Connect with us

CULTURAL

Willy Katuuk dan Kolintang dalam Jiwa Sang Maestro

Published

on

22 Desember 2025


“Waktu itu alat kolintang belum memiliki nada sempurna seperti sekarang. Sehingga di masa itu, pemain kolintang mengalami sedikit kebingungan ketika berkolaborasi dengan musik lainnya untuk memainkan sebuah lagu.”


Penulis: Rikson Karundeng


MUSIK kolintang adalah kebanggaan Minahasa. Semangat untuk menjaganya tetap terwariskan dari generasi ke generasi. Sejarah mencatat, di era kolonial, ketika ia masih menjadi bagian dari sebuah foso (ritus), ia sengaja “dibunuh”. Namun, bunyinya tetap kencang dalam setiap aliran darah dan tak bisa mati dalam ingatan tou (orang) Minahasa.

Di masa awal kemerdekaan Indonesia, kolintang kembali hidup dan hadir sebagai bagian dari kemeriahan masyarakat di kampung-kampung. Sampai akhirnya ia tampil di panggung-panggung festival.

Hari ini, kolintang eksis dan terus berkembang. Tantu tak terlepas dari para tokoh yang menjadi motor perkembangan musik tradisi ini.

 

Perjumpaan Willy Kecil dengan Kolintang

Di Tondano, tepatnya di Kelurahan Ranowangko, Kecamatan Tondano Timur, ada sosok pria berumur 75 tahun. Dia seorang seniman kolintang, yang hari ini masih tetap aktif bermain, bahkan melatih grup-grup kolintang profesional.

Namanya, Willy Katuuk. Semasa kecil, dia sudah dikenal mahir bermain musik kolintang. Pengalaman demi pengalaman dirajutnya, hingga musik ini benar-benar mampu dikuasai dengan baik.

“Waktu itu kalau tidak salah kelas lima Sekolah Dasar, saya sudah bermain kolintang,” kata Katuuk, tengah hari di penghujung Maret 2022.

Kegemarannya bermain kolintang saat masih kecil, dipicu Ben Saerang dan Buang Muntu. Ketika pulang dari sekolah, Willy sering melihat kedua orang ini sedang membuat alat musik kolintang di kompleks Sekolah Kepandaian Putri (SKP). Lokasi sekolah itu kini berdiri SMP Negeri 6 Tondano.

“Saya orang Papakelan. Waktu itu ketika pulang sekolah menuju rumah di Papakelan, saya lewat di SKP. Di situ saya melihat Om Ben Saerang dan Om Buang sedang membuat musik kolintang,” kenang Katuuk.

Suatu ketika, karena penasaran dengan aktivitas dua seniman pembuat kolintang itu, Willy kecil kemudian mampir sejenak. Di situ ia bercakap langsung dengan dua seniman kolintang legendaris. Selain itu, dia menunjukan kepada mereka keahilannya mamainkan kolintang.

Menurut Willy, musik kolintang di masa itu berbeda dengan musik yang bisa dilihat hari ini. “Waktu itu alat kolintang belum memiliki nada sempurna seperti sekarang. Sehingga di masa itu, pemain kolintang mengalami sedikit kebingungan ketika berkolaborasi dengan musik lainnya untuk memainkan sebuah lagu,” kata Katuuk.

Ada sejumlah nada yang tidak dapat ia dan para pemain kolintang lain temukan. “Dulu ketika kami bermain gitar, sama-sama dengan kolintang. Kami biasa menyebutnya orkes. Kolintang waktu itu hanya ada nada do, re, mi, fa, sol, la, si. Saat main, saya kebingungan. Contoh, lagu ‘Esa Mokan’ harus ambil overkam. Waktu itu di kolintang tidak bisa dapat,” aku Katuuk.

Persoalan itu akhirnya bisa diatasi. Karena sudah menjadi kebutuhan, Willy mengusulkan untuk menyempurnakan tangga nada kolintang di kampungnya.

“Saya tanya ke mereka (Ben Saerang dan Buang Muntu), karena mereka tukang, pembuat kolintang. Kalau mau, di Papakelan ada. Saya mengajak mereka ke Papakelan, di kampung saya. Karena di gereja saya, ada piano. Kami kemudian pergi sambil membawa blok. Kita stem kolintang di sana. Nanti di situ baru kita dapat nada full,” ungkapnya.

 

Era Jaya Willy Katuuk

Masa keemasan Willy Katuuk, ada di tahun 1970-an. Di era itu, dia telah menjadi pemain profesional, sampai melatih grup-grup kolintang. Ia menuturkan, grup kolintang yang pertama dilatihnya adalah Makawembeng Marawas.

“Tahun 1970-an, grup pertama saya di Marawas. Nama grupnya Makawembeng Marawas.  Pertama kali saya ikut festival, di lapangan sekolah olah raga Sario, di Manado. Waktu itu kami berhasil meraih juara satu di antara seratus tumpukan lebih yang ikut berlomba,” tuturnya.

Melatih sebuah grup kolintang, bagi Willy merupakan hal biasa. Bakat musik yang dimilikinya, membuat ia akrab dengan berbagai macam seni tradisi hingga seni modern. Karena selain kolintang, dia juga banyak melatih grup-grup musik bambu, choir, vocal group, bahkan tari maengket.

“Apa yang mereka minta, saya latih. Mau itu kolintang, musik bambu, koor, vocal grup, maengket, saya keliling melatih. Saya sampai di daerah Tonsea sana. Kaima, Kinaleosan. Kalau di Tondano, ya di Papakelan dan Kendis sering jadi langganan saya untuk melatih,” kenang Katuuk.

