CULTURAL
Taroreh, Mahsasau dan Tradisi Kawasaran

9 Desember 2025
“Ini pesan para leluhur agar terus mempertahankan tradisi sarat nilai yang menghidupkan, dan tetap memelihara semangat itu. Walau kerja kita berat, kalau bersemangat, tetap dapat kita jalani.”
Penulis: Rikson Karundeng
DI AKHIR abad ke-20, kondisi memprihatinkan mendera masyarakat Minahasa. Tradisi budaya suku yang kini “terpisah” dalam tujuh kabupaten dan kota di Provinsi Sulawesi Utara itu, mulai hilang digempur globalisasi dan stigma negatif. Salah satunya, tradisi Kawasaran.
Wadah yang menyimpan banyak nilai, pengetahuan warisan para leluhur itu semakin ditinggalkan. Namun awal tahun 2000-an, secercah harapan muncul dari Warembungan. Salah satu wanua (desa) yang berada di Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa. Kampung halaman tokoh penting kebangkitan Kawasaran di Minahasa kini, Rinto Taroreh, dan tempat lahir Komunitas Adat Waraney Wuaya.
Ritus yang Terekspresi dalam Syair dan Gerak Tari
Kawasaran berasal dari sebuah foso (ritus) yang dikenal dengan mahsasau. Upacara yang sangat penting bagi tou (orang) Minahasa. Kawasaran dari kata kawak yang berarti “melindungi” dan asaren yang berarti “sama seperti”. Jadi, Kawasaran berarti menjadi sama seperti leluhur di masa lalu, menjadi pelindung tanah, pelindung negeri, pelindung kehidupan. Kawasaran kemudian hari menjadi gerakan tari untuk meniru para leluhur yang menjadi pelindung negeri, pelindung kehidupan.
Di masyarakat Minahasa kini, tarian Kawasaran biasa dimainkan tiga babak. Babak pertama Sumakalele, dari kata sakalele. Saka berarti perang saling adu, dan lele, ibarat orang yang saling mengejar. Saling mengejar dalam pengertian bukan sedang bermain.
Leluhur Minahasa menyebut kata mahleleleley, dalam pengertian saling kejar untuk saling membunuh. Kata itu kalau disingkat lele, bermakna satu gerakan perang yang saling mengejar untuk membunuh. Sebuah perwujudan kisah-kisah di masa lampau, di mana ada perlawanan ketika harkat, martabat dan kehormatan, coba diinjak-injak. Leluhur Minahasa dahulu mempertahankan keberadaan mereka. Bukan sembarang melawan dan membunuh.
Kedua, Kumoyak dari kata koyak. Ini sebuah gerakan mengayunkan pedang. Mengayunkan pedang tidak sembarangan. Gerakan ini bermaksud menenangkan jiwa dari lawan yang terpancung kepalanya. Dahulu biasanya kepala lawan yang datang mengancam, menyerang, dipancung kemudian dikumpulkan. Sesudah itu para leluhur membuat lingkaran dan menyanyikan “kidung pengantar jiwa” agar yang meninggal tentram jiwanya.
Kenapa kepala dipisahkan dari tubuhnya? Cara berpikir leluhur dahulu, pikiran jahat ada di kepala jadi harus dipisahkan dan dikembalikan ke Sang Khalik. Keseimbangan itu ada di kepala dan hati. Untuk menetralkan, harus dipisahkan kepala dan hati yang ada di badan. Dalam rangka menetralkan dan mendinamiskan alam.
Ketiga, Lalalayan. Ini tarian sukacita. Menceritakan bagaimana orang-orang tua menang perang dan merayakan kemenangan itu. Mereka mengumpulkan teman, banyak orang dan merayakan itu.
Tarian kawasaran biasanya diiringi beberapa alat musik. Tambur dengan ukuran besar dan kecil, momongan (gong kecil), dan tetengkoren (bambu yang dibuat menjadi alat musik pukul). Dimainkan secara bersama dengan “pukulan” khusus. Di tiap daerah di Minahasa, masyarakat mewarisi cara yang khas dalam memainkan alat musik tersebut. Artinya, tiap daerah memiliki ciri khas tersendiri.

