KISAH
Dalam Kemelut Perang: Sastra Dibalut Sejarah

23 Desember 2025
“Novel ini merekam pengalaman personal, relasi cinta, dan pergolakan masyarakat Minahasa dalam jaman kolonialisme dan perang. Jadi sastra dibalut dengan sejarah yang berdasarkan hasil riset.”
Penulis: Hendro Karundeng
DUA hari sebelum hari besar bagi umat Kristen, Natal. Tepatnya tanggal 23 di bulan Desember 2025, ada sebuah pengalaman tak terganti. Bertemu dengan orang-orang hebat, mendengar inspirasi dan cerita luar biasa mereka, bahkan bisa duduk santai dengan mereka dalam sebuah diskusi.
Diskusi itu memang mungkin bukan porsi bagi setiap orang, apalagi perihal yang dibahas adalah buku. Tapi bagi saya ini merupakan harta karun yang sangat berharga dalam perjalanan menjadi seorang jurnalis.
Ada kisah menarik soal buku yang dibahas. Buku itu sebenarnya sudah terbit sejak tahun 2024 kemarin, bahkan penulisnya merupakan salah satu senior dan mentor saya bersama kawan-kawan dari Komunitas Penulis Mapatik. Sekitar 12 bulan buku ini terpajang di rak tempat kami menyimpan buku. Tak pernah terpikir untuk sekedar membuka dan membaca, tapi sehari yang lalu saya mendapat undangan dari salah satu perguruan tinggi, Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado.
Saya akhirnya membuka buku berjudul “Dalam Kemelut Perang” karya seorang akademisi, penulis sasta, sejarah dan budaya, Dr. Denni Pinontoan, M.Teol., yang akrab saya panggil ‘Mner’-sebuah sapaan biasa bagi kami untuk seorang guru. Ia merupakan inspirasi bahkan motivasi saya dalam mengisi catatan dan goresan kisah dalam perjalanan menulis.
Pagi tadi, kami pun berangkat ke Manado, tepatnya ke aula kampus IAKN Manado, tempat kegiatan diskusi digelar. Dengan cuaca yang lumayan membuat kulit resah, rasa panas yang langsung membelai badan, bawa imajinasi seakan jatuh tuk jalani hari itu.
Tiba di lokasi kegiatan, kami berenam disambut dengan penuh senyuman oleh salah seorang pimpinan di kampus itu. Mungkin karena kami naik di mobil penulis buku yang akan didiskusikan. Saat acara dimulai, baru saya tahu kalau namanya Natalia Lahamendu. Ia juga yang memandu langsung rangkaian kegiatan.
Tanpa menunggu lama, acara pun dimulai. Sebelum mengundang pemantik diskusi, didahului dengan menyanyikan lagu kebangsaan, “Indonesia Raya”. Disusul dengan sambutan dari Kepala Program Studi (Kaprodi) Sosiologi Agama IAKN Manado, Pdt. Jhounlee Tatuhas, M.Th.
“Kita bersyukur hari ini, dapat berkumpul dengan agenda yang luar biasa dalam kegiatan diskusi buku, ‘Dalam Kemelut Perang’. Dalam diskusi ini saya sangat bangga, rekan kami, senior kami, Pak Denni Pinontoan, kembali mencetak satu buku yang akan kita diksusikan Bersama. Berharap ini akan menambah wawasan kita, bahkan menambah pengetahuan kita, tentang kultur dan banyak sejarah yang tidak kita ketahui sebelumnya,” ucapnya.
Ia juga menyampaikan, karya dari Mner Denni ini sudah menerima banyak lirikan serta memotivasi sebagian mahasiswa yang hadir untuk menulis.
“Berharap juga, tadi ada anak-anak yang sempat bilang ke saya, semoga ke depan bisa dapat mengikuti jejak Pak Denni menulis buku. Karena ternyata kita lihat ada begitu banyak sejarah yang tidak tertulis. Sebab kalau tidak terulis, hanya dalam satu atau dua generasi akan lenyap. Tapi kalau tertulis, pasti akan abadi,” sambungnya, kemudian membuka kegiatan diskusi secara resmi.

