Connect with us

ESTORIE

Jejak Tragedi Pembantaian Perang Dunia II di Manado

Published

on

16 Desember 2025


“Di kissa-ten (bar) terdapat puluhan mayat tentara Jepang dan hostes-hostes. Tempat penampungan WTS di Mahakeret juga tidak luput kena sasaran bom. Di pabrik benang (kapas) di Sario, pengerja-pengerja yang terdiri dari wanita dan pria banyak yang mengalami nasib serupa. Di Wanea, ada keluarga yang terdiri dari ibu dan empat orang anaknya mati tertimbun dengan tanah.”


Penulis: Rikson Karundeng


RABU, 6 September 1944. Suasana tenang selepas tengah malam tiba-tiba pecah. Sebuah ledakan meluluhlantakkan kompleks galangan kapal di wilayah Calaca. Sebuah kawasan penting yang tak jauh dari Pelabuhan Manado.

Rumah-rumah penduduk di sekitar hancur. Banyak masyarakat luka-luka. Ada yang terhimpit reruntuhan bangunan. Sementara, suara tangis terdengar dari salah satu keluarga. Anak gadis remaja mereka tewas mengenaskan. Ia tak sempat masuk ke lubang perlindungan hingga ditemukan meninggal dunia di kolong rumah.

“Bom itu jenis bom api. Mungkin sebagai percobaan. Dijatuhkan tentara Amerika. Serangan pertama-tama itu terjadi sekitar pukul tiga dini hari,” tulis H.A. Lolong dalam bukunya Sejarah Pendudukan Jepang di Minahasa 1942-1945 (1989).

Warga kota Manado tak menyadari jika bom pertama itu adalah sebuah peringatan dari malapetaka dahsyat yang akan terjadi. Tak ada satupun warga yang berupaya menyingkir ke luar kota. Tentara Sekutu kemudian dianggap tidak mempunyai prikemanusiaan, karena pamflet-pamflet peringatan ‘Supaya rakyat menyingkir ke hutan-hutan, dan jangan tinggal dekat orang Jepang’ baru dijatuhkan keesokan harinya, Kamis, 7 September 1944. Terlambat, peringatan itu jatuh bersamaan dengan sederet bom yang dimuntahkan pesawat-pesawat Amerika di Manado.

“Orang-orang Jepang sebenarnya telah mengetahui hal itu. Makanya polisi-polisi yang ditugaskan di gardu-gardu, antara lain di simpang tiga Sario, simpang tiga Tikala, simpang empat Teling, telah diberikan instruksi supaya mencegah penduduk-penduduk yang mau mengungsi ke luar kota,” tulis Lolong.

Foto dari pesawat pembom B-24 Liberator milik Angkatan Laut Sekutu yang memperlihatkan kerusakan akibat pemboman di sekitar Pelabuhan Manado pada 9 Februari 1945. Foto dikirimkan melalui kabel ke Perusahaan media di Amerika.

Foto dari pesawat pembom B-24 Liberator milik Angkatan Laut Sekutu yang memperlihatkan kerusakan akibat pemboman di sekitar Pelabuhan Manado pada 9 Februari 1945. Foto dikirimkan melalui kabel ke Perusahaan media di Amerika.

Di Buletin Sulut edisi 22 November 1986, H.A. Lolong menggambarkan kengerian yang ia saksikan secara langsung dengan mata kepalanya. Kamis, 7 September 1944 pagi, ia enggan mengikuti upacara penaikkan bendera di kantor Polisi Jepang, sekitar pusat kota Manado. Firasat buruk seakan-akan menghantui. Gelisah itu mendorong dia supaya segera beranjak dari sana. Menapak, mempercepat langkah.

Lolong sebenarnya bisa mengendarai becak atau bendi. Namun mereka dilarang untuk mengendarai kendaraan umum bila memakai seragam, pakaian dinas.

“Aku berusaha menghapus kelelahan dan rasa kantuk, yang membuat aku berjalan tidak selincah seperti biasa. Jalan yang akan aku lalui, dari Jalan Korengkeng sampa tangsi Polisi Sario. Jarak yang cukup panjang,” ungkap Lolong.

