Connect with us

CULTURAL

Minahasa Kekal Dalam Lisan, Abadi Pada Tulisan

Published

on

20 Desember 2025


“Minahasa sebenarnya mewariskan budaya dan tradisi itu layaknya bernafas.”


Penulis: Hendro Karundeng


Bernafas Dalam Warisan

MINAHASA suatu etnis, kelompok, suku bahkan negeri di bagian utara Pulau Sulawesi. Tempat berderetnya budaya, cerita, kisah, legenda, tradisi menghidupkan yang kaya dan beragam. Kekayaan yang terus hidup dan dibawa hingga hari ini. Saat orang mungkin berpikir evolusi masa akan mengikis harta warisan leluhur itu, Minahasa justru membuktikan tetap hidup dan beradaptasi di setiap waktu.

Tutur lisan merupakan arteri informasi antar generasi di Minahasa. Saat bangsa Romawi punya Aristoteles sebagai penulis serta filsuf yang karyanya masih bisa dinikmati hingga sekarang, Eropa punya Leonardo Da Vinci dengan karya lukis dan karya mengagumkan lainnya, Minahasa eksis menandai waktu bermodalkan hikmat dalam mewariskan segalanya melalui cerita.

“Minahasa sebenarnya mewariskan budaya dan tradisi itu layaknya bernafas,” ujar seorang pegiat budaya Minahasa, Tonaas Rinto Taroreh, yang masih memegang teguh pengetahuan serta tradisi budaya para leluhurnya.

Taroreh percaya, dalam setiap kata punya nafas yang nantinya akan jadi pelajaran dan pengetahuan bagi orang lain.

Di salah satu situs budaya tertua Minahasa, Watu Pinawetengan, masih bisa ditemui beberapa simbol serta goresan tangan para leluhur. Tapi uniknya, orang Minahasa masih bisa paham dan memaparkan arti dari simbol-simbol tersebut.

Bagaimana caranya mereka paham? Dengan cara apa mereka tahu? Semua itu tak lain merupakan warisan cerita, kisah dan legenda para leluhur dari generasi ke generasi. Bahkan di era modern ini, Minahasa masih bisa menikmati pengetahuan para leluhurnya.

Di Minahasa ada ritus, tanggal 3 di bulan Januari setiap tahunnya. Ritus yang memungkinkan kita berkomunikasi dengan para leluhur melalui seorang perantara, pakampetan atau palukutan. Ritus “Tumo’tol Un Ta’un”, yang dipercaya orang Minahasa sebagai silaturahmi dengan para leluhur dan Sang Khalik, meminta saran dan nasehat dalam memulai tahun yang baru.

Tutur lisan di Minahasa berperan penting dalam pewarisan budaya dan tradisi, dengan mengisahkan dari mulut ke mulut, generasi ke generasi hingga kini. Jarang ditemukan atau sulit didapati catatan dalam bentuk prasasti atau aksara para leluhur di Minahasa.

 

Kekal Dalam Tutur Lisan

Fredy Wowor, sastrawan dan budayawan Sulawesi Utara, pernah berbagi cerita dalam diskusi 20 tahun Mawale, Juni 2025 lalu. Ia mengatakan, pentingnya duduk melingkar, bercerita, berbagi kisah sebab dari sana akan muncul sebuah gagasan yang saling menguntungkan untuk para pendengarnya.

“Mungkin kita tidak sadar, tapi yakin, percaya atau tidak, tepat seperti kita yang berkumpul bercerita tentang budaya. Para leluhur juga pernah ada dalam posisi kita. Mereka duduk bersama bercerita, saling memberi ide serta gagasan dan akhirnya bisa mengambil Keputusan. Berbeda dengan musyawarah, ini hanyalah forum kecil, tapi punya dampak yang tak terkira,” paparnya.

Gerard Tiwow, pegiat budaya asal wilayah adat Mu’ung, tepatnya di Tomohon, mengatakan tutur lisan bagi orang Minahasa merupakan transmisi informasi sejarah yang terus dan masih relevan hingga sekarang.

“Kan orang Minahasa itu tidak punya aksara, tidak ada sistem alphabet. Salah satu bentuk pentransmisian tulisan itu kan tektograf, cuma gambar-gambar simbol yang menjelaskan tentang suatu arti. Itu juga kan tidak seragam. Bisa jadi tidak hanya di Tombulu atau Tonsea yang tampak beda. Contoh di Matani, tidak sama dengan Rumoong Atas misalnya dalam menggambar objek atau orang. Sehingga salah satu bentuk pentransmisian itu dalam bentuk tradisi tutur,” ujar pemuda yang dikenal aktif memperkenalkan budaya Minahasa ke berbagai negara.

Ia juga menjelaskan, dalam tutur lisan orang Minahasa, nilai makna begitu beragam. Seperti metafora yang dileburkan kembali menjadi rincian kalimat atau ungkapan dengan interpretasi pokok yang sama. Tradisi yang akhirnya melahirkan keunikan di setiap wilayah Minahasa, ungkapan yang berbeda dengan tujuan serta makna yang sama.

“Sebagai contoh, misalkan saya mengatakan sepuluh kata tapi yang ditangkap hanya delapan kata dengan makna yang sama. Akhirnya kan setiap genarasi atau setiap orang yang mendengar itu akan berbeda cara tangkapnya, tapi substansinya tetap sama. Tutur lisan itu metode pentransmisian yang sampe sekarang masih relevan. Contoh lain tentang kisah ‘Toar dan Lumimuut’ yang hanya melalui tutur lisan, sehingga punya puluhan bahkan ratusan versi. Hal yang sama soal sejarah pendirian kampung, karena tidak mendokumentasikan itu secara tertulis ketika kampung itu berdiri,” jelasnya.

Tutur lisan masih terus jadi jembatan dalam penyampaian suatu tradisi, kebiasaan bahkan budaya orang Minahasa dalam bentuk kisah dan cerita. Bahkan kini banyak catatan, tulisan hingga dokumen sejarah yang datang dari evolusi lisan hasil wawancara dari para pegiat literasi. Seperti yang dikerjakan Komunitas Penulis Mapatik.

 

Abadikan Nafas Lewat Goresan Pena

Komunitas Penulis Mapatik, salah satu rumah para pegiat literasi di Minahasa yang masih terus mendokumentasikan sejarah lewat tulisan. Pada bulan Desember 2025 ini, Mapatik menginjak usia 1 dekade. Sepanjang waktu itu, mereka sudah menghasilkan banyak tulisan sejarah, tradisi dan budaya Minahasa. Puluhan buku hasil karya para pegiat literasi di Mapatik kini dapat dibaca, ratusan artikel serta catatan bisa kita akses dalam dunia maya.

Gerard Tiwow yang juga tergabung dalam Komunitas Mapatik, sedikit berbagi pandangan tentang pentingnya literasi dalam pewarisan budaya Minahasa. Sebuah pandangan sosial dan akademik tentang pengabadian tradisi bagi para generasi mendatang.

“Kita memvisualisasikan tradisi tutur. Nah, visual itu kan tidak harus dalam bentuk gambar tapi dengan kata-kata yang kita tulis. Ketik dan print, cetak, itu kan sudah menjadi produk dan keluaran dalam bentuk visual atau sesuatu yang bisa dinikmati mata. Seperti perumpamaan saya tentang sepuluh kata yang hanya bisa diartikan delapan kata, cara agar kita bisa mengartikan kesepuluh itu tetap sepuluh yaitu dengan kita tulis. Contoh lain saya membuat tulisan tentang wanua Matani dalam seratus kata, tapi hanya diartikan delapan puluh kata saja, tapi itu tidak mengubah kapasitas dan arti dari tulisan saya yang seratus kata itu,” paparnya.

“Karena itu, pentingnya literasi dan catatan, jadi upaya mencegah adanya distorsi-distorsi dalam setiap tradisi dan sejarah budaya Minahasa di lintas generasi,” sambungnya dengan tegas.

Pentingnya catatan literasi, apalagi dalam pewarisan tradisi dan sejarah budaya bagi orang Minahasa seperti yang diurai dalam tulisan “Menyelami Parepei dan Wale Mapatik, Menguak Rahasia Sejarah” karya Rikson Karundeng, Director Mapatik. Dalam tulisannya, Rikson mencatat pernyataan sejarawan Ivan R. B. Kaunang yang menjelaskan banyak hal terkait pentingnya belajar dan menulis sejarah.

“Kenapa penting menulis sejarah? Menulis sejarah kan bagian dari, kalau sekarang disebut literasi. Tetap saya selalu sampaikan, mari kita belajar misalnya ke kitab-kitab Injil, kepada rasul dan nabi. Karena karya mereka, kita bisa tetap belajar Injil sampai hari ini. Itu kalau kita lihat dari perspektif pengetahuan, itu (Kitab Injil) juga sejarah toh? Sejarah yang suci,” ujar Ivan.

Dalam tulisan itu juga Karundeng mencatat, sejarah itu bagian dari pengarsipan, peninggalan yang sangat berharga. Atau orang kemudian mengutip, ‘Kalau kita tidak tahu sejarah, maka kita tidak tahu tentang sejarah itu, kita akan mengulangi kesalahan yang dilakukan generasi sebelumnya”.

Ia juga menuliskan, pentingnya catatan sejarah yang ditulis langsung oleh mereka yang berada dalam area terkait. Setiap rasa dan frase pasti memiliki ciri khas yang berbeda di setiap daerah.

“Kenapa penting menulis sejarah kita, karena kelokalan itu kita yang paling tahu. Orang lain boleh menulis, tapi insting, rasa, tidak akan sama. Seperti yang saya katakan, susah kalau anda belum membaca kemudian saya terangkan. Tidak akan bisa masuk. Tapi kalau anda sudah membaca, saat saya terangkan, anda langsung mengerti bahwa ini yang saya maksud,” jelasnya.

Meski pewarisan budaya terus hadir dalam bentuk lisan dan tulisan, banyak keterhambatan bahkan kegelisahan yang dirasakan, terlebih khusus para pemuda. Krisis identitas yang kian muncul dari generasi milenial hingga generasi Z, sebuah tantangan bagi para pegiat literasi sejarah budaya Minahasa.

 

Keresahan Tentang Putusnya Keabadian

Salah satu keresahan tentang krisis identitas disampaikan Eliana Gloria, mahasiswi Jurusan Psikologi, Universitas Negeri Manado (Unima). Menurutnya kegelisahan ini kerap ditemui di kalangan generasi Milenial akhir sampai Generasi Z.

“Ada waktu di awal dua puluhan hingga akhir dua puluhan usia, manusia akan mengalami penyesuaian dalam rangka mencari jati diri. Nah, kenapa krisis? Karena hari ini itu informasi diperoleh dari mana saja. Banyak sekali anak muda itu mengalami keputusan mengenai pengetahuan-pengetahuan lokal yang sebenarnya itu adalah tonggak awal memproyeksikan jati diri seorang manusia. Hal ini disebabkan adanya tsunami informasi, banjir informasi sehingga apa yang dianggap generasiku akrab, itu langsung dilekatkan pada diri sendiri. Contoh, fenomena hari ini yaitu gangguan mental. Mungkin hari ini misalnya generasiku bisa terhubung dengan pengetahuan leluhur kita, mungkin akan punya cara pandang dan kebijaksanaan yang berbeda,” ulas aktivis perempuan yang juga aktif sebagai UNICEF Global Girl Leader Advisory Group.

Ia juga membeberkan tentang kendala yang ia temui dalam pewarisan tradisi tidak harus berbasis tulisan, tapi juga bisa dalam bentuk lisan, bentuk digital seperti video, musik serta instrumen berbasis teknologi lainnya.

“Yang harus dilakukan sebenarnya menurut saya adalah pembiasaan tradisi itu dalam kehidupan sehari-hari. Kendalanya kita harus mempelajari itu sesuai kenyamanan kita masing-masing dan itu perlu pengertian diri dalam pemahaman diri masing-masing. Contoh kalau saya metode belajarnya terstruktur, tapi dengan waktu yang fleksibel. Mungkin pendekatan di orang lain juga berbeda-beda, maka diperlukan pemahaman diri terlebih dahulu agar mampu dan mau mempelajari tradisi itu sendiri. Karena kalau kita misalkan nekad untuk belajar tanpa ada pemahaman atau rasa cocok akan pendekatan itu, hanya akan jadi sekadar informasi saja dan tidak menjadi pengetahuan,” papar Gloria yang akrab disapa El.

Menurut El, proses pewarisan budaya tak harus berbatas sebagai tulisan atau ungkapan semata, bisa juga dalam bentuk refleksi tradisi dan budaya lewat dunia maya, sosial media, mengingat perkembangan zaman yang membawa perubahan akan minat generasi muda.

“Lain dari itu mungkin tentang keterbatasannya informasi soal pengetahuan tradisi. Mungkin kalau diperbanyak pendekatan lewat sosial media berbentuk konten akan lebih muda menjangkau banyak orang, yang mungkin awalnya hanya penasaran hingga terpancing dan mau belajar bahkan melacak tentang adanya pengetahuan leluhur dalam warisan lisan maupun tulisan,” sambungnya.

“Kalau setahuku, informasi tentang tradisi atau budaya itu memang ada yang confidential, yang membutuhkan kearifan atau kebijaksanaan untuk membagikan itu dalam ruang public. Tapi sesederhana dialog atau bahasa sehari-hari bisa kita lempar lewat media mainstream dalam bentuk interaktif, video reels Instagram contohnya, juga pendekatan gaya anak muda hari ini, Memang akan butuh effort atau usaha lebih. Tapi berangkat dari kegelisahan anak muda dalam pewarisan tradisi, saya rasa bisa dirumuskan bersama, karena kalau dalam bentuk literasi tulisan atau membaca, sepertinya sekarang generasiku tidak lagi menyukai konten berbentuk tulisan. Hanya segelintir orang saja,” tutup El.

Lepas dari segala kegelisahan yang dialami orang Minahasa, pada umumnya di generasi muda, banyak catatan sejarah berbentuk tulisan sudah beredar selama puluhan tahun untuk dicermati. Begitu juga ungkapan serta kisah-kisah tua yang kuping kita bisa nikmati lewat tutur lisan para orang tua, bahkan dari para leluhur lewat ritus tertentu.