Connect with us

KISAH

Lolok dan Manginde’: Kita Tak Sendiri

Published

on

27 Desember 2025


“Suasana waktu itu terasa sangat mencekam. Udara seakan dingin tiba-tiba, telinga seperti disumbat, hanya dengusan makhluk itu yang terdengar. Padahal waktu menunjukkan tepat tengah hari.”


Penulis: Hendro Karundeng


Legenda Bukan Legenda

“Mereka berbadan pendek, tak sampai semeter atau bahkan setinggi pinggul orang dewasa. Rambutnya lebat dan panjang sekali seperti tumpukan ijuk yang berjalan. Saat keluar, suara langkah mereka seperti bunyi dahan-dahan kayu patah. Mereka gemar dengan manusia, untuk dibawa ke tempat mereka dan dikawini.”

Kisah seperti itu masih sangat dipercaya orang-orang Minahasa bagian Selatan, khususnya warga di sekitar perbukitan Tareran. Kisah ini bukan sekadar kisah, cerita yang turun-temurun diceritakan dan jadi bahan peringatan bagi anak-anak ketika keluar bermain terlalu jauh dari pemukiman warga.

Di desa Rumoong Atas, banyak yang masih bersaksi tentang kehadiran makhluk yang sering mereka sebut “Lolok” dan “Manginde’”. Menurut cerita warga setempat, ada yang mengatakan bahwa Lolok dan Manginde’ ini bukan dua makhluk yang berbeda. Mereka sama, hanya sebutan yang berbeda. Tapi hal tersebut disangkal warga lainnya.

Medio Desember 2025, di tengah derasnya hujan, Wilem Pandey, pria asal Rumoong Atas Dua, berbagi cerita di rumahnya. Berteman lintingan tembakau serta secangkir kopi hitam, ia mulai berkisah, kedua makhluk itu benar adanya, serta punya rupa berbeda.

“Waktu itu masih sekitar tengah hari. Saya baru selesai membersihkan kebun saya di Lewet (nama lahan perkebunan di jalan antara Tombasian Atas dan Tareran). Saat hendak kembali ke sabuah (pondok kecil di kebun), saya tertegun melihat sosok pendek bermata bulat besar dengan rambut lebat panjang. Terlihat seperti ijuk, tapi dengan mata. Suaranya seperti dengkuran anjing, melambaikan tangan, seakan mengajak untuk mendekat,” ucap Pandey.

Hidangan makanan buatan istri Wilem pun mengantar ceritanya lebih lanjut. Sajian sederhana, sayur gedi tumis dan ikan teri goreng, kami nikmati bersama sembari mendengar lanjutan ceritanya.

“Dari perawakannya saya bisa tahu kalau itu Manginde’. Dia mengganggu saya laki-laki, berarti dia itu perempuan. Dan ya, Manginde’ itu perempuan. Terlihat dari rambutnya yang sedikit keputihan dan bertubuh sedikit besar, gemuk seakan punya buah dada,” jelas Pandey.

Ia percaya, Manginde’ merupakan makhluk halus berjenis kelamin perempuan, sebab menggoda laki-laki untuk dipelihara dan dijadikan pasangan untuk beranak. Sebuah cerita yang memberikan kesimpulan bahwa makhluk mistis ini memang menyimpan banyak kisah yang belum saya ketahui.

Dikenal Sangat Usil

Cerita lain juga dijumpai di keluarga saya. Yopie Rorong, Om saya (kakak dari mama) yang bermata pencaharian sebagai petani dan tukang bangunan ini berbagi cerita lain. Katanya, saat masih remaja ia pernah diganggu “mereka” di dalam rumah tua milik keluarga Oma saya. Ketika itu ia tengah buang air.

Sedikit menggelitik perut memang, sebab kejadian yang menurut saya lucu tapi menyimpan rasa seram, sampai membuat saya sempat takut cukup lama untuk masuk toilet rumah Oma hingga saya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Waktu itu saya pernah, saat tengah buang air. Dulu kan keadaan toilet belum seperti toilet sekarang. Dulu toilet rata-rata hanya berdinding bambu, sehingga banyak celah. Belum lagi lantai masih beralaskan papan dan kayu, dengan posisi kamar mandi dan toilet dibuat sedikit tinggi dan berpanggung,” jelas Yopie yang saya panggil ayah, sebutan untuk kakak dari orang tua kami, baik di pihak keluarga papa maupun mama.