Keadaan kota Manado nampak seperti biasa. Lalu lintas sedang mulai ramai. Walaupun kendaraan hanya becak, sepeda, bendi dan truk-truk Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang.

“Seorangpun tidak menduga, apa yang akan terjadi pada hari itu. Hanya Tuhan sajalah yang tahu.”

Tiba di Pasar 9, Lolong mampir di warung kopi. Di ruangan yang luas dan terbuka, terlihat beberapa pria sedang duduk-duduk, berbincang-bincang sambil menikmati kue. Ia langsung duduk, memesan kopi dan pisang goreng.

“Baru saja aku dua kali menyeruput kopi, tiba-tiba terdengar bunyi sirene. Mengisyaratkan ada bahaya udara. Kali ini peringatan tidak didahului dengan tanda untuk berjaga-jaga. Ini serius,” tulis Lolong.

Sementara itu, para pengunjung yang sedang menikmati kopi dan kue serentak berdiri, lalu kabur tanpa membayar. Lolong memerintahkan toke pemilik warung kopi untuk menutup semua jendela dan pintu rumah. Si toke kelihatan gugup, kebingungan. Isterinya segera mengemasi barang-barang kesayangannya, dibungkusnya dengan sehelai kain sarung lalu berlari ke belakang rumah.

“Saya bertanya ke toke, ‘Ada bokugo di sini?’ Dia jawab, ‘Ada, Tuan. Di belakang rumah!’ Akupun membuntuti keluarga Cina itu, menuju lubang perlindungan. Perasaan cemas. Lubang itu hanya ditutupi dengan pelepah, daun kelapa yang sudah kering dan jarang,” jelas Lolong.

Tak berapa lama, ia keluar dari lubang perlindungan. Suasana sudah sangat sunyi. Tak ada seorangpun yang nampak. Kendaraan pun tidak. Keadaan yang sunyi ini, tidak berapa lama bertahan. Karena segera terdengar suatu bunyi. Lolong berupaya memasang telinga baik-baik.

“Oh, Tuhan. Itu bunyi derum pesawat terbang. Denyut jantungku terasa deras. Pada awalnya hanya samar-samar, akhirnya menjadi jelas. Terbayang di ruangan mataku korban-korban dan kerusakan di Calaca tadi malam,” ungkap Lolong.

Toke dan istrinya bersama ketiga anaknya melontarkan dirinya di dasar lobang. Lolong berdiri bersandar pada sudut. Bunyi gemuruh di atas terdengar bagaikan kawanan lebah. Lalu, dentuman meriam terdengar berturut-turut. Menggemparkan dan sangat dahsyat.

Pasukan artileri Jepang yang berada di sepanjang pantai mulai beraksi. Menembaki pesawat-pesawat B-29 Angkatan Laut Amerika yang terbang dalam formasi huruf ‘M’ di atas kota Manado. Namun satupun tidak ada yang jatuh. Penangkis udara di Teling menembakkan pelurunya. Bunyi yang tak terkatakan terdengar di sana-sini.

Lolong menutup kedua telinganya dengan jari. Kemudian, terdengar meledak bom-bom dari Sekutu yang sedang berjatuhan. Bunyi yang menggegerkan syaraf, terdengar bagaikan guntur dan halilintar yang sambung-menyambung. Tanah pun bergoyang seakan akan terjadi gempa tektonis.

“Anak-anak dari toke mulai meraung-raung dan menjerit ketakutan. Sementara itu, istrinya memanjatkan doa dalam bahasa Cina. Bunyi yang mendahsyatkan dari dentuman bom, tembakan canon, derak bunyi bangunan yang sedang roboh, diselingi oleh tangisan, jeritan perempuan dan anak-anak dari lubang-lubang perlindungan,” kisah Lolong.

Baginya, peristiwa itu bagaikan mimpi paling buruk yang pernah ia alami. Dunia rasanya bagaikan kiamat. Keadaan ini berlangsung hampir setengah jam lamanya. Lalu pesawat-pesawat terbang itu menghilang, serangan berhenti. Semua orang menunggu-nunggu tanda aman diberikan. Tetapi ternyata kedua sirine di kota tidak dapat berfungsi, karena turut dimusnahkan.

