minum air sungai,” kenang Nelwan.
Kini kisah manis itu tinggal kenangan. Semuanya telah berubah. Petani nilam seperti dirinya harus menikmati mimpi buruk.
“Contohnya nilam saya. Persiapan untuk menanam nilam lumayan besar. Ada tong, pipa dan mesin air yang saya siapkan untuk menyiram tanaman. Tapi karena saya ambilnya dari sungai, nyatanya nilam saya rusak dan ekonomi saya mati. Saya rugi,” ketusnya.

Saatnya Melawan
“Saatnya bergerak”, sebuah postingan Facebook dari akun Ali Bakari menjadi caption yang melengkapi fotonya yang berlatar belakang Pantai. Terlihat ia mengangkat kertas bertuliskan #SAVEMARAWUWUNG. Postingan itu bisa dilihat, 14 September 2025.
Ali Bakari adalah warga Likupang Kampung Ambong yang juga tergabung dalam “Gerakan Likupang Bersatu”. Organisasi masyarakat yang didirikan sebagai ruang perlawanan masyarakat Likupang terhadap perusakan lingkungan, perampasan ruang hidup yang dilakukan Perusahaan, dalam hal ini PT MSM/TTN.
Ali dikenal sebagai sosok yang penuh semangat. Satu masa ia pernah berjuang untuk kepantingan masyarakat di Likupang Kampung Ambong, dengan memprioritaskan tenaga kerja. Sudah banyak orang yang berhasil kerja di perusahaan tambang karena Ali Bakari.
“Sekarang sudah cukup! Perjuangan membantu kawan-kawan bekerja di perusahaan sudah selesai. Saat ini, Ali tidak bisa menutup mata dengan kondisi yang ada,” kata Ali, 8 September 2025.
Matanya benar-benar terbuka. Persoalan masyarakat yang sesungguhnya adalah keruasakan lingkungan yang memberi dampak buruk bagi berbagai sektor kehidupan masyarakat.
“Lingkungan semakin tercemar. Banyak hal yang dirugikan dari dampak ini. Saatnya berjuang untuk kepenting banyak orang, bukan individu. Ruang hidup kita sudah dirampas, sumber hidup kita sudah dicemari,” ucap Ali dengan suara lantang.
Banyak masyarakat yang melakukan perlawanan sejak lama, akan tetapi banyak juga trik perusahaan untuk berupaya membungkam perlawanan masyarakat. Pembungkaman berkedok pemberdayaan, perekrutan tenaga kerja, beasiswa dan sebagainya.
“Saya juga pernah diundang ke kantor Community oleh perusahaan untuk bernegosiasi. Bagian Community Relation yang memfalitasi pertemuan waktu itu. Saya ditawari hal yang sama seperti yang dilakukan perusahaan ke beberapa orang yang melakukan perlawanan sebelumnya. Saya menolak tawaran karena amanah yang diberikan istri dan Aba saya,” kata Ali.
Ancaman, teror dan berbagai bentuk intimidasi telah ia alami. Namun, sebagai pejuang kepentingan rakyat, Ali harus tetap kuat dan konsisten.
“Upaya perusahaan tidak berhenti di saya. Anak saya sampai diikuti di tampat kuliahnya di kampus IAIN Manado, tapi anak saya hanya menjawab ‘Mau pergi atau saya teriak.’ Memang banyak hal yang saya alami dalam menghadapi Perusahaan. Saya diviralkan di media social, hanya ingin mencari keuntungan sendiri dari perusahaan,” ucap Ali sambil tertawa tipis.
Ali bakari terus menyuarakan perlawanan terhadap kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh PT MSM/TTN di media sosial pribadi miliknya. Terlihat dalam postingannya tanggal 6 Oktober 2025. Video pendek yang memperlihatkan aliran kuala Marawuwung di wilayah Kokoleh Satu sudah kering. Foto yang ia posting dilengkapi dengan kalimat “Dalam kondisi apapun IMAN harus tetap di dada, idealis wajib dijaga karena kita petarung juga pejuang bukan penjilat juga pecundang. Tetap katakan LAWAN setiap penindasan dan pembungkaman. Bukan hidup namanya jika hanya makan, tidur dan sholat, sementara di depan mata kezaliman menari berpesta pora”. #GerakanLikupangBersatu #SaveMarawuwung #Marijokalikupang
Dalam percakapan tanggal 22 Oktober 2025, Ali menginformasikan bahwa dia dihubungi salah seorang kenalan yang juga bekerja di PT MSM. Kepadanya disampaikan informasi bahwa pimpinan perusahaan, David Sompie, meminta untuk mengagendakan pertemuan dengan Ali Bakari.
“Apalagi maksud mereka ini? Seperti biasa bujukan untuk pembungkaman, karena postingan di Facebook semakin masif. Tidak hanya saya, tapi kawan-kawan yang lain juga di akun Gerakan Likupang Bersatu,” ungkap Ali.

Harapan di Tengah Kegelisahan
Di tengah kegelisahan yang dialami masyarakat akibat dampak pengolahan tambang PT MSM/TTN di PIT Marawuwung. Dalam beberapa diskusi dengan masyarakat, mereka berharap kuala Marawuwung kembali seperti semula.
Pemerintah diminta tidak boleh menutup mata soal ini. Perusahaan harus memperbaiki pembuangannya, pakai water treatment agar supaya air yang mengalir di kuala Marawuwung kembali jernih.
Kalau perusahaan memperhatikan hal itu sejak awal, diyakini pasti masyarakat tidak akan kehilangan sapi, tanamannya, bahkan mata pencarian di laut. Tapi, kondisi sudah berbeda. Masyarakat sesungguhnya tak ingin lagi ada eksploitasi alam yang merusak dan mengancam kehidupan hari ini serta kehidupan anak-cucu mereka nanti.
“Kuala Marawuwung ini sudah tidak bisa digunakan. Harapan kami, aktivitasi di PIT Marawuwung dihentikan,” kata Opa Nelwan.