Pada HUT RI ke-73, 17 Agustus 2018, sejumlah penari Kawasaran dari Komunitas Waraney Wuaya, diberi kesempatan menari Kawasaran di Istana Kepresidenan, Jakarta.
Tradisi Penjaga Negeri dan Kemunduran Kawasaran
Dalam catatan sejarah dan tuturan para tetua, Wanua Warembungan didirikan oleh 4 orang Dotu (leluhur). Dotu Rori (Walian = pemimpin spiritual), Dotu Tinuus (pemimpin perang), Dotu Montororing dan Dotu Tamandatu yang ahli dalam perkebunan dan mangasuh (perburuan). Wanua ini berdiri di wilayah garis depan, tempat masuknya bangsa-bangsa asing ke jazirah utara Selebes di masa lampau.
Tahun 1820-1830, empat tokoh itu tumani (pindah dan membuka lahan pemukiman baru) dari Lotta, pusat pemerintahan Walak Kakaskasen ketika itu. Karena wilayah medan pertempuran itulah sehingga ada ahli perang yang ikut, yaitu Dotu Tinuus. Waraney (ksatria) yang satu ini mendapat gelar sebagai mahpupuis. Ksatria yang biasa mengambil kepala musuh yang dianggap mengancam masyarakat Warembungan.
Tradisi yang diwariskan Dotu Tinuus adalah tradisi Kelung um Banua (pelindung negeri atau perisai negeri). Sosok seperti Tinuus adalah orang-orang khusus, yang da batantu hati (menetapkan hati dengan sungguh). Tidak lagi memikirkan diri mereka, lebih mengutamankan orang lain. Mereka jadi petaruh demi orang banyak. Merekalah yang dikenal dengan Waraney um Banua.
“Tradisi melindungi negeri, di era Belanda mengalami pemberangusan. Sejak abad sembilan belas, segala sesuatu mulai diatur pemerintah kolonial. Termasuk tradisi-tradisi masyarakat. Salah satunya tradisi mamuis (mengambil kepala musuh) yang sudah ratusan atau bahkan ribuan tahun,” kata sejarawan Minahasa, Ivan R. B. Kaunang.
Bagi orang Minahasa ini sebuah persoalan, sebab sesungguhnya tradisi mamuis adalah penyemangat hidup untuk menjaga tanah mereka. Tradisi waraney pun akhirnya ikut dilarang, sebab pemerintah Belanda juga melihat tradisi ini bisa jadi ancaman serius bagi mereka.
Seiring perjalanan waktu, semakin banyak pelarangan yang dibuat pemerintah. Tapi para orang tua di Warembungan, ketika itu punya kebijaksanaan sandiri bagaimana mempertahankan tradisi, pengetahuan yang sudah ribuan tahun diwariskan oleh para leluhur. Para tetua melihat ada peluang untuk menjaga tradisi itu.
“Mereka kemudian menyimpan itu dalam seni. Karena seni relatif diterima banyak orang. Seolah-olah itu hanya ba aju (meniru) tradisi melindungi negeri dari tua-tua,” ujar Bitu Koraag, tetua adat Warembungan.
Cara untuk menyatu dengan orang-orang tua (leluhur), mengikuti apa yang dilakukan orang tua pelindung negeri, disebut maasar. Asaran berarti menjiwai. Itu kata awal Kawasaran.