Di masanya mulai melatih grup kolintang, ada banyak pelatih hebat. Bahkan sampai hari ini nama-nama itu diakui masih eksis. Ada yang sudah menjadi juri di berbagai lomba. Walau demikian, Willy dengan kemampuannya, bisa bersaing.

“Saingan saya dulu ada Joppy Sajow. Dulu di masa mahasiswa mereka sudah eksis. Termasuk mantan bupati Minahasa, Pak Jantje Wowiling Sajow. Kemudian ada Nada Kuntung, Jeti Oroh. Penyanyi mereka Herry Sumarto, yang  pernah juara bintang radio dan televisi tingkat nasional. Mereka itu lawan-lawan hebat yang sering saya hadapi,” ungkap Katuuk.

Di tahun 1970-an Willy punya pengalaman bermain kolintang dengan grup yang ada di kota Manado. Waktu itu ia terkejut, karena penyanyinya adalah nama-nama yang sangat dikenal masyarakat luas.

“Dulu saya pernah di Manado, di rumah saudara di Tikala. Mereka di situ samua orang Tondano-Kiniar. Saya kemudian pergi bermain bersama mereka. Saya sempat bertanya, mana penyanyinya. Ternyata penyanyi mereka Frans Daromes dan Vonny Subondo,” ujar Katuuk.

Selain sebagai pemain dan pelatih kolintang, Willy Katuuk juga dikenal sebagai seorang pencipta lagu. Banyak karya lagu yang dia ciptakan, sangat akrab dengan telinga masyarakat Sulawesi Utara hingga warga kawanua di perantauan. Mulai dari lagu daerah Minahasa, hingga lagu-lagu pop Manado.

Menurutnya, lagu pertama yang ia ciptakan dan menjadi sangat terkenal di tahun 1980-an adalah lagu yang berjudul “Mana Itu Janji”.

“Lagu pertama saya yang top di kolintang, ‘Mana Itu Janji’. Lagu itu dibawakan oleh Tilman Sister. Itu tahun 1980-an. ‘Sa Aku Gumenang’ juga lagu saya,” ucap Katuuk.

Karya-karyanya sangat dikenal para musisi. Itu mengapa sejak dulu rumah Willy sering didatangi para penyanyi dan musisi terkanal.

“Loela Drakel juga sering datang ke rumah saya. Lagu ‘Anggur Merah’ itu saya yang tulis,” sebut Katuuk.

“Saya juga bersahabat dengan Jansen Patiro. Mereka sering datang di rumah saya. Kebanyakan mereka datang mengambil lagu. Tapi kalau sudah masuk dapur rekaman, mereka sering datang membawa uang rokok ke saya. Sama dengan Ricky Pangkerego, Pankers bersaudara di Jakarta, dulu mereka sering datang ke rumah untuk ambil lagu,”tutur Katuuk.

Tak terhitung berapa jumlah grup musik kolintang yang sudah pernah dilatih Willy sejak tahun 1970-an. Tak terhitung juga karya-karya yang sudah diciptakannya. Banyak sekali lagu kolintang dan pop Manado karyanya yang sangat terkenal. Willy sendiri sudah bersyukur, ketika ia menerima uang rokok setelah lagu-lagunya masuk dapur rekaman. Tanpa harus memikirkan, apakah ada namanya di label-label itu.

 

Eksistensi dan Konsistensi

Nama Willy Katuuk sangat dikenal para seniman kolintang. Apalagi mereka yang telah malang-melintang di panggung festival sejak tahun 1960-1970-an. Seperti yang dituturkan Adrie Elean. Pemain, pelatih dan pembuat kolintang era tahun 70 hingga 2000-an ini mengakui jika Willy merupakan salah satu sosok pemain handal yang kemampuannya diakui banyak orang sejak muda.

“Sejak tahun 1970-an, kami sering bertemu di panggung-panggung festival,” kata Elean, 20 Oktober 2025.

Ada banyak seniman kolintang di Minahasa. Mereka melewati pasang surut seni tradisi ini dari masa ke masa. Namun, tak banyak yang bertahan dan tetap eksis melewati badai hingga hari ini.

“Willy itu mampu menunjukkan keteladanan yang luar biasa bagi upaya menjaga dan mewariskan seni tradisi Minahasa ini. Sejak pegang stick, ia terus bermain hingga hari ini. Eksis itu penting, tapi lebih penting dari itu adalah konsistensi. Willy mampu menunjukkan teladan itu,” ucap Elean.

Willy Katuuk tidak koncudu. Keterampilan terbaiknya terus ia wariskan kepada generasi selanjutnya.

“Ia memberikan dirinya bagi kolintang dan mewariskan itu ke anak cucunya. Anaknya kini pelatih yang cukup dikenal. Ia tetap bermain dan melatih di manapun sejak muda. Ada festival atau tidak, dia tetap eksis. Banyak orang belajar dari dia. Kami sangat salut kepada beliau,” kata Elean yang dikenal sebagai pemain melodi hebat dan pernah satu grup bersama nama-nama keren di dunia kolintang seperti Fani Lesar, Roy Surentu dan Roby Waney.

Tak banyak yang memberi penghargaan dan apresiasi bagi seniman tradisi seperti Katuuk. Tahun 2022, diberi penghargaan sebagai Maestro Kolintang oleh Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado .

Usia boleh senja, tapi karya dan kreativitas Willy Katuuk masih tetap mengalir deras. Seperti saat kami mengganggunya, Sabtu, 26 Maret 2022. Sang maestro ketika itu tengah asik menulis sebuah “lagu pesanan”. (*)