CERITA
Tiga Sekawan di Taratara dan Si Makalulu

Penulis: Belarmino Lapong
MASA itu, Taratara adalah wanua (desa) yang dikelilingi hutan belantara. Masyarakat banyak menghabiskan aktivitasnya di dalam hutan. Memanen saguer (air nira), mengolah kopra, gula merah sampai berkebun menjadi mata pencaharian masyarakat Taratara. Hutan di sekitar Gunung Lokon adalah area sibuk ketika pagi hingga menjelang malam. Ketika malam tiba, masyarakat pulang ke rumah untuk beristirahat.
Masyarakat Taratara mengenal area hutan Gunung Lokon dengan sebutan “Se Telu Mahtuari” atau “Tiga Bersaudara”. Karena apa, selain puncak gunung Lokon, ada pula yang disebut puncak Kasehe dan puncak Tatawiran. Taratara berada tepat di kaki ketiga puncak ini.
Alkisah di Taratara ada tiga orang anak laki-laki yang bersahabat semenjak kecil. Mereka sangat suka bermain di dalam hutan sekitar kebun kepunyaan keluarga. Banyak hal yang bisa mereka dapatkan di dalam hutan.
Ketika itu sekolah formal seperti saat ini belum ada. Baru ada sekolah-sekolah rakyat yang dikelola oleh para misionaris, baik Katolik maupun Protestan. Jam belajarnya pun belum sesibuk saat ini, yang enam hari berturut-turut bersekolah.
Waraney, Toar dan Johan adalah tiga sekawan yang sehari-harinya menimba ilmu di sekolah rakyat Katolik. Ya, seperti halnya anak-anak usia remaja. Mereka siswa yang tergolong rajin sekolah dan beribadah, tapi mereka pun tak lepas dari perilaku kenakalan remaja pada umumnya.
Suatu hari, tiga orang sahabat ini berencana untuk bermain-main di hutan sekitar rumah. Mereka bersepakat untuk tidak sekolah besok harinya. Toar meminta agar rencana bermain mereka nanti dilakukan sesudah pulang sekolah besok hari, agar tidak menambah masalah di sekolah. Usaha Toar untuk meyakinkan kedua sahabatnya sia-sia. Mereka bersikeras pada rencana awal, tidak akan masuk sekolah besok harinya. Toar mengalah. Dengan ragu mengikuti niat kedua sahabatnya.
Keesokan harinya, dengan rencana yang telah disusun matang, mereka berangkat ke hutan dari pagi hari. Masing-masing membawa perlengkapan pribadi.
Waraney, bertindak sebagai pemimpin rombongan, berada di paling depan. Sambil mengayunkan tongkatnya, membuka jalan dari semak yang menutup jalan. Di akhir rombongan ada Johan. Dari segi usia, dia yang paling tua di antara mereka bertiga. Lebih tua satu tahun dari dua temannya.
Waraney dipercaya kedua kawannya sebagai penunjuk jalan, karena dialah yang akrab dengan hutan. Sehari-hari, setelah pulang sekolah, dia selalu membantu ayahnya ke kebun di wilayah dekat hutan. Jadi menurut mereka, lebih dia tahu jalan dan kondisi hutan.
Sambil berlari-lari dan berkejaran, melompat-lompat melewati batang pohon, mereka semakin jauh ke dalam hutan. Sesekali terdengar erangan sakit saat kaki-kaki tak beralas menginjak batu kecil atau duri, tapi tak jadi penghambat berarti bagi mereka bertiga. Rasa sakit seakan hilang begitu saja. Hutan terasa ramai dengan teriakan sahut menyahut mereka.
Sesekali mereka berhenti ketika melihat buah yang lazim dan terasa lezat dipandang. Saat itu, Johan menyarankan untuk sejenak beristirahat. Tibalah mereka di sabuah, pondok kecil tempat berteduh para peladang. Sabuah itu tampaknya masih digunakan. Selain sebagai tempat berteduh, terlihat pula sebagai tempat mengolah air nira menjadi gula merah.
Wajah mereka terlihat bahagia, pipi yang memerah berpeluh akibat sengatan matahari. Terik matahari sepanjang perjalanan menjadi sejuk karena sesekali terasa terpaan angin sepoi-sepoi yang masuk di sabuah tempat mereka beristirahat.
Saat sedang menikmati buah yang tadi dipetik di sepanjang jalan, mereka kaget dengan teguran kecil yang datang dari belakang sabuah.
”Hoi … mahkura kamu?” seorang laki-laki tua bertanya apa yang sedang dilakukan tiga sekawan ini.
”Rimumez man kaii, zei’kan mahkura”. Spontan Waraney menjawab mendahului kedua teman yang lain. Mereka hanya duduk beristirahat dan tidak melakukan hal lain di sini. Begitu maksud dari Waraney untuk menenangkan si laki-laki tua.
Ternyata sabuah ini milik dari laki-laki tua itu. Yang ia tinggalkan sejenak sembari mengecek beberapa pohon akel, sumber memanen air nira untuk dijadikan gula merah. Pohon akel ini adalah istilah sehari-hari masyarakat Taratara untuk menyebut pohon aren.
