CULTURAL
“Sumicola”, Jejak Global Berpengetahuan

30 Desember 2025
“Di sini, sicola tidak hanya berarti pendidikan formal, tetapi proses pembentukan batin dan watak. Belajar menjahit, belajar berkuda, belajar mengendalikan diri, semuanya dapat disebut sicola. Bahasa Minahasa tidak sekadar meminjam kata sekolah, tetapi menjinakkannya dan memadukannya dengan pandangan hidup lokal.”
Penulis: Denni Pinontoan
KATA “sumicola” atau “sumikola” telah dianggap sebagai bahasa Minahasa asli. Orang-orang Tontemboan berkata, “Sumicola wo numaram in atēta,” artinya “menyekolahkan dan membiasakan hati”, sementara dalam bahasa Tombulu, “Se kokih sikola”, anak sekolah. Namun, kata ini sebenarnya jejak dari sejarah panjang kehadiran bangsa Eropa ke kepulauan ini hingga ke Minahasa sejak abad ke-16.
Dari Skholē ke Escola
Kata yang kini terdengar akrab di telinga—sekolah—sesungguhnya menyimpan perjalanan panjang lintas zaman dan samudra. Jauh sebelum ia dikenal sebagai bangunan berdinding kapur, ruang kelas, atau institusi formal dengan kurikulum dan ijazah, kata ini lahir dari sebuah gagasan yang nyaris paradoksal: waktu luang.
Douglas Harper dalam Online Etymology Dictionary, menjelaskan bahwa akar paling awal kata school berasal dari bahasa Yunani Kuno skholē, yang berarti “waktu luang, jeda dari kerja, atau kesempatan untuk diskusi intelektual”. Dalam pengertian ini, belajar justru dimungkinkan ketika manusia tidak sepenuhnya terserap oleh kerja produktif.
Di kota-kota Yunani seperti Athena, skholē menjadi kondisi ideal bagi lahirnya diskusi filsafat. Waktu luang tidak dipandang sebagai kemalasan, tetapi sebagai prasyarat bagi kehidupan intelektual. Dari sanalah dialog Plato dan perdebatan Aristoteles bertumbuh. Harper menegaskan bahwa makna skholē kemudian bergeser dari sekadar “waktu luang” menjadi “diskusi terpelajar” dan akhirnya menunjuk pada “tempat belajar”. Belajar bukan aktivitas terpisah dari hidup, melainkan bentuk paling luhur dari penggunaan waktu bebas manusia.
Ketika kebudayaan Yunani diserap ke dalam dunia Romawi, skholē berubah menjadi schola dalam bahasa Latin. Perubahan ini menandai pergeseran penting: dari kondisi waktu menjadi komunitas dan praktik sosial. Schola menunjuk pada kelompok murid yang belajar di bawah seorang guru, pada tradisi pengajaran tertentu, bahkan pada aliran pemikiran. Dalam Kekaisaran Romawi, istilah ini juga digunakan untuk lembaga pelatihan administratif dan militer. Namun, inti maknanya tetap: sebuah ruang—fisik maupun simbolik—di mana pengetahuan ditransmisikan dan manusia dibentuk.
Pada Abad Pertengahan Eropa, ketika Gereja Kristen menjadi institusi dominan dalam produksi dan pelestarian pengetahuan, schola semakin dilekatkan pada dunia gerejawi. Sekolah-sekolah katedral dan biara menjadi pusat pendidikan utama. Di sanalah para calon imam belajar membaca, menulis, menafsirkan Kitab Suci, dan memahami tata liturgi. Dalam konteks ini, schola tidak sekadar tempat belajar, tetapi wahana pembentukan iman dan disiplin rohani. Pengetahuan dan keselamatan jiwa berjalan beriringan.
Dari bahasa Latin, kata schola menyebar ke berbagai bahasa Eropa: école (Prancis), escuela (Spanyol), scuola (Italia), schule (Jerman), dan escola (Portugis). Setiap bahasa membawa nuansa fonetiknya sendiri, tetapi makna dasarnya relatif bertahan: tempat belajar, institusi pendidikan, komunitas pengajaran.
Bahasa Portugis memegang peran penting dalam fase berikutnya dari perjalanan kata ini. Pada awal abad ke-16, Portugis menjadi kekuatan maritim global pertama dari Eropa yang membangun jaringan pos dagang dan misi keagamaan di Asia. Penaklukan Malaka pada tahun 1511 oleh armada di bawah pimpinan Afonso de Albuquerque menandai dimulainya kehadiran Portugis yang relatif menetap di dunia Melayu. Malaka bukan hanya pelabuhan strategis, tetapi pusat bahasa dan budaya Melayu yang telah lama berfungsi sebagai simpul komunikasi lintas etnis dan wilayah.
Dalam konteks inilah escola berlayar keluar dari Eropa. Orang Portugis datang dengan membawa salib, kitab suci, dan praktik pendidikan Kristen. Namun, alih-alih memaksakan bahasa Portugis sebagai bahasa utama, mereka justru menyesuaikan diri dengan bahasa Melayu yang telah mapan sebagai lingua franca. Proses adaptasi inilah yang membuka jalan bagi serapan kosakata Portugis ke dalam bahasa Melayu.