Di wanua Warembungan, pengetahuan mamuis, kelung um banua, waraney um banua, ada dalam trah Tinuus (kemudian hari keturunannya bermarga Tinus). Tidak heran pemimpin Kawasaran Warembungan sejak dahulu ada dalam trah Tinus. Pemimpin pertama adalah Laurens Tuerah (Tete Kilis). Dia adalah pemimpin Kawasaran Warembungan pertama, di akhir tahun 1800-an. Dari Laurens Tuerah, turun ke Marsela Sumarauw atau sosok yang akrab disapa masyarakat dengan Papa Tin. Kakak tertua dari omanya Rinto Taroreh. Ayah mereka, Rulan Sumarauw, menikah dengan Dina Tinus, cucu dari Dotu Tinus.
Dari Papa Tin kemudian turun ke Fredrik Moningka atau Papa Erna. Dari Papa Erna ke Lambertus Koraag (Om Bitu), kemudian ke Alexander Lontaan, pemimpin Kawasaran Warembungan kini.
Sampai hari ini nilai-nilai yang diwariskan para pelindung negeri Warembungan tetap dijaga. Tradisi ini terlihat pernah akan hilang pada hampir dua dekade yang lalu. Namun ada sosok yang kemudian melihat serius persoalan itu.

Hampir seribu penari Kawasaran, jaringan Komunitas Waraney Wuaya dari berbagai penjuru di Minahasa, menari bersama di Festival Wanua Warembungan tahun 2019.
Semangat Melanjutkan Tradisi
Kawasaran sesungguhnya adalah warisan tradisi keluarga. Di Minahasa, Kawasaran diwariskan turun-temurun, dari generasi ke genarasi di keluarga-keluarga tertentu. Rinto Taroreh sendiri mengenal tradisi ini dari keluarganya. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), ia sudah belajar dari Opanya. Seorang Teterusan (pemimpin) Kawasaran di Wanua Warembungan ketika itu, yang biasa disapa Papa Tin.
Di Warembungan sendiri, saat itu tradisi Kawasaran benar-benar masih tersimpan dan masih sakral. Tarian ini hanya dipakai dalam upacara adat. Ia dipakai dalam ritual-ritual.
Di tahun 1980-an, Kawasaran di Warembungan sempat mengalami “kemunduran”. Di lingkungan keluarga Sumarauw-Tinus, ia hanya dimainkan oleh anggota keluarga dan kebanyakan mereka sudah berusia lanjut.
Ketika Kawasaran di Minahasa semakin mengalami kemunduran di awal tahun 2000-an, ada kekhawatiran yang melanda benak Rinto muda. Tradisi leluhur sarat nilai ini terancam hilang karena sudah tidak lagi dimainkan anak-anak muda. Ia pun memberanikan diri bicara dengan pemimpin Kawasaran Warembungan yang masih saudara dari ayahnya, bagaimana merekrut anak-anak muda dari luar garis keturanan pemain Kawasaran di wanua mereka.
Ini salah satu upaya untuk mempertahankan tradisi Kawasaran. Karena lama-kelamaan, kalau anak-anak sudah tidak mau, Kawasaran akan berakhir. Atas restu Lambertus Koraag, pemimpin Kawasaran Wanua Warembungan ketika itu, dan dan Alexander Lontaan atau Om Sande’ (Sarian kini), Rinto pun mulai mengajarkan tradisi keluarga ini ke orang lain.
Sejak tahun 2003-2005, ia mulai intens mengajarkan tradisi keluarga ini ke banyak orang. Tidak terbatas di Warembungan, tapi ke desa-desa lain hingga seluruh penjuru wilayah adat Minahasa. Bahkan sampai ke luar Minahasa. Aktivitas itu ia lakoni sampai hari ini.
Rinto tidak sendiri. Saat memulai gerakan, ia berupaya membentuk “rumah bersama” orang-orang yang memiliki kesadaran, kecintaan terhadap tradisi dan budayanya, Minahasa. Mereka kemudian menyatu dalam visi untuk menggali, memelihara dan terus melanjutkan nilai-nilai budaya warisan para leluhur. Spirit itulah yang memicu, menyatunya ribuan tou Minahasa dalam sebuah gerakan dan wadah yang kemudian dikenal dengan “Komunitas Waraney Wuaya”.