Mereka duduk di atas papan pohon kelapa sambil meminum air nira pemberian laki-laki tua pemilik sabuah. Terasa manis dan menyegarkan. Terlihat dari lebah-lebah hutan yang sesekali lewat di wajah mereka karena terpancing manis air nira yang baru saja dipanen.
Bunyi rie-rie, jangkrik hutan mulai bersahutan. Si Laki-Laki Tua mengingatkan untuk pulang sebelum hari gelap, jangan sampai Si Makalulu keluar terlebih dulu.
”Kamu peleng, mawuri-molah. E malolambot’o. Paaz si Makalulu mendo nikamu?”
Si Makalulu, dalam hikayat masyarakat Taratara adalah roh jahat yang hidup di tengah hutan, dipercaya sebagai penyebab banyak orang hilang jalan di hutan. Menjelang malam hari adalah waktu yang selalu diingatkan oleh para orang tua untuk berhati-hati, nanti akan bertemu dengan Si Makalulu di hutan.
Waraney seperti merasa tak percaya dengan nasihat Si Laki-Laki Tua. Mereka pun beranjak pergi dari sabuah. Di tengah perjalanan, Waraney berusaha meyakinkan kedua sahabatnya. Jangan percaya, menurutnya itu hanya sebatas cerita. Buktinya ketika dia selalu ke kebun bersama ayah dan pulang ketika petang, tak pernah mereka bertemu dengan Si Makalulu.
Tampaknya Waraney berhasil meyakinkan kedua sahabatnya. Mereka pun melanjutkan petualangan di hutan.
Tak disadari hari mulai gelap. Bunyi binatang hutan mulai terdengar bersahutan. Sesekali terdengar alunan suara burung manguni. Tak terasa mereka mulai masuk lebih jauh ke dalam hutan. Waraney sendiri tak sadar.
Suasana bahagia dan gembira tiba-tiba berubah mencekam dan menakutkan. Kegelisahan mulai terlihat di wajah mungil mereka. Ternyata Waraney sang pemandu jalan tak tahu jalan pulang. Satu di antara mereka mulai menangis. Toar si paling bungsu memanggil mama dan papanya sambil terisak.
Ternyata kehadiran mereka di hutan telah ditunggu oleh roh jahat, Si Makalulu. Mereka mulai berteriak memanggil-manggil sekira ada orang yang bisa mendengar dan menolong. Mereka tidak bisa menemukan jalan untuk pulang. Setiap kali berjalan berlawanan arah dengan harapan kembali ke jalan pulang, mereka hanya kembali ke jalan yang sama. Malahan lebih masuk ke dalam hutan.
Halus terdengar ada suara yang memanggil mereka. Tapi dari arah kejauhan. Sesekali suara itu terdengar di balik pohon. Sekali mereka mengikuti asal suara itu, tapi nihil, bahkan hampir terperosok ke dalam jurang. Bahagia sirna dalam sekejap, berganti takut dan cemas. Saat itu mereka sadar dan teringat, suara itu bukanlah suara manusia, tapi Si Makalulu, penghuni hutan.
Johan teringat oleh pesan kakek dan neneknya di rumah, kalau mendengar suara apapun di hutan, jangan membalas apalagi mengikuti suara itu. Jika kita membalas, secara tidak sadar kita akan dihantar menuju asal suara. Saat itu, Si Makalulu akan menghantar si pendengar ke tempat asing di hutan, terus berputar dan kebingungan mencari jalan pulang sampai berhari-hari. Tak ingat pulang bahkan tak ingat makan, sampai bahaya tiba.
Tiga sekawan semakin takut dan terus berteriak. Hari sudah gelap. Suasana semakin ramai dengan suara binatang hutan, seakan meredam teriakan mereka. Saat itu pula, Johan berinisiatif untuk mengajak berhenti dan meminta untuk berdoa bersama. Kedua temannya langsung mengiakan ajakan Johan. Mereka berdoa dengan sungguh-sungguh, meminta maaf karena tak mendengar nasihat orang tua, guru dan Si Laki-Laki Tua tadi.
Setelah mereka berdoa, terdengar suara burung Manguni bersahut tiga kali. Dengan yakin, Johan mengajak teman-teman untuk pulang mengikuti langkahnya. Tapi ada beberapa hal yang ia ingatkan, jangan menoleh ke belakang ketika berjalan. Siapapun yang memanggil, jangan menoleh. Tetap yakin dalam perlindungan Yang Maha Kuasa.
Sekian lama mereka berjalan, akhirnya mereka menemukan jalan pulang. Dari jauh terlihat kerlip lampu. Rona bahagia terpancar dari wajah. Mereka sampai di desa. Saat itu pula ketiganya langsung berlarian ke rumah, menjumpai keluarga mereka.
Cerita mereka menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Mengubah sikap hidup ketiga sahabat ini. Saling mengingatkan dan mendukung agar tak akan terjadi di kehidupan mereka selanjutnya.
Pada akhirnya Si Makalulu, penghuni hutan menjadi pengingat untuk tidak melakukan hal berlebihan di hutan. Serta menjadi tanda untuk masyarakat Taratara, mengingatkan satu dengan yang lain, ketika hari mulai gelap, waktunya beristirahat.
*Cerita ini disadur dari cerita rakyat Negeri Taratara.