Saat keluar dari lubang perlindungan, Lolong bergerak menuju ke titik-titik serangan. Di sana ia menyaksikan adegan-adegan yang menyayat hati. Mayat-mayat tergeletak di sana-sini. Ada yang mati terhimpit dengan puing-puing bangunan.

Lolong menulis dampak pemboman hari itu, “Di kissa-ten (kafe/bar) terdapat puluhan mayat tentara Jepang dan hostes-hostes. Tempat penampungan WTS di Mahakeret juga tidak luput kena sasaran bom. Di pabrik benang (kapas) di Sario, pengerja-pengerja yang terdiri dari wanita dan pria banyak yang mengalami nasib serupa. Di Wanea, ada keluarga yang terdiri dari ibu dan empat orang anaknya mati tertimbun dengan tanah.”

Pemandangan lain yang membuat bulu-bulu roma berdiri, di jantung kota ada kuda-kuda yang masih terpasang pada bendi tetapi sudah menjadi bangkai. Ada juga yang masih terpasang di bendi-bendi, masih utuh namun kusirnya tak bernyawa lagi dan tergeletak di sisi bendi. Bau mayat dan bangkai mulai tercium di mana-mana, memenuhi seantero kota.

“Dengan haru dan kesal kulontarkan pandanganku pada mayat-mayat yang telah terkumpul. Terdiri dari orang tua, kaum muda dan anak-anak. Mereka tidak mengerti apa arti peperangan. Namun suratan takdir mereka turut menjadi korban. Ketika memandangnya, air mataku tak tertahan, mulai jatuh berderai. Dalam hati kecilku aku berdoa, ‘Kiranya peristiwa ini adalah yang pertama tetapi yang terakhir juga’.”

Sayang, peristiwa itu hanya awal dari episode panjang sebuah kisah kengerian. Pesawat-pesawat pembom tentara Sekutu yang dimotori Amerika, terus menghantam wilayah Sulawesi Utara, termasuk Manado, hingga tahun 1945. Manado benar-benar hancur.

Veldbox di Pakowa, Manado. Dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai benteng pertahanan lapangan untuk mengantisipasi serangan musuh, melindungi pusat pemerintahan, dan berfungsi sebagai tempat mengintai musuh. Di masa Perang Dunia II, veldbox-veldbox di  wilayah Minahasa raya digunakan oleh Jepang untuk menghadapi serangan Sekutu dalam Perang Pasifik. (Foto: Rikson Karundeng)

Veldbox di Pakowa, Manado. Dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai benteng pertahanan lapangan untuk mengantisipasi serangan musuh, melindungi pusat pemerintahan, dan berfungsi sebagai tempat mengintai musuh. Di masa Perang Dunia II, veldbox-veldbox di  wilayah Minahasa raya digunakan oleh Jepang untuk menghadapi serangan Sekutu dalam Perang Pasifik. (Foto: Rikson Karundeng)

Manado Kota Paling Hancur

Kota Manado kini berdiri megah. Terus bersolek menjadi salah satu dari barisan kota modern di era globalisasi. Sedikit yang ingat, kota tua ini pernah menjadi makam mengerikan banyak penduduknya di masa Perang Dunia II. Saat bom tentara Sekutu meratahtanahkannya.

Kengerian itu masih membekas dalam ingatan Hendrik Karundeng. Pria uzur yang ketika itu berusia 13 tahun saat menyaksikan puluhan pesawat pembom tentara Sekutu merayap di langit Wenang dan memuntahkan benda-benda aneh berwarna hitam.

“Waktu itu zaman penjajahan Jepang. Kita pe mama deng papa da pi gunung (sebutan untuk kampung-kampung Minahasa di daerah pegunungan). Kita deng brapa tamang da bermain di daerah jalan Toar skarang. Kage maraung kamari banya pesawat di langit kong maso Manado,” kisahnya.