Awalnya, Rinto dan Komunitas Waraney Wuaya membentuk kelompok-kelompok budaya yang basisnya Kawasaran. Dalam perjalanan waktu hampir 20 tahun, Rinto dan Komunitas Waraney Wuaya telah melatih ratusan sekolah. Dari TK, SD, SMP, SMA/SMK hingga perguruan tinggi. Mereka juga melatih komunitas-komunitas adat dan organisasi kemasyarakatan yang ada di Sulawesi Utara.
Generasi tahun 2006-2012, yang dilatih dan bermain Kawasaran bersama di Komunitas Waraney Wuaya, kini rata-rata telah menjadi pelatih dan pemimpin tumpukan-tumpukan Kawasaran yang ada di Minahasa. Salah satu buah dari kerja-kerja budaya yang mereka lakukan, hari ini ada ribuan penari Kawasaran aktif di Minahasa.

Rinto Taroreh (Foto: Armando Loho)
Penjaga Tradisi Mahsasau
Rinto Taroreh adalah penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2021, kategori pelestari. Ia dinilai sebagai sosok penting dalam upaya pelestarian Kawasaran. Di Komunitas Waraney Wuaya, bahkan di mata masyarakat Minahasa secara luas, sesungguhnya ada hal penting lain yang dilakukan oleh Rinto dalam upaya pelestarian tradisi Minahasa. Ia adalah salah satu sosok dari beberapa orang saja yang kini masih memelihara tradisi Mahsasau.
Tradisi Kawasaran kini sebenarnya berakar dari sebuah ritus Minahasa masa lampau yang disebut Mahsasau. Sebuah upacara sakral yang dilakukan para “pelindung negeri” ketika harus berhadapan dengan musuh yang tangguh dan sulit dikalahkan. Di upacara Mahsasau, para leluhur diminta ikut bertempur bersama. Orang Minahasa percaya, kita tak akan ada hari ini tanpa leluhur sebelumnya. Karena itu, di momen tertentu, tou Minahasa merasa pantas untuk membujuk dan meminta para leluhur agar tidak membiarkan mereka binasa. Para leluhur harus menjaga dan bertempur langsung bersama mereka.
Upacara ini masih dipahami dan bisa dipraktekkan hingga kini di Minahasa. Sebagian pengetahuan tentang Mahsasau tersimpan dalam tarian Kawasaran. Namun, ada sejumlah tou Minahasa yang masih dapat menjalankan tata cara ritus, “memainkan” atau mengekspresikan syair dan gerak Mahsasau “secara utuh”. Ketukan tambur yang khas, dan bunyi alat musik lain yang biasa dimainkan dalam ritus Mahsasau, juga tetap dijaga oleh para “pewaris”.
Rinto Taroreh, salah satu penjaga tradisi Mahsasau. Kini ia mengajarkan pengetahuan itu kepada orang-orang tertentu yang siap menerima dan merasa punya tanggung jawab yang sama, termasuk kepada anak-anaknya. Menurutnya tradisi Kawasaran, apalagi Mahsasau, harus tetap dipertahankan, dijaga dan diwariskan. Kenapa? Ada ungkapan tua Minahasa, “Sa re’ mo werun karengan, kaliuran tamo”. Artinya, “Kalau sudah tidak akan dibuat baru (dibaharui), sudah akan dilupakan”. Dalam pengertian, api semangat harus tetap terus dinyalakan. Harus dipakai terus sehingga tradisi leluhur ini tidak akan dilupakan. Kalau kita lupa, kita bisa kaleleran (hilang jalan).
“Ini pesan para leluhur agar terus mempertahankan tradisi sarat nilai yang menghidupkan, dan tetap memelihara semangat itu. Walau kerja kita berat, kalau bersemangat, tetap dapat kita jalani,” kata Taroreh yang diberi nama Rinto untuk mengingat dua garis leluhurnya, Rindengan dan Tore. (*)