Ahmat Adam, dalam tulisannya Portuguese Words in the Malay Language, menyebutkan bahwa pengaruh Portugis dalam bahasa Melayu memang tidak masif secara kuantitatif, tetapi signifikan secara kualitatif. Kata-kata yang bertahan umumnya berkaitan dengan bidang-bidang baru yang diperkenalkan oleh orang Portugis, seperti teknologi maritim, kehidupan gerejawi, struktur sosial, dan pendidikan. Dalam konteks inilah, escola menempati posisi khusus sebagai penanda institusi belajar Kristen Eropa.
Ketika escola diserap ke dalam bahasa Melayu menjadi sekolah, pertama ia membawa bunyi baru, tetapi yang utamanya juga adalah sebuah konsep institusional yang relatif asing. Dunia Melayu pra-kolonial mengenal berbagai bentuk pengajaran: pendidikan adat, pewarisan pengetahuan lisan, serta pengajaran agama Islam di surau dan pesantren, atau papendangan di Minahasa. Namun, Ahmat Adam menegaskan bahwa sekolah dalam pengertian Portugis-Kristen memperkenalkan model ruang belajar yang lebih terstruktur, terikat pada misi gereja, dan berorientasi pada literasi baca-tulis.
Pada tahap awal, sekolah dalam bahasa Melayu merujuk terutama pada tempat pengajaran agama Kristen dan pembelajaran dasar untuk keperluan katekisasi. Anak-anak diajarkan membaca doa, mengenal huruf Latin, dan memahami dasar-dasar iman. Dalam konteks ini, sekolah tidak netral secara religius. Ia adalah bagian dari proyek misi. Hal ini menjelaskan mengapa kata sekolah masuk bersamaan dengan istilah-istilah Portugis lain yang bernafaskan gereja.
Ahmat Adam juga mencatat bahwa kata sekolah hampir tidak ditemukan dalam surat-surat diplomatik resmi para penguasa Melayu kepada raja-raja Eropa. Bahasa Melayu tinggi mempertahankan kosakatanya sendiri dalam ranah politik dan kekuasaan. Namun, di tingkat praktik sosial sehari-hari: di pelabuhan, kampung, dan pusat misi, sekolah justru menemukan ruang hidupnya. Ia bertahan bukan karena dipaksakan dari atas, melainkan karena dibutuhkan di bawah, sebagai penanda institusi belajar baru yang belum memiliki padanan terminologis yang tepat.
Dengan demikian, sebelum kata sekolah mencapai Minahasa, ia telah mengalami serangkaian transformasi makna: dari waktu luang filsafat Yunani, menjadi komunitas belajar Romawi, menjadi institusi gerejawi Eropa, lalu menjadi ruang katekisasi Kristen di dunia Melayu. Setiap lapisan sejarah ini meninggalkan jejak yang tidak sepenuhnya hilang, melainkan terendap dalam makna kata tersebut.
Menjadi Kata Minahasa: Sicola
Orang-orang Minahasa sudah bertemu dengan para pater Portugis sejak pertengahan abad ke-16. Banyak warisan bahasa Portugis yang masih hidup di Minahasa hingga sekarang. Seperti kata “kakantaren”, “mai”, “pai”, dan banyak lagi.
Ketika pengaruh Kristen Belanda dan pendidikan Barat semakin menguat di Minahasa pada abad ke-19, kata sekolah sudah menjadi bagian dari kosakata Melayu yang digunakan luas sebagai bahasa perantara. Namun, seperti semua kata pinjaman, ia tidak masuk ke dalam bahasa Minahasa dalam keadaan utuh dan beku. Ia mengalami proses adaptasi fonetik, morfologis, dan semantik, hingga akhirnya menjelma menjadi sicola, atau sikola: bentuk-bentuk yang hidup dalam berbagai dialek Minahasa.
Salah satu kesaksian awal dan paling konkret tentang proses ini datang dari lapangan praktik, bukan dari kamus. Pada tahun 1893, A. Bolsius, dalam tulisannya “Eenige Mededeelingen over het Tou-Um-Bulu”, termuat dalam Studiën op godsdienstig, wetenschappelijk en letterkundig gebied, jrg. 25), mencatat bagaimana kata asing mengalami pembelokan bunyi dan makna di Minahasa. Dengan anggapan bahwa sicola adalah kata asing, “suatu pembelokan dari school—dan anggapan ini kiranya tidak terlalu berani”, Bolsius menyajikan sebuah contoh yang sangat hidup: sepucuk catatan dari guru sekolah Katolik di Tomohon.
Catatan itu ditujukan “untuk meminta agar pada hari Minggu diumumkan di gereja bahwa masa libur telah berakhir dan bahwa pada hari Senin sekolah akan dimulai kembali.” Isinya, ditulis dalam bahasa Tombulu: “… pahëpahën in sawoho ëndoh e sumikola-moh se kokih sikola …” (“… bahwa besok anak-anak sekolah harus pergi bersekolah …”).