Sesaat setelah raungan itu, kota Manado tiba-tiba membisu dan berubah menjadi kengerian. “Torang langsung lari mar nda tau mo ka mana. Nda ada lubang perlindungan di dekat torang da bermain akang. Nda lama, bunyi ledakan di mana-mana. Manado kage-kage so dihancurkan. Banya orang mati itu. Mayat di mana-mana,” tuturnya.

Kisah Karundeng ditegaskan Sejarawan Sulut, Fendy Parengkuan. Menurutnya, sejumlah literatur memang menggambarkan bagaimana kota Manado luluh lantah ketika wilayah Sulawesi Utara dibom tentara Sekutu.

“Data menyebutkan bagaimana puluhan pesawat pembom B-29 Angkatan Udara Sekutu memusnahkan kota Manado sampai menjadi puing. Banyak penduduk tewas,” jelasnya.

Di masa itu, Manado menjadi salah satu kota yang kondisinya paling hancur dibanding kota-kota lainnya yang menjadi sasaran Sekutu.

“Bahkan, sejumlah data menyebutkan dan menggambarkan bahwa kota Manado adalah kota yang paling hancur oleh bom sekutu di era Perang Dunia II, dibanding kota-kota yang lain. Ratah tanah memang,” tambah Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Sulut ini.

Reruntuhan Gereja Sentrum Manado (Protestantse Kerk Manado) setelah dibom tentara Sekutu sekitar pertengahan tahun 1945. Foto ini dibuat bulan Maret 1946. (foto: KITLV).

Reruntuhan Gereja Sentrum Manado (Protestantse Kerk Manado) setelah dibom tentara Sekutu sekitar pertengahan tahun 1945. Foto ini dibuat bulan Maret 1946. (foto: KITLV).

Pusat Pertahanan Jepang
Jazirah Utara Selebes merupakan sebuah wilayah strategis dalam ‘Perang Pacifik’. Karena itulah wilayah ini, termasuk Manado, dijadikan daerah pertahanan pasukan Jepang.

“Ketika Jepang mendarat di Manado, pada 11 Januari 1942, mereka merebut veldbox (kubu-kubu pertahanan) sejak zaman Belanda. Oleh Jepang kemudian digunakan untuk menghadapi serangan sekutu dalam Perang Pasifik,” kata Sejarawan Sulut, Ivan Kaunang.

Jepang juga membuat lobang-lobang goa seperti yang banyak tersebar di kota Manado. Tempat itu adalah salah satu bentuk pertahanan yang dibangun pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942-1945.

“Jepang juga membangun beberapa pertahanan udara, seperti membangun lapangan udara Mapanget dan lapangan udara di Tawaang, Minahasa Selatan. Yang terakhir ini tidak sempat banyak digunakan. Pembangunan goa sebagai tempat perlindungan di Manado dan Minahasa dimulai sejak tahun 1943. Sejalan dengan mulai terdesaknya pasukan Jepang atas serangan balik tentara Sekutu di medan Perang Pasifik,” papar akademisi Unsrat ini.

Dalam taktik militer Jepang, goa adalah tempat perlindungan yang paling aman terhadap serangan musuh, terutama serangan pesawat-pesawat pemboman berat. Goa juga merupakan tempat paling aman untuk menyimpan berbagai peralatan perang, persenjataan dan amunisi serta logistik (makanan).

“Tentara Jepang menderita kekalahan dalam pertempuran di lautan Pasifik terhadap serangan pasukan Sekutu. Itu kemudian yang membuat mereka mundur dan memperkuat kubu pertahanannya di Sulawesi dan Maluku Utara,” tambahnya.

Sejumlah literatur menjelaskan, Sulawesi Utara adalah wilayah pendaratan tentara Sekutu untuk masuk ke Indonesia dari arah Pasifik. Karena itu, daerah ini menjadi front pertempuran yang sengit.

“Bulan September tahun 1944, tentara Sekutu di bawah pimpinan Jendral Mac Arthur dari Amerika, menduduki Morotai dan menyerang kubu-kubu pertahanan Jepang di Sulawesi Utara. Lalu beralih dan menduduki pulau Leyte di Filipina pada 10 Oktober 1944,” jelas Kaunang.