Awal cerita membuat saya tertawa terbahak-bahak. Tapi, ekspresi ayah tiba-tiba berubah saat ia menyalakan lilin karena listrik yang tiba-tiba padam malam itu. Saya pun sentak langsung kembali tegang mendengar ceritanya.

“Nah, waktu sementara buang air, saya mendengar suara asing di kolong kamar mandi. Seperti suara anjing yang tengah menyium sesuatu, tapi suaranya lebih dalam. Tiba-tiba, dari celah dinding saya ditusuk-tusuk dengan sebatang lidi ijuk. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali,” ucapnya.

Saat itu saya pun terus berharap agar listrik cepat menyala. Berupaya untuk tidak ke kamar kecil. Tapi cerita ayah terus berlanjut. Kali ini ia menceritakan kejadian yang ia alami saat tengah pulang dari perkebunan miliknya di atas perbukitan Tareran.

Tempat yang akrab disebut Gunung Tareran bagi masyarakat sekitar itu memang tak pernah habis menyimpan kisah. Bukit dengan kekayaan alam melimpah yang terus jadi jantung para petani di sana dalam menyambung nyawa. Ayah bercerita kalau makhluk mistis itu memanglah usil dan suka sekali mengganggu.

“Saya memang tidak tahu kalau itu memang sifat mereka, tapi mereka ini memang usil. Saya pernah saat pulang dari kebun mengalami kejadian aneh. Saya sudah puluhan tahun bertani di sana, di Gunung Tareran, jadi tidak mungkin saya akan lupa dengan jalan atau jalur pulang. Tapi anehnya waktu itu saya tak bisa menemukan jalan pulang,” ujar ayah.

“Dari kecil, waktu masih ikut-ikut papa (opa saya), saya selalu menaruh patokan untuk perjalanan saya. Nah, patokan saya yaitu pohon beringin besar, beberapa meter dari jalan setapak, saat masuk ke jalur perkebunan. Anehnya, waktu itu saya sampai tiga kali menemui pohon itu. Saya seperti berjalan melingkar berulang-ulang di sekitar itu. Perasaan waktu itu tak karuan, karena saya membawa anak saya Pricilia yang baru berusia dua belasan tahun,” sambungnya.

Beberapa cerita memang pernah saya dengar tentang cara menjauhkan makhluk ini, seperti membawa gunting atau yang paling umum jadi “pawang” atau senjata melawan mereka yaitu api. Makanya sering sekali masyarakat desa selalu mengingatkan untuk membawa korek api sebalum pergi berkebun. Hal ini juga diceritakan ayah, sebuah perlawanan yang mungkin akan dianggap konyol bagi beberapa orang.

“Karena merasa ini tidak wajar, saya langsung berpikir kalo ini pasti perbuatan Lolok, untuk menghilangkan jalan bagi kami, karena saya membawa anak kecil, perempuan lagi. Sontak saya pun mengajak Pricilia untuk berhenti sejenak. Saya pun langsung meminum air dan menyalakan sebatang rokok,” papar ayah.

Bagi masyarakat Tareran, reges lewo’  atau “angin jahat” atau roh jahat, dipercaya bisa diajak berkomunikasi. Sehingga banyak yang mengatakan, ketika diganggu atau diusili, sebaiknya kita berbicara dengan mereka, meminta agar tidak mengganggu. Sebuah tradisi unik lain yang bisa ditemui di Tareran.

“Saat rokok sudah separuh, sisanya saya letakkan di tanah sembari berbicara, ‘Kalau mau minta sesuatu, cuma ini yang saya punya. Ambil saja, tapi jangan usili kami lagi, kami lelah dan hanya ingin pulang. Maaf kalau kami berbuat salah.’ Lalu saya pun mengajak anak saya untuk melanjutkan perjalanan. Dan benar saja, kami langsung bisa menemukan jalan umum hingga tiba di rumah,” tutup ayah.

Pengalaman Menakutkan dalam Ingatan Masyarakat

Beberapa kejadian aneh juga sering dikaitkan dengan keberadaan Lolok atau Manginde’. Entah giringan opini semata atau memang fakta. Tapi yang jelas kisah-kisah ini masih tetap menghantui masyarakat. Tak hanya di Tareran, keberadaan mereka juga ternyata dikenal di berbagai wilayah di bagian Selatan Minahasa.

