GURATAN
Tou Tumou

19 Desember 2025
“Sako tou, mangere kaicoan wo mangere kaakoan.”
Penulis: Rikson Karundeng
TAK ada kekuatan yang cukup dahsyat di dunia ini yang mampu menahan tumbuhnya kecambah. Padahal, siapapun tahu, kecambah itu lunak, rapuh. Namun pada ujung-ujung akarnya yang lunak itu terdapat kekuatan yang mampu menembus kerasnya batu-batu alam.
Meski gerakannya lambat, ia dengan sabar, tekun, dan pasti mencari jalan, menancapkan akar-akarnya di lapisan-lapisan tanah yang subur. Kala masa berganti, ia menjadi pohon besar dengan batang yang kokoh dan akar-akar yang mencengkram kuat di bumi dan tidak mudah digoyahkan meski gempa menghempas. Satu hal, banyak sekali orang yang kemudian dilindunginya dari teriknya sengatan matahari dan hujan badai yang menghantam.
“Apakah Anda kenal dengan seseorang yang bernama Adolf Hitler?” Jika pertanyaan ini ditanyakan kepada manusia sekarang ini, barang kali sedikit yang akan mengatakan tidak kenal atau lupa-lupa ingat. Anak seorang pegawai rendahan keturunan Jerman ini dilahirkan dalam “Baraunau am” (sebuah rumah tumpangan) di Austria. Hidup susah sejak kecil tak membuat seorang manusia lemah yang kemudian diberi nama Adolf itu menjadi seorang yang pesimistis dan putus harapan.
Dengan segala kekurangannya Hitler tumbuh menjadi seorang pria dewasa dan mulai berkarir di bidang kemiliteran dengan pangkat rendah. Perang Dunia I membuat Hitler berpeluang menunjukkan kemampuannya dan secara perlahan karirnya pun semakin menanjak. 11 November 1918, ketika peletakan senjata (Armistice) ditandatangani, Hitler sedang memangku jabatan sebagai lance-kopral.
Dalam perjalanan hidup selanjutnya, Hitler memutuskan untuk terlibat secara langsung di dunia politik dan pada tahun 1921 menjadi pengurus Partai Pekerja Jerman. Kemampuannya untuk berpidato akhirnya membawa Hitler menjadi ketua partai tersebut dan mengganti nama partai itu dengan nama “National Socialist German Labour Party” (NAZI).
Pada tahun 1929, Partai Nazi memenangi pemilihan umum dan presiden Jerman masa itu Paul von Hindenburg akhirnya melantik Hitler sebagai Perdana Menteri (Chancellor). Puaskah Hitler dengan karirnya kini? Posisi itu ternyata masih jauh dari ambisinya. Hitler pun terus berjuang. Namun berbagai upaya dan kebijakan Hitler untuk meraih ambisinya, ternyata tidak berjalan mulus. Untuk memuluskan ambisinya, terjadilah apa yang kemudian dikenal dengan “The Night of the Long Knives” (Malam Pisau Panjang). Pada peristiwa itu, Hitler membunuh semua penentangnya. Komunis dan Yahudi kemudian disalahkan atas kondisi ekonomi Jerman dan mulailah terjadi pembantaian manusia dalam jumlah yang lebih besar dan sadis.
Ambisi Hitler benar-benar telah membuat dia menjadi hebat dari yang terhebat. Ya, terhebat tingkat kesadisannya. Kerja kerasnya telah membuatnya menjadi seorang yang besar dari yang terbesar. Betul, terbesar jumlah korban manusia yang dibantainya dalam perjalanan sejarah manusia. Ia benar-benar menjadi orang yang terkenal, benar-benar terkenal sebagai manusia yang tidak berperikemanusiaan sepanjang masa.
Siapa yang menyangka, dalam diri seorang bayi mungil dari keluarga miskin bernama Adolf Hitler ternyata tersimpan kekuatan luar biasa yang kemudian membuatnya mampu menembus dinding-dinding keras yang menghalangi perjalannnya. Ketekunan dan kesabarannya telah membuat Hitler tumbuh menjadi sebuah pohon yang besar dan lebat. Sayang, ketika semakin besar dan kuat, ia tak mampu memberi kehidupan dan perlindungan kepada manusia yang lain, tetapi justru menyingkirkan dan membinasakan yang hendak menghalangi pertumbuhannya. Lebih parah lagi, ribuan bahkan jutaan manusia lemah yang jauh berada di bawah telapak kakinya pun dibinasakannya tanpa ampun.
Akibat perbuatannya, pohon besar nan rindang itupun roboh sendiri pada 30 April 1945. Namun sampai akhir hidupnya, dalam diri Hitler sepertinya tak pernah hadir penyesalan. Bahkan ketika bunuh diri, ia masih sempat menyeret pasangan selingkuhnya Eve untuk mati bersama.
Optimisme dalam kesabaran ternyata bisa membuat seorang manusia lemah dapat “memindahkan sebuah gunung”. Kerja keras dalam ketekunan juga dapat membuat kita menjadi lebih besar dari yang terbesar dan hebat dari yang terhebat. Tetapi barangkali yang terpenting, bagaiman dalam proses dan dalam kebesaran itu kita masih tetap tampak seperti seorang manusia, sebagai tou.
Orang Minahasa menerjemahkan orang atau manusia dari kata tou. Tou sesungguhnya bermakna “hidup” atau bahidop. Artinya, manusia yang menunjukkan dia hidup atau bertumbuh. Bukan sekadar perubahan fisik, tapi terutama ekspresi, tutur dan tindakannya adalah “buah” yang menghidupkan. Memberi dampak positif bagi manusia, makhluk hidup lainnya, dan alam raya. Bukan sebaliknya, menghambat dan merusak hidup dan kehidupan.
Salah satu bilangan tua orang Minahasa yang mendokumentasian kata tou, dan sangat dikenal luas adalah “Si Tou Timou Tumou Tou”. Pesan leluhur ini diterjemahkan “Manusia hidup untuk menghidupkan/memanusiakan manusia lain”. Artinya, selama pengembaraan saat melewati jalan singkat di kayobaan (dunia), tou harus konsisten menjadi buah dan memberi buah bagi hidup dan kehidupan semua makhluk dan alam semesta, sebagai bekal hidup di keabadian. Itulah mengapa pesan Om Sam Ratulangi ini sangat penting bagi tou Minahasa.
Hidup untuk menghambat dan mengambil kehidupan manusia yang lain membuat kita tidak berbeda dengan binatang. Barangkali ekor saja yang membedakan kita. Hidup tanpa melakukan sesuatu bisa saja tetap membuat kita tampak seperti manusia, tetapi manusia dalam wujud sebuah patung. Tetapi, hidup untuk menghidupkan manusia yang lain tentu akan membuat manusia itu tampak seperti seorang manusia sesungguhnya.
Karena itu, leluhur Minahasa memberi pesan, “Sako tou, mangere kaicoan wo mangere kaakoan”. Ketika kita di dunia, berbuatlah sesuatu yang ada tujuannya dan raihlah itu. Berjuang untuk hidup dan tetap melihat kehidupan yang lain, sebab tidak pernah ada pesan “Si tou timou tumongko’ tou” (manusia hidup untuk memangsa manusia).