Saksi Bisu Perang Dunia II

Banyak bukti sejarah yang menjadi ‘saksi’ peristiwa Perang Dunia II di Manado. Salah satu yang bisa dilihat adalah ‘Tugu Perang Dunia II’ yang kini berdiri kokoh di samping gedung gereja GMIM Sentrum Manado.

Ivan Kaunang menjelaskan, monumen atau Tugu Perang Dunia II ini dibangun pada tahun 1946-1947 oleh Sekutu/NICA dan arsiteknya adalah Ir Van den Bosch.

“Monumen ini dibangun sebagai suatu kenangan terhadap korban Perang Pasifik. Baik dari pihak Sekutu, Jepang, dan rakyat semasa Perang Dunia II berlangsung tahun 1941-1945. Sayangnya monumen ini tidak sempat diresmikan, sehingga tidak ada prasasti penamaannya,” terangnya.

Catatan yang dibuat untuk menjelaskan tentang Monumen Perang Dunia II di Manado (Foto: Rikson Karundeng)

Catatan yang dibuat untuk menjelaskan tentang Monumen Perang Dunia II di Manado (Foto: Rikson Karundeng)

Penulis sejarah ini juga mengungkapkan, monumen setinggi 40 meter tersebut terdiri dari empat buah tiang penopang/penyangga dengan sebuah kubus persegi empat yang disimbolkan sebagai peti jenazah atau berisi abu jenazah korban perang dan dilengkapi dengan empat bola/roda peti jenazah.

“Monumen ini juga dimaknai sebagai simbol penyerahan arwah korban perang kepada Tuhan Yang Maha Kuasa pada kotak berbentuk kubus di puncak monumen. Empat bola roda kotak kubus di atas, disimbolkan sebagai pemisah antara makhluk mulia manusia yang mengusung dan yang diusung. Seluruh bangunan monumen terletak di atas landasan kokoh bersegi empat bertangga,” paparnya.

Monumen yang berdiri di pusat kota Manado itu cukup memberi gambaran tentang pentingnya Manado. Monumen itu juga menggambarkan tentang korban yang berjatuhan di wilayah ini ketika Perang Dunia II berkecamuk.

“Monumen ini sebagai bukti bagaimana peran dan strategisnya lokasi Manado-Minahasa pada masa Perang Pasifik. Bahkan di awal perang Dunia II, ketika serangan tentara Dai Nippon, wilayah Manado dan Minahasa menjadi penangkal atau penghambat agresi militer Jepang menuju benua Australia. Ini juga bukti bagaimana Manado menjadi korban keganasan perang itu,” kata Direktur Institut Kajian Budaya Minahasa (IKBM) ini.

Gereja Sentrum Hancur

Gedung Gereja GMIM Sentrum Manado kini telah menjadi salah satu lokasi tujuan wisata religi dan wisata sejarah yang sering dikunjungi para turis domestik maupun mancanegara. Saat berwisata di tempat ini, para turis akan mendengarkan tentang kisah ‘gereja tua’ ini dan bagaimana nasib tragisnya di masa Perang Dunia II.

Di antara sekian banyak gereja di Manado, memang ada satu gereja tua, bahkan tertua yakni Gereja Sentrum (Oude Kerk), di Jalan Yos Sudarso. Gereja ini terletak di Kelurahan Lawangirung, Kecamatan Wenang, atau berada di titik 0 (nol)­ pusat kota Manado.

“Menurut catatan sejarah, gereja ini bahkan telah ada sejak kota Manado didirikan,” kata Ivan Kaunang.

Kota Manado merupakan kota bersejarah bagi tou Minahasa. Catatan sejarah menyebutkan bahwa pemukiman pertama di Manado dimulai saat pembangunan Benteng Pertahanan VOC Belanda pada tahun 1677. Benteng bernama Fort Nieuw Amsterdam (Amsterdam Baru) yang didirikan atas prakarsa Pemerintah Hindia Belanda.

“Dahulunya benteng ini berada di belakang TKB (Taman Kesatuan Bangsa), depan Jumbo Supermarket. Benteng itu digunakan secara resmi pada tahun 1705. Saat itu diresmikan langsung oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Robertus Padtbrugge. Sayang, benteng ini hancur saat penyerangan tentara Sekutu ke Manado di tahun 1944,” tutur Kaunang.

Bersamaan dengan dimulainya pembangunan benteng, atas izin Kepala Walak Ares, Belanda mendirikan perkampungan di daerah samping benteng. Jika melihat posisi kota saat ini, kawasan perkampungan Belanda berbentuk empat persegi yang dibatasi jalan raya, mulai dari Jalan Dotu Lolong Lasut, Jalan Sarapung, Jalan Korengkeng, dan Jalan Sam Ratulangi.

“Dulu, kompleks perumahan itu disebut firkante pallen atau empat persegi. Berdiri di kawasan ini, rumah Residen Manado, rumah pejabat-pejabat Belanda dan penduduk keturunan Belanda. Gereja Sentrum Manado merupakan salah satu peninggalan zaman tersebut yang dibangun hampir bersamaan dengan Benteng Fort Amsterdam,” ungkap Kaunang.

Pada masa Jepang, gedung ‘Gereja Besar Manado’ pernah menjadi markas atau pusat MSKK  atau Manado Syuu Kiri Sutokyop Kyookai, yang dipimpin Pendeta Jepang Hamasaki.

“Tapi sayang sekali gedung Gereja Besar Manado yang begitu sarat nilai historis religius ini, pada era Perang Dunia II, hancur dibom. Sebagaimana tanda prasastinya, maka didirikan tugu yang berada di sebelah kiri bangunan gereja, yang masih berdiri kokoh dan diberi nama Tugu Perang Dunia II,” terangnya.

Pada Tahun 1952, didirikan kembali sebuah gedung gereja di lokasi tersebut. Gedung dibangun dalam bentuk permanen dan bangunannya sudah seperti sekarang ini.

“Gedung gereja yang baru ini ditahbiskan tanggal 10 Oktober 1952,” sebut Kaunang.

Ada banyak bangunan penting yang hancur oleh bom ketika tentara Sekutu melakukan pemboman di kota Manado. Di antaranya percetakan dengan mesin cetaknya yang menghasilkan berbagai media informasi penting bagi masyarakat di masa itu. Salah satunya percetakan milik PT. Crescendo (Wijdemuler). Fakta itu diungkapkan Denni Pinontoan dalam tulisan Melawan Dengan Pikiran dan Tulisan yang terbit 14 Februari 2019 di kelung.id.

Foto udara yang diambil dari pesawat pembom tentara Sekutu tahun 1946, memperlihatkan Danau Toondano dan posisi dermaga pesawat di Tasuka, Kakas. (Sumber: Australian Museum Memorial)

Foto udara yang diambil dari pesawat pembom tentara Sekutu tahun 1946, memperlihatkan Danau Toondano dan posisi dermaga pesawat di Tasuka, Kakas. (Sumber: Australian Museum Memorial)

Menggugat Amerika

Sejarawan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Fendy Parengkuan, menjelaskan fakta-fakta kehancuran Manado di masa Perang Dunia II bisa dijadikan dasar untuk melakukan gugatan terhadap Amerika Serikat.

“Banyak data yang mengungkap fakta bahwa kota Manado menjadi kota yang paling hancur terkena bom tentara Sekutu yang dimotori Amerika Serikat. Ini bisa menjadi dasar kita untuk melakukan gugatan terhadap Amerika,” tegasnya.

Ada beberapa tuntutan yang bisa disodorkan ke Amerika Serikat sebagai wujud pertanggungjawaban mereka atas penghancuran kota Manado.

“Manado dihancurkan dan Amerika harus bertanggung jawab. Sebagai pertanggungjawaban, kita bisa meminta beberapa hal seperti, berikan beasiswa S3 bagi anak-anak di Sulawesi Utara secara rutin. Misalnya 100 orang setiap tahun di Amerika,” tegasnya.

Parengkuan yakin, tuntutan ini bisa direspons positif Amerika jika ada suara bersama dari masyarakat Manado secara khusus dan masyarakat Sulawesi Utara secara umum ke Negeri Paman Sam.