Di Tareran masih banyak ingatan kelam tentang kisah-kisah ini. Tahun 2014 silam, tepatnya saat saya masih SMA, seantero Rumoong Atas dikagetkan dengan hilangnya seorang pria berusia 40 tahunan. Awalnya keluarga dan masyarakat beranggapan ia mungkin mengalami kecelakaan di kebun saat bekerja. Tapi setelah pencarian hampir 1 kali 24 jam, pria tersebut tak kunjung ditemukan.

Pria itu salah seorang warga di Rumoong Atas Dua, yang akhirnya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Kejadian aneh yang masih membawa tanya bagi masyarakat. Pria tersebut ditemukan dalam keadaan telanjang. Rumor terdengar, jasadnya ditemukkan terhempit di antara pohon bambu, sehingga membuat proses evakuasi cukup memakan waktu.

Kejadian itu dikait-kaitkan dengan “mereka”. Beberapa masyarakat mengatakan dengan spontan kalau ini perbuatan Manginde’. Ada juga yang mengatakan ini perbuatan Lolok, dengan niatan menculik warga dan dijadikan salah satu dari mereka.

Tak hanya itu, banyak kejadian serupa, warga hilang tanpa sebab yang tidak bisa dijelaskan polisi, pasti mengarah pada “mereka”. Hingga saat mengetik tulisan ini, sayapun masih dirundung gelisah, menuliskan kisah mereka yang jadi korban hal yang dianggap takhayul.

Percaya tak percaya, saya pribadi pernah menjumpai “mereka”. Waktu itu, saat kegiatan orientasi pelantikan Pramuka Banthara, tepatnya di tahun 2015. Saya jadi salah satu kakak senior yang bertanggung jawab mengatur jalur hiking atau lintas alam sebagai salah satu rangkaian kegiatan. Kejadian tersebut anehnya baru saya jumpai saat kegiatan berlangsung.

Kurang lebih sekitar pukul 11 siang kegiatan dimulai, beberapa peserta mulai kami lepas menempuh lintasan. Saya dan beberapa teman pun ikut mengawal peserta dengan jarak yang ditentukan. Di tengah perjalanan, perasaan tak enak sudah mulai saya rasakan. Aneh memang kalau dijelaskan. Dalam keluarga saya, saya dianggap salah satu anak yang menerima karunia khusus dari Empung Wailan Wangko, sebab saya merupakan “anak turung”-sebutan untuk kami yang lahir dengan tubuh bagian bawah terlebih dahulu. Saya, menurut mama, lahir bokong terlebih dahulu dengan posisi badan membungkuk sembari memeluk kedua kaki.

Bagi keluarga, saya dianggap anak spesial yang punya karunia dari lahir, bisa menyembuhkan penyakit ringan seperti masuk angin dengan melakukan pijat. Bisa melegakan tenggorokan orang yang tersendak duri atau tulang lauk hanya dengan mencelupkan tangan dalam air minum. Bahkan dipercaya bisa melihat dan merasakan mu’kur (jiwa, makhluk tak kasat mata).

Di tengah hiking, saya melihat seorang anak perempuan mirip salah satu peserta, memakai seragam pramuka dan memegang tongkat kayu. Sayapun langsung berhenti dan menyuruh kedua teman untuk melanjutkan perjalanan lebih dulu. Saat kembali menoleh, yang saya lihat bukan anak itu lagi, melainkan sosok menyeramkan berciri seperti Lolok. Bermata bundar dengan bola mata seperti kucing, badannya ditutupi rambutnya yang panjang hingga terurai di tanah. Dia seperti memberi isyarat, seolah ingin mengajak ikut dengannya.

Suasana waktu itu terasa sangat mencekam. Udara seakan dingin tiba-tiba, telinga seperti disumbat, hanya dengusan makhluk itu yang terdengar. Padahal waktu menunjukkan tepat tengah hari. Tersadar saat peserta yang berjalan di belakang berhasil menyusul.

Sampai kini pengalaman itu masih jadi misteri bagi saya. Kejadian yang mungkin pernah dirasakan masyarakat lain. Cerita dan kisah ini mungkin dianggap legenda bagi Masyarakat beberapa wilayah di Minahasa, tapi hingga kini kehadiran “mereka” masih dipercaya terus ada di sekitar kita.