Sejarah Dalam Sastra
Sebuah kegiatan revolusioner yang memadukan sastra, sejarah, sosiologi dan teologi dalam sebuah gedung luas, menghadirkan sekira 100 mahasiswa serta tamu undangan. Lalu salah satu ‘anggota’ semobil saya diundang ke depan, sebab dia yang akan memandu diksusi sebagai moderator. Seorang budayawan Minahasa, jurnalis yang juga Director Komunitas Penulis Mapatik.
“Buku ini bukan hanya sekadar karya sastra, tapi juga hasil penelitian dan kajian Pak Denni tentang catatan-catatan sejarah di Minahasa pada kurun waktu tertentu,” ujar Rikson Karundeng.
Setelah itu, ia mengundang salah satu narasumber yang mewakili Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara, Anas Yuliadi Nurdin. Sebagai pemantik diskusi, Anas menjelaskan tentang kompleksnya bahasa yang ingin disampaikan penulis.
“Materi saya tentang perspektif bahasa, identitas etnis dan konstruksi sosial kolonial pada novel ‘Dalam Kemelut Perang’. Gambaran umum yang saya dapati di novel ini, kalau dalam bahasa kata ‘dalam’ itu adalah kata hubung, saat disatukan pada ‘dalam kemelut perang’ jadi sudah ada sesuatu. Nah, ‘kemelut’ itu kan sesuatu yang sudah rumit dan masuk lagi ke ‘perang’ jadi ada dua kubu yang sedang bertikai,” ujar Nurdin yang akrab dipanggil Bang Anas.
Menurutnya, penulis ingin membawa para pembaca untuk mengerti tentang dalamnya buku ini. Sebuah kajian sejarah, yang dituangkan dalam karya sastra berbentuk novel dengan bukti penelitian dari pengarang.
“Pengarang di sini bukan hanya sekadar pengarang, tapi beliau adalah peneliti. Jadi novel ini bukan hanya sekadar novel yang hanya memamerkan indahnya kata-kata, tapi diisi juga riset-riset yang pernah beliau lakukan. Karena saat beliau melakukan riset, terbesit hal yang bisa dijadikan karya sastra yang ujungnya ada di buku ini,” tuturnya.
Latar novel ini di Tomohon, waktunya di masa akhir kolonial Belanda dan awal pendudukan Jepang. Ini bukan diada-adakan, tapi memang hasil riset dari penulis. Tokoh utama, Kamang, pemuda Minahasa dan Margaretha, gadis Indo.
“Gadis Indo bukan berarti gadis Indonesia, tapi peranakan dari pribumi atau Minahasa dan bangsa kolonial atau Belanda kala itu,” sambungnya.
Selain itu, Anas juga menyampaikan pentingnya koneksi dari segi bahasa yang terbangun dalam cerita, penggunaan bahasa, frasa bahkan harmoni kultural yang kaya dalam novel ini.
“Novel ini merekam pengalaman personal, relasi cinta, dan pergolakan masyarakat Minahasa dalam jaman kolonialisme dan perang. Jadi sastra dibalut dengan sejarah yang berdasarkan hasil riset. Jadi karya ini bukan hanya karya yang bisa dinikmati tapi tidak akan membekas karena setelah baca karya sastra dan hanya memuat hal yang indah, karya ini bukan itu. Di sini, novel ini memuat multibahasa sebagai realisitas sosial, menampilkan keragaman Bahasa. Di situ ada bahasa Minahasa di area Tombulu yang hadir dengan kata ‘Kamang’ dengan makna berkah dan ‘Kuranga’ yang berarti kembang sepatu, ada ‘Mapalus’ yang artinya gotong royong. Juga di sini banyak bahasa Melayu, di sini banyak bahasa Melayu Manado. Yang menghubungkan satu budaya dengan budaya yang lain,” tandasnya.
Selain Anas, kami juga mendapat kesempatan mendengarkan tanggapan dari salah seorang aktivis yang terus memperjuangkan hak-hak perempuan, Pdt. Heemlyvaartie Danes. Ia menceritakan kesan awalnya saat membaca novel karya Mner Denni itu.
Katanya, kesan umum yang ia dapat saat membaca lembar pertama, rasanya di pelupuk matanya sedang melihat film hitam putih yang hidup. Jadi kalau membaca “Da Vinci Code”, itu juga novel sejarah atau “The City of Joy” yang bicara tentang kota Kalkuta atau waktu ia membaca tentang “Weemen” yang berbicara tentang “Theodora” di zaman-zaman awal kekristenan.
“Saya selalu imajinasi, saya akan agak lama memvisualisasikan dalam benak saya tentang ‘Theodora’ misalnya. Sosok yang pintar, korban perdagangan perempuan, anak perempuan, jadi pelacur lalu dia jadi very high class. Pemikiran-pemikiran hebatnya itu mempengaruhi Codecs Yustin Yanus dalam bidang agama, mempengaruhi tentang strategi perang. Tapi dia tetap hidup dan dikenal sebagai ‘Theodora Si Pelacur’,” kata Danes.
Waktu ia membaca novel karya Pinontoan, tokoh utamanya langsung begitu hidup sekali. “Dibayangan saya itu adalah tante Sus Ratulangi, figur profilnya tapi karakternya seperti Mariane Katoppo. Di benak saya juga seperti itu. Tapi waktu membaca Margaretha ini, itu nyata betul dia ada,” ujarnya.

“Margaretha” Itu Ada
Tak disangka, ucapan serta ungkapan Danes membuat saya tertegun. Seakan saya mendengar sebuah hasil dokumenter sejarah yang digelapkan, kisah-kisah yang tak berani diucap oleh orang kebanyakan, sebuah refleksi bahkan gambaran jelas tentang arti dan makna salah seorang tokoh dalam novel ini, yaitu Margaretha.
Tokoh fiksi yang menurut Danes telah menyimbolkan kehidupan para perempuan di masa lalu. Seseorang yang dihidupakan kembali lewat refleksi kejadian kelam yang menimpa banyak perempuan di masa penjajahan.
“Keberadaannya itu tidak banyak direkam oleh penulis sastra atau penulis lainnya di Minahasa. Margaretha itu sebagian personifikasinya itu ke saya, nama Belanda-nya. Saya juga bagian dari inkulturasi budaya, tapi orang Minahasa sekali secara figur. Tidak pernah ada yang melihat karena hidung tinggi dengan marga Danes, terus diendorse, tidak,” kata Danes.
Saat sejenak berpaling dari sofa tempat saya duduk, saya melihat semua pendengar tengah tegang mendengar penyampaian Danes. Para mahasiswa bahkan segan beranjak dari tempat duduk mereka. Tamu undangan bahkan sesekali mengangkat telefon genggam mereka untuk mengabadikan momen tersebut. Walau menahan gerahnya suhu ruangan kala itu, tapi enggan badan beranjak menikmati tuturnya.
“Tapi yang membuat saya sangat terpuruk, dua malam berpikir. Bayangkan ada cerita Margaretha, perempuan Minahasa yang menjadi korban karena kekejaman penjajahan. Itu bukan fiksi loh, itu nyata! Bukan karena bukunya Denni, itu pasti nyata,” sebut Danes.
“Kenapa saya katakan nyata? Sebab saya ingat betul tahun 1988-1998 ada kegiatan Dewan Gereja-gereja Dunia, dasawarsa solidaritas gereja terhadap perempuan, tag linenya adalah ‘Her story is my story, your story is our story’. Cerita dia, cerita perempuan itu adalah saya. Cerita ‘dia’ yang jamak itu adalah cerita kami. Yang terbayang di benak saya pertama-tama yaitu Margaretha itu ada,” tandasnya.
Usai mendengar tanggapan dua pemantik, kegiatan dilanjutkan dengan dialog antar narasumber dengan peserta yang hadir. Beberapa pertanyaan diajukan oleh para mahasiswa, disambut jawaban dari para narasumber. Banyak hal yang didapat, tapi dalam benak masih penuh dengan gejolak gairah untuk terus menggali makna dari novel ‘Dalam Kemelut Perang’ karya Mner Denni Pinontoan itu.