Dari teks singkat ini, Bolsius mencatat berbagai bentuk kata yang beredar dalam praktik sehari-hari: se kokih sikola (anak sekolah), s-um-ikola (pergi ke sekolah), e-s-um-ikola-moh (akan atau harus pergi ke sekolah), hingga ti pa-sikola-an (ke gedung sekolah). Kata sicola tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi akar produktif yang dapat menerima awalan, sisipan, dan akhiran sesuai dengan tata bahasa Minahasa.
Bolsius bahkan menaruh perhatian pada akhiran -moh atau -mou, yang bagi penutur lokal sulit dibedakan antara nuansa masa depan dan masa lampau. Guru sekolah itu—yang “memang dapat menulis bahasa tersebut, meskipun dengan susah payah sebagaimana ia akui sendiri”—kadang menuliskannya dengan cara berbeda pada hari yang berbeda, meskipun maknanya sama. Di sini kita melihat bahasa dalam keadaan hidup: belum distandardisasi, masih cair, dan terus dinegosiasikan oleh penuturnya.
Alb. T. Schwarz dalam Tontemboansch-Nederlandsch Woordenboek (1908) menjelaskan, secara eksplisit bahwa sicola berasal dari bahasa Melayu. Tapi, Schwarz sepertinya tidak terlalu tepat untuk hal ini. Orang-orang Minahasa bisa saja langsung mengakses dari kata Portugis, escola mengingat interaksinya sejak abad ke-16. Ambil contoh, kata yang juga dianggap dari bahasa Minahasa padahal kata Portugis, yaitu “kakantaren”.
Namun, hal lain yang menarik, Schwarz tidak berhenti pada asal-usul etimologis. Ia menunjukkan bagaimana kata ini diproduktifkan dan dimaknai ulang dalam bahasa Tontemboan. Dalam bahasa Tontemboan, sicola bukan kata statis. Ia menjadi akar bagi berbagai bentuk turunan yang menekankan proses. Kata kerja seperti sumicola atau mascola berarti “pergi bersekolah” atau “belajar” secara umum. Sekolah dalam makna Minahasa ini tidak semata bangunan, melainkan dipahami sebagai proses tindakan dan perjalanan.
Schwarz mencatat ungkapan-ungkapan seperti sumicola wo numaram in atēta, “menyekolahkan dan membiasakan hati”. Di sini, sicola tidak hanya berarti pendidikan formal, tetapi proses pembentukan batin dan watak. Belajar menjahit, belajar berkuda, belajar mengendalikan diri, semuanya dapat disebut sicola. Bahasa Minahasa tidak sekadar meminjam kata sekolah, tetapi menjinakkannya dan memadukannya dengan pandangan hidup lokal.
Bentuk nominal seperti pascolaan memang merujuk pada bangunan sekolah, tetapi Schwarz mencatat bahwa bentuk ini justru muncul belakangan, ketika sekolah mulai dipahami sebagai institusi fisik yang permanen. Dalam praktik sehari-hari, yang lebih dominan adalah bentuk-bentuk relasional: kascolaera (teman sekolah), mēkasicola (saling menjadi murid), sinicola (telah belajar). Relasi antarmanusia bersama semesta, yaitu guru, murid, sesama pelajar, alam menjadi pusat makna.
Melalui proses ini, sicola di Minahasa menjadi lebih dari sekadar penanda institusi kolonial atau gerejawi. Ia menjadi konsep hidup. Orang tua mengupayakan anaknya sumicola bukan semata-mata demi status sosial, tetapi agar mereka mampu hidup dalam tatanan baru yang sedang tumbuh: dunia Kristen, dunia administrasi kolonial, dan dunia ekonomi uang. Sekolah menjadi jembatan antara adat lama dan tata hidup baru.
Menariknya, dalam makna Minahasa ini, sicola justru beresonansi kembali dengan makna awal skholē. Mengapa bisa demikian? Ya, karena sebelum kedatangan bangsa Portugis, leluhur Minahasa telah hidup dengan sistem pendidikan holistik papendangan. Para gurunya adalah tonaas, walian dan teterusan. Dalam papendangan murid belajar dalam kehidupan bersama para guru, komunitas dana lam.
Jadilah sicola lebih bermakna papendangan. Belajar dipahami sebagai proses yang menyertai hidup, bukan fase yang selesai di masa kanak-kanak. Seseorang bisa mascola sepanjang hidupnya: belajar keterampilan baru, belajar memahami perubahan, belajar membentuk hati. Ruang belajarnya adalah keluarga, komunitas dana lam. Dengan cara ini, kata sumicola di Minahasa menyimpan lapisan-lapisan sejarah global, sekaligus menghidupkan kembali gagasan kuno tentang belajar sebagai penggunaan hidup itu sendiri.